Menyikapi Krisis Etika di Kehidupan Digital

Menyikapi Krisis

Bandung Side, Kabupaten Bandung – Menyikapi krisis didalam dunia digital yang tidak mengenal batasan-batasan teritorial, para pengguna tidak diharuskan untuk menunjukkan identitas aslinya.

Dalam menjalankan aktivitas para pengguna internet berasal dari berbagai benua, wilayah negara yang berbeda situasi, norma, adat, budaya, informasi tersebut hanya menekan tombol like dan share.

Seiring dengan penggunaan digital yang semakin banyak dan untuk aktivitas sehari-hari seringkali etika itu terabaikan saat di internet.

Bagaimana berinteraksi dengan sesama pengguna digital lainnya tidak mengindahkan etika, tidak menjaga privasi orang lain, membagikan informasi hoaks dan berbagai tantangan di dunia digital lainnya.

Terjadi krisis etika setiap saat, lantas bagaimana menyikapi krisis etika tersebut ?.

Psikolog Aat Indrawati Ridwan berbicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat Kamis (2/9/2021) pagi 2, etika itu sebenarnya hubungannya dengan manusia itu sendiri.

Bagaimana seharusnya manusia dapat hormat pada dirinya sendiri? Dan bagaimana dapat hormat kepada kehidupan orang lain dan sesame? Jadi dalam etika digital itu adalah bagaimana hormat, memberi penghargaan kepada diri sendiri dan orang lain.

Dalam ruang digital kita dibantu oleh teknologi sebagai alat bantu memudahkan komunikasi, memberi nilai tambah tapi pada ujungnya bagaimana kita harus membangun masyarakat yang sehat.

“Bagaimana membangun masyarakat dengan kepedulian, tanggung jawab dan kolaborasi itu yang akan membawa kita untuk menjaga kesehatan masyarakat yang sebetulnya kita sendiri yang bertanggung jawab. Kita harus mengatakan pada diri sendiri, saya yang bertanggung jawab atas lingkungan saya,” jelas Aat Indrawati Ridwan.

Untuk menghindari dampak buruk diperlukan literasi digital, kemampuan seseorang untuk menyadari tujuan kebaikan bersama perilaku seseorang yang di dunia digital maupun di luar jaringan.

Etika nomor Satu yakni kesadaran dalam diri seseorang yang memiliki kesadaran tinggi adalah orang-orang terbaik. Manusia yang mulia adalah manusia yang punya kesadaran.

Kedua, adalah mencontohkan, saya perlu berbuat apa sebagai pemberi contoh yang baik untuk menjadi panutan yang dapat diandalkan sebagai penyebab di lingkungan.
Kita sebagai sumber disitu bagaimana kita menyesuaikan harus memiliki adaptif dan fleksibel dalam menyikapi suatu masalah.

Menempatkan diri agar beretika digital sesuai aturan etika digital. Menyadari dunia digital adalah sama dengan dunia nyata sehari-hari.

Kemudian bagaimana kita harus menjadi seseorang yang selalu berpikir kritis, banyak mempertimbangkan, mengolah hal dengan wajar objektif memikirkan sebab akibat terlebih dahulu.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat Kamis (2/9/2021) pagi 2, juga menghadirkan pembicara Febriyanti Kristiani (founder @vitaminmonster), Indira Salsabila Ayuwibowo (Public speaker dan online enterpreneur), Santia Dewi (Owner @limbackstore). dan Aflahandita sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan