Resiko Digitalisasi, Masyarakat Terpapar Berita Hoaks

Resiko Digitalisasi, Masyarakat Rawan Terpapar Berita Hoaks

Bandung Side, Kota Tasikmalaya – Resiko digitalisasi di era teknologi dan internet yang serba cepat sepeti sekarang setiap orang dengan mudah dan cepat mendapatkan begitu banyak informasi.

Namun sayangnya tak semua informasi yang beredar benar, di antaranya terdapat hoaks atau berita bohong di masyarakat terutama sejak pandemi ada begitu banyak hoaks seputar isu kesehatan.

Bahkan Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah menurunkan 1758 hoaks seputar vaksin yang tersebar di banyak platform.

Resiko digitalisasi paling banyak penyebaran hoaks terdapat di Facebook, twitter, YouTube, hingga TikTok.

“Ancaman paling sering di era digital lainnya adalah hate comment, bahkan Microsoft mengeluarkan laporan tahunan terbaru yang antara lain mengukur tingkat kesopanan netizen atau pengguna internet dengan tajuk 2020 Digital Civility Index (DCI),” ujar Aisyah Kamalia, Jurnalis Detik.com saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin, (19/7/2021).

Netizen Indonesia termasuk yang diteliti dan menempati ranking bawah yang merupakan tamparan keras bahwa interaksi sosial di era digital diwarnai dengan hal buruk, imbuh Aisyah.

Resiko terbesar netizen Indonesia adalah paparan hoaks dan penipuan naik sekitar 13%, ujaran kebencian naik 5%, namun kabar baiknya diskriminasi turun 2%.

Namun Indonesia masuk dalam sepuluh besar negara paling dermawan, bahkan di e-commerce bisa dilakukan penyaluran dana dari netizen.

Bahkan Tokopedia Salam selama Ramadan lalu melaporkan terjadi peningkatan zakat maal hingga tiga kali lipat yang jumlahnya mencapai lebih dari Rp3 miliar.

“Interaksi sosial di dunia digital memang mengalami perubahan, tapi ini jadi pilihan kita semua. Mau digunakan untuk hal yang bermanfaat atau tidak,” tutur Aisyah.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Fuza Subakti, seorang Agripreneur, Ari Farizal, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Siliwangi, dan Asep Hardiyanto, Dosen Fakultas Teknik UNIS.

Kegiatan yang merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.***

loading...
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan