Adaptasi Bisnis ke Online, Solusi Bertahan di Masa Pandemi

adaptasi bisnis

Bandung side, Kota Bekasi – Adaptasi bisnis saat pandemi Covid-19 datang, sebagian besar bidang usaha dan UMKM begitu terdampak, hal ini disebabkan pembatasan interaksi fisik yang menyebabkan perubahan perilaku dan pola konsumsi konsumen.

Daya beli masyarakat turun, lalu bergeser ke bahan pokok dan belanja online sehingga bibutuhkan adaptasi bisnis bagi pengusaha .

Klemes Rahardja, Founder The Enterpreneur Society mengatakan pandemi Covid-19 dapat dipandang dari dua sisi.

Jika ingin menyalahkan keadaan maka semua hal akan terpusat pada keterbatasan, tambah Klemes.

Tapi di sisi lainnya sebenarnya ada banyak kesempatan yang datang dengan datangnya corona, di mana dunia seperti dipaksa melakukan percepatan dalam digitalisasi dan memanfaatkannya secara maksimal untuk kehidupan.

“Pandemi juga mengubah cara orang bekerja dan belajar, bertransaksi hingga berinteraksi. Di sinilah saatnya masyarakat dipaksa beradaptasi dan mereka yang tidak mau berubah pasti akan tertinggal,” ujar Klemes Rahardja, saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I, Kamis (23/9/2021).

Klemes mengatakan di masa seperti ini setiap orang dipaksa untuk terus berkembang. Indonesia pun dipaksa untuk melakukan percepatan dan melakukan transisi.

Dari semua tuntutan itu setiap orang harus bisa melihat peluang dari krisis yang ada dan memfokuskan dirinya pada hal positif.

Bersamaan dengan teknologi yang makin berkembang sekarang semua bisa dikerjakan lewat gawai.

Jumlah pengguna internet di Indonesia juga terus meningkat, tahun 2020 saja ada peningkatan 27 juta pengguna baru selama pandemi Covid-19 berlangsung.

Di sinilah potensi tersebut bisa dimanfaatkan karena kebanyakan dari pengguna internet di Indonesia menggunakan waktunya sebanyak 3 jam 14 menit di sosial media.

“Bicara mengenai UMKM, potensi orang yang masuk ke marketplace pun di Tokopedia yang menepati peringkat pertama saat ini ada 140 juta orang setiap bulannya,” kata Klemes.

“Jika dikatakan krisis, pada masa pandemi ini penjualan online seluruh dunia tahun 2020 ke 2021 justru angkanya naik menjadi U$D 4,479 Triliun,” sebut Klemes Rahardja.

Melalui jempol saja, para pemilik bisnis bahkan bisa membuat konten dan mempromosikannya di media sosial.

Selain itu Klemes menngingatkan bahwa saat akan memulai usaha untuk tidak berpatokan pada modal berupa uang saja.

Sebab waktu dan tenaga pun bisa disebut modal, sehingga tidak ada alasan untuk melewatkan peluang yang ada.

Webinar Literasi Digital di Kota Bekasi, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Hadir pula nara sumber seperti Iman Darmawan, seorang Fasilitator Public Speaking, Elfira Fitri, Manager External Student Affairs di Universitas Multimedia Nusantara, Nandya Satyaguna, seorang Medical Doctor.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan