Tantangan Teknologi Pintar di Era digital

tantangan teknologi

Bandung Side, Kabupaten Tasikmalaya – Tantangan teknologi pintar terbesar dalam era digital saat ini adalah teknologi berkembang menjadi sangat pintar sehingga membuat informasi menjadi tidak terbatas.

Potensi informasi tidak terbatas ini sebenarnya banyak hal positif, contohnya, untuk belajar ataupun untuk menambah wawasan dan belajar skill baru.

“Misalnya skill untuk mengedit video, atau skill untuk pemrograman. beberapa orang ini menambah keahlian mereka di berbagai bidang termasuk bidang digital,” kata Alfret Nara, Praktisionis IT saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital di Kabupaten Tasikmalaya, Senin (27/9/2021).

Informasi yang luas ini juga bisa digunakan untuk mencari ilmu dan pengetahuan baru. Namun, tantangan teknologi banyak juga yang memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut untuk hal negatif, seperti membagikan informasi yang belum benar.

“Kalau secara tidak sengaja mendapat informasi lalu kita tidak tahu apakah informasi ini benar atau tidak, ada dua hal yang bisa kita lakukan,” ujar Alfret.

Pertama adalah kita diamkan informasi ini kalau belum tentu benar. Kedua kita cari kebenaran dari informasi tersebut,” kata Alfret Nara.

Menurut Alfret, sangat berbahaya jika kita membagikan informasi yang tidak benar tanpa konfirmasi kejelasan dan keabsahan informasinya.

Akibatnya yang terjadi adalah kita bisa menimbulkan kepanikan kecemasan untuk mereka yang disana.

Misalnya juga ada public figure yang menerima masalah dan akhirnya netizen Indonesia melakukan bullying atau komen negatif ke akun media sosial mereka.

“Itulah bagaimanakah ketidakterbatasan informasi itu akhirnya menjadi sampah dan racun,” kata Alfret Nara.

Jadi, menggunakan teknologi digital dengan optimal itu seharus adalah real Time collaboration.

“Khususnya yang melakukan pekerjaan secara remote atau work from home, Mereka dapat menggunakan teknologi untuk berkolaborasi meningkatkan produktivitas,” saran Alfret Nara.

Kita juga bisa menggunakan teknologi untuk mencari wawasan baru apapun itu serta membuat sesuatu yang memberikan dampak orang lain tentunya dampak positif entah itu konten, membuat fund raising atau kampanye gerakan positif.

Jejak digital itu akan selalu ada di dunia Internet oleh sebab itu ada baiknya kita setiap saat meninggalkan jejak yang baik di ruang digital.

Agar suatu saat nanti ada yang mengecek nama kita tidak ada unsur negatif di dalamnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Senin (27/9/2021) ini menghadirkan pembicara lain, Ipan Zulkifli (Ketua RTIK Kota Tasikmalaya), Gunawan Kamri (CEO PT. Kuliner Anak Indonesia), Nindy Tri Jayanti (entrepreneur) dan Deya Oktarissa sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan