Bandung Side, Kabupaten Karawang – Etika perilaku memiliki definisi yaitu ilmu yang membahas tentang perilaku adat istiadat manusia dalam pergaulan antara sesama manusia dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk.
Etika dan moral lebih kurang sama definisi nya tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan yaitu moral untuk penilaian perbuatan yang dilakukan sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.
Azhari Alirida, dosen Unsika mencontohkan, etika perilaku mencerminkan degradasi pada generasi muda misalnya mahasiswa yakni kebiasaan menyontek atau plagiarisme.
Seperti yang kita ketahui menyontek adalah salah satu hal yang bukan rahasia lagi di kalangan pelajar.
Khususnya mahasiswa dalam sisi tertentu seperti ujian akhir atau kuis menyontek sangat dilarang keras karena menggambarkan kemampuan dari seorang individu secara palsu sehingga tidak terciptanya keadilan antara mahasiswa.
“Plagiarisme juga sudah seperti halnya mencuri maka dari itu, plagiarisme sebaiknya dihindari. Sekalipun untuk tugas sedehana yang diberikan dosen,” ungkap Azhari Alirida saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Sabtu (9/10/2021) pagi.
Selain itu budaya titip absen juga menjadi degradasi dari mahasiswa yang juga tidak patut dicontoh namun sudah membudaya.
Bukan hanya kehidupan di dunia kampus saja namun degradasi dari mahasiswa itu menurunnya kepedulian diri terhadap lingkungan yang memiliki kaitan yang erat dengan kehidupan kita dan berperan sangat penting bagi kita.
Namun banyak yang tidak peduli dengan pernyataan tersebut contohnya adalah masih ada beberapa mahasiswa yang membuang sampah tidak pada tempatnya atau melakukan vandalisme.
Penyebab terjadinya degradasi ialah kurangnya efektifnya pembinaan moral, pembinaan pada hakekatnya dilaksanakan di rumah sekolah dan masyarakat guna menciptakan manusia yang bermoral.
Jika moral itu tidak terlatih orang itu tidak akan dilaksanakan ketika seseorang masuk ke dalam dunia masyarakat.
Penyebab selanjutnya adalah media informasi. Teknologi yang semakin maju mengakibatkan munculnya berbagai macam media seperti televisi, handphone, internet, dan lainnya.
“Banyak informasi yang bisa diperoleh dari media tersebut menyebabkan banyak para remaja menyalahgunakan media tersebut,” ujar Azhari Alirida.
“Gaya hidup juga mempengaruhi sebagian besar remaja yang semakin hari dalam segi nilai-nilai agama dan sosial kini menjerumuskan diri ke dalam lubang hedonisme dan konsumerisme yang kemudian melahirkan sikap-sikap dan konsep-konsep hidup yang tidak sosialis lagi,” tutup Azhari Alirida.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Sabtu (09/10/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara, Littani Wattimena (Brand & Communication Strategist), Rahmat Hidayat (Kepala Sekolah Wirasaba), Ahyani Prastika (Digital Marketer), dan Winda Ribka sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***