Transformasi Digital Pendidikan Dibutuhkan Kesiapan

transformasi digital pendidikan

Bandung Side, Kota Bandung – Transformasi digital pendidikan dibutuhkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi agar tidak terjebak dalam hal-hal negatif saat berinteraksi bila tanpa tujuan.

Transformasi digital tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba ada persiapan serta tahapan yang harus dijalankan. Tujuannya agar transformasi digital tidak kandas di tengah jalan atau hanya memakan biaya maksimal tanpa hasil setimpal.

Khususnya transformasi digital di sektor pendidikan, Deni Sopiansyah Kepala sekolah MAN 2 Bandung menjelaskan, persiapan yang harus dilakukan adalah evaluasi institusi terkait. Harus melakukan evaluasi diri dari sisi kebutuhan tim lain dan power.

Ini bagian paling berat karena institusi harus memutuskan lanjut atau tidak. Evaluasi berkenaan dengan sejauh mana tingkat kebutuhan kedalaman program kerja SDM, perangkat kerja dan perangkat lunak.

Evaluasi SDM meliputi kemampuan dalam literasi digital. Harus betul-betul menguasai dan dilakukan evaluasi seksama jika perlu adakan identifikasi, klasifikasi terhadap semua SDM. Identifikasi dilakukan terhadap poin-poin kompetensi literasi digital.

“Kita harus tahu misalnya saya dapat sumber dari modul budaya bermedia. Bagaimana budaya digital ini harus memiliki poin kompetensi yang diidentifikasi dari setiap SDM yang terlibat,” kata Deni Sopiansyah.

Misalnya akses bagaimana mengakses kalau mengelola data informasi paham mengelola informasi komunikasi dan kolaborasi seleksi mendesain pesan lalu mengkreasikan konten.

“Ini kompetensi yang menurut saya memang harus diterapkan digali sehingga betul-betul dimiliki saat menggunakan digitalisasi,” jelas Deni Sopiansyah saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (30/8/2021).

Persiapan kedua adalah merekayasa ulang organisasi, struktur organisasi dari institusi meski ditinjau kembali apakah sudah bisa memenuhi pelaksanaan transformasi digital atau belum.

Mau tidak mau dalam e-learning itu harus ada sistem server atau sistem cloud yang bisa mencakup teknologi seperti itu. Merekayasa ini berarti sudah melaksanakan pelaksanaan transformasi digital, kalau belum kita harus kita harus menyiapkan infrastruktur nya terlebih dahulu.

Setelah merekayasa lalu mengubah semua data institusi menjadi digital Kalau di sekolah dulu ada raport kalau sekarang menggunakan kan aplikasi raport digital.

Akses ke siswa secara langsung atau ketika orang tua ketika ingin tahu bagaimana perkembangan anak secara cepat langsung terakses mengubah semua data dari analog menjadi digital.

Deni menambahkan, kelebihan transformasi digital ini wawasan dari setiap detail program akan lebih luas dan berkualitas. Karena tanpa batas kita membuka apa saja ada di sana, semua ada di mesin pencarian Google.

“Digitalisasi ini akan mudahkan dalam melakukan pengontrolan seperti absen dengan digital itu bisa dapat melihat pengontrolan terhadap pembelajaran absensi dan sebagainya,” kata Deni Sopiansyah.

“Digitalisasi juga mempermudah operasional, akan terbantu kolaborasi antara fitur seperti seni budaya agama dalam bingkai digitalisasi mampu meningkatkan produktivitas dan efektivitas kemampuan akses yang hampir tidak terbatas, pendistribusian konten juga akan sangat mudah” ungkap Deni Sopiansyah.

Kelebihan dari transformasi digital ini yang harus memang dirasakan mereka yang ada di sektor pendidikan. Namun kita juga tidak bisa terlepas dari kekurangan kelemahan transformasi digital sangat dimungkinkan dengan prioritas yang tidak sejalan antara pemangku kebijakan dengan SDM lainnya.

Ini disebabkan pemahaman akan literasi digital yang ada gap di antara keduanya, yakni pemangku kebijakan dan SDM.

Deni Sopiansyah menyebut, membiasakan budaya organisasi budaya bisa menjadi madu atau racun dalam transformasi digital budaya yang kurang efektif menjadi penentu orang-orang yang sudah lanjut.

Kekurangannya juga dikhawatirkan, kurang bisa menempatkan kapan waktunya bekerja dan bersenang-senang. Akses digital memungkinkan orang untuk bisa mengakses apapun termasuk sesuatu yang bertolak belakang dengan produktivitas kerja seperti main game menonton suatu konten.

Rentannya terhadap isu SARA ini sudah sangat umum terjadi manakala SDM belum memiliki kemampuan dalam literasi digital.

Terutama etika dalam digital maka peluang terjadinya perpecahan antarindividu dalam masyarakat menjadi besar saling menghina saling memberikan status dan saling melecehkan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (30/8/2021) juga menghadirkan pembicara Al Akbar Rahmadillah (Founder Sobat Cyber Indonesia), Ni Made Ras Amanda Dosen Universitas Udayana), Fhassi Anfiqi (Konsultan desain interior data perusahaan multinasional), dan Tanisha Zharfa sebagai Key Opinion Leader

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan