Bandung Side, Kabupaten Indramayu – Berbudaya digital tidak lain adalah budaya yang dibentuk oleh kemunculan dan penggunaan teknologi digital melalui bentuk cara masyarakat berinteraksi, berperilaku, berpikir, dan berkomunikasi sebagai manusia dalam lingkungan masyarakat.
Perkembangan budaya digital sangat ditentukan oleh penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Di masa kini masyarakat menggunakannya untuk hubungan pribadi, komunikasi, budaya, pekerjaan, penelitian, dan hiburan.
“Berbudaya digital di kehidupan masyarakat Indonesia ada banking, sosial media, hiburan, belanja online, transportasi online, pendidikan,” ujar Katherine, Owner dari Organicrush, Newella, dan Lopeu Indonesia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (13/9/2021).
Hampir sepertiga waktu kita dalam sehari digunakan di internet. Pada media sosial sendiri, penggunaannya selama 3 jam. Kebiasaan masyarakat sebesar 99,9 persen terbiasa menggunakan fitur pesan pada media sosial dan 94 persen pengguna aktif berkontribusi, seperti memberikan like dan komentar.
“Sosial media bisa dibilang menjadi salah satu tool atau cara untuk kita berinteraksi dengan orang lain dan memberikan informasi. Dengan itu kita harus menyatukan budaya digital dan budaya Indonesia, seperti prinsip demokrasi dan toleransi,” tutur Kathernine.
Tidak terbatasnya informasi di media sosial membuat masyarakat tidak lagi menjadi konsumen pasif. Bahkan di era ini masyarakat berperan aktif dalam membentuk, menyebarkan, bahkan mentransformasi berbagai informasi. Dengan demikian, kita pun bisa menyampaikan opini.
Namun, Kathrine mengimbau untuk tetap demokratis dalam menyampaikan opini di era digital. Jangan menjadikan dunia digital sebagai alat penyebaran hoaks dan konten negatif.
Katherine mengatakan, kita pun perlu check dan recheck ketika menerima informasi setiap harinya jangan langsung disebarkan.
Di media sosial, setiap orang memiliki opini yang berbeda. Oleh karena itu, kita harus menerapkan juga prinsip toleransi di media sosial. Selain itu, perbedaan merupakan sesuatu yang indah dan penting di dunia pluralistik untuk membangun juga memupuk persaudaraan dan persatuan.
Kita harus berdiskusi dan beropini dengan bijak agar tidak rentan terkena konten negatif atau perpecahan.
“Marilah bijak dalam menggunakan media digital. Karena membangun dengan landasan berbudaya digital bukanlah hal yang mudah, tetapi membutuhkan komitmen kuat dari masing-masing individu selaku masyarakat Indonesia,” kata Katherine.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (13/9/2021) juga menghadirkan pembicara, Akhmad Rotahan (Ketua RTIK Kabupaten Cirebon), Herman Pasha (Senior Trainer & Coach (People Development), Alfret Nars (Praktisi IT – Frankfurt University of Applied Science), dan Shinta Putri sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***