Bandung Side, Kabupaten Subang – Awas keasikan berdampak Adiksi internet merupakan salah satu gangguan kejiwaan yang ditandai dengan aktivitas yang tidak terkontrol.
Terlalu asik menggunakan perangkat dan akses internet yang mengakibatkan gangguan atau distress. Di sekeliling, hampir setiap orang menggunakan gawai, ini menjadi budaya digital yang sudah hadir di tengah masyarakat.
Tanda seperti apa jika seseorang itu kecanduan internet. Jika pikiran selalu terbayang pada internet, website yang sering dikunjungi. Adanya kebutuhan menggunakan internet dalam waktu yang panjang.
“Gelisah, emosi yang tidak stabil jika berhenti menggunakan, atau bahkan kalau ada gangguan seperti sinyal lemah atau listrik mati. Parahnya bisa sampai menghormati hubungan dengan orang-orang di dunia nyata, karier bahkan pendidikan demi internet,” kata Leni Fitriani.
“Merasa dunia hanya ada di internet bukan di dunia nyata,” ujar Leni Fitriani, Kepala Pusat Karir Institut Teknologi Garut dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis (12/8/2021).
Leni Fitriani menyebutkan faktor gender juga menentukan. Laki-laki lebih rentan menjadi pecandu game, pernah mengalami gangguan jiwa lain, sehingga akan cepat terkena candu.
Usia remaja juga rentan terlebih bagi mereka yang kekurangan dalam mengelola emosi dan tidak memiliki kepercayaan diri.
Faktor eksternal juga yang dapat mempengaruhi, seperti godaan teman sebaya, lingkungan yang memang senang mengakses intenet jadi terbawa ditambah fasilitas pendukung pun tersedia.
“Faktor lingkungan ini teman sudah pasti, apalagi keluarga seperti orangtua yang suka main game, anaknya pun akan senang,” ujar Leni Fitriani.
Leni menegaskan, bukan tidak boleh berinternet namun coba mengakses internet dengan tujuan yang positif dan produktif atau menghasilkan karya. Seperti apa produktif itu, yakni yang selalu ingin menambah skill digital.
Hal ini dapat digunakan untuk bekerja karena skill digital sangat dibutuhkan banyak perusahaan.
“Update pengetahuan dengan terus menambah wawasan soal literasi digital, mencari peluang bisnis era digital mulai dari membuka toko online, ghost kitchen terakhir produktif di dunia digital dengan bergabung di komunitas dan forum,” pungkas Leni Fitriani.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis (12/8/2021) juga menghadirkan pembicara Ryzki Hawadi (CEO Attention Indonesia), Tetty Kadi (Artis senior), Aidil Wicaksono ( Podcaster, Digital Trainer), dan Inayah Chairunissa sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***