Digitalisasi Mengubah Kehidupan Menjadi Lebih Mudah

Digitalisasi Mengubah Kehidupan Menjadi Lebih Mudah

Bandung Side, Kota Bekasi – Digitalisasi mengubah kehidupan di masa pandemi mengubah dan menciptakan revolusi yang masif terhadap seluruh masyarakat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga dunia.

Mengerjakan segala sesuatunya saat ini memanfaatkan internet dan perangkat digital untuk sekolah, bekerja, dan berbisnis.

Data We Are Social menyatakan terdapat 175 juta kehidupan penduduk Indonesia telah menggunakan internet, di antaranya terdapat 160 juta yang membuka dan beraktivitas digitalisasi di media sosial.

“Kita sudah merasakan bahwa transformasi digital di Indonesia mengalami percepatan akselerasi selama pandemi sehingga merevolusi cara masyarakat berinteraksi sosial,” ujar Dee Rahma, Digital Marketing Strategist, selaku pembicara dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (19/7/2021).

Bahkan digitalisasi kehidupan, ini didukung dengan adanya revolusi industri 4.0. Dengan itu, terdapat perubahan skill dalam pekerjaan seiring berkembangnya zaman, imbuh Dee.

Dee Rahma juga menjelaskan, fenomena yang terjadi yaitu adanya revolusi masif perubahan interaksi sosial di era digital.

Perubahannya dimulai dari transaksi digital menggunakan e-banking atau e-wallet. Kemudian, ada interaksi sosial secara virtual menggunakan berbagai platform.
Seperti saat ini, komunikasi menggunakan Zoom. Selanjutnya, muncul telemedicine untuk konsultasi kesehatan dan mengirim resep dengan aplikasi. Dengan itu, kita tidak perlu pergi ke rumah sakit.

Lanjutnya, belajar online, kursus, kuliah dilakukan secara daring. Bekerja secara remote dan tidak pergi ke kantor setiap hari saat ini telah menjadi kebiasaan.

Wifi atau akses internet yang menjadi kebutuhan untuk merasakan sebuah revolusi yang masif.

“Kita sudah tahu mengenai peluangnya, perubahannya. Lalu mindset dibutuhkan untuk menyambut perubahan sekaligus beradaptasi terhadap budaya digital,” ucap Dee.

Mindset tersebut di antaranya, memahami bahwa informasi di masa kini makin terbuka, terbuka dengan perubahan dan keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata.

“Selanjutnya, rajin beradaptasi yang dapat dilakukan dengan menambah skill baru sesuai kebutuhan dunia industri era digital. Kemudian, melakukan hal agar bisa lebih produktif dengan adanya budaya digital baru,” papar Dee Rahma.

Dee kembali mengatakan, dampak negatif kehidupan era digital meliputi FOMO, insecure, penurunan kualitas hubungan, dan timbul risiko kejahatan siber.
Interaksi digital tidak berbeda dengan interaksi non-digital, di mana setiap orang harus menerapkan etika.

Untuk mengurangi danpak negatif, Rahma menyampaikan selaku pengguna digital kita harus membangun budaya positif di media digital.

Sebagai pengguna kita dapat menerapkan nilai Bhinneka Tunggal Ika sebagai karakter dasar Indonesia, dengan menerapkan ini kita menjadi terbiasa untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.

Selain itu, sebagai individu kita jadi memiliki pendirian yang kuat dan tidak mudah terbawa arus seperti hoaks dan sebagainya.

Apabila sudah mengetahui dampak positif dan negatifnya, Kita bisa memilih untuk melakukan hal positif dengan menyebarkan keberagaman indonesia melalui media sosial, tujuannya untuk mengenal kultur satu sama lain.

Selain itu, kita memiliki kemampuan berpikir kritis dalam berinteraksi digital, tidak menyebarkan hoaks, berinteraksi digital sesuai dengan bidang yang kita minati, sukai, dan kuasai.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat juga menghadirkan pembicara, Syarief Hidayatulloh (Digital Strategist Hello Monday Morning), Elgea Balzarie (Art, Social, & Mental Health Enthusiast), Yayu Nurhasanah (Founder Swara Saudari), dan Ayu Imanda.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.
Kegiatan yang menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

loading...
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan