Bandung Side, Kabupaten Subang – Nilai budaya Indonesia dalam kehidupan manusia saat ini tidak lepas dari internet dan media sosial, zaman berubah sangat cepat di dunia internet ini secara penuh ketidakpastian dan kompleks.
“Menyikapi perubahannya tergantung dengan pemikiran kita. Contohnya pada pandemi bisa bad news dan good news,” ujar Bambang Iman Santoso, CEO Neuronesia Learning Center, dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (25/8/2021).
Bambang Iman Santoso mengatakan stres dapat mempengaruhi pikiran kita. Terlalu banyak stres bisa memutuskan sel-sel otak, oleh karena itu kita harus memanfaatkan perubahan yang ada dengan cara pikir era digital.
“Jadi, filosofi dalam menghadapi perubahan harus dengan pemikiran continuous improvement dengan selalu belajar lebih baik dari sebelumnya,” tutur Bambang Iman Santoso.
Perlunya budaya Indonesia dalam menyikapi suatu perubahan di era digital ini. Dengan itu, ia menyampaikan untuk memanfaatkan digital dengan sebaik-baiknya untuk memperluas jaringan dan sebagainya.
Budaya Indonesia yang perlu diterapkan dalam dunia digital yakni dengan memperkuat karakter bangsa modern, mengamalkan Pancasila, mencintai produk dalam negeri, dan memahami serta menghormati hak-hak digital.
Bambang juga mengatakan, budaya Indonesia pada awalnya sudah kompleks dan beragam. Banyaknya suku, bahasa, pulau, dan aliran kebudayaan juga budaya lainnya dari masing-masing tempat.
Digital digunakan sebagai alat yang mempermudah kehidupan kita. Akan tetapi, dalam memperkenalkan budaya keluar harus menggunakan strategi. Misalnya dengan menerapkan nilai-nilai bersama, kepercayaan, dan asumsi sebagai cara yang tepat untuk berpikir dan bertindak dalam suatu bangsa.
Di samping itu, yang bisa kita lakukan contohnya membangun budaya menulis dan membaca. Jika ini dilakukan secara rutin, maka akan membentuk suatu budaya membaca dan menulis. Di dalamnya juga bisa kita perkenalkan budaya Indonesia.
Bambang Iman Santoso mengatakan, nantinya sifat manusia di masa depan seperti imajinasi, kreativitas, intuisi, emosi, dan etika akan menjadi sesuatu yang penting dan dipertimbangkan.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (25/8/2021) pagi juga menghadirkan pembicara Ryzki Hawadi (CEO & Co-Founder Attention Indonesia), Timothy Hendrawan (Creative Director), Dedy Helsyanto (Koordinator Program Mafindo), dan Lady Kjaernett sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***