Netizen Indonesia Tidak Sopan, Tapi Paling Dermawan

Netizen Indonesia

Bandung Side, Kota Depok – Netizen Indonesia dalam interaksi sosial yang merupakan hubungan dinamis yang mempertemukan orang dengan orang, kelompok dengan kelompok maupun orang dengan kelompok manusia.

Misalnya berupa jabat tangan dan saling berbicara maupun berkelahi.

Menurut ahli sosiologi Soerjono Soekanto, terdapat beberapa faktor yang mendasari interaksi sosial.

Seperti meniru, sugesti, identifikasi, simpati, empati, dan motivasi. Namun interaksi sosial di era digital menjadi berbeda, bagaimana pemilik medsos membuat interaksi sosial menjadi lebih nyata seperti tombol likes yang menunjukan tertaik atau apresiasi.

“Interaksi sosial di era digital semakin luas manfaatnya bukan sekadar telepon doang, seperti sekarang meeting sudah berpindah ke online, atau yang sedang berkembang seperti telemedicine atau pengobatan jarak jauh dan yang paling relevan sekarang pemakaian google class room untuk pembelajaran jarak jauh,” kata Aisyah Kamalia, Jurnalis Detik.com saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat, Senin, (5/7/2021).

Lebih jauh Aisyah mengatakan interaksi sosial akhirnya juga dipakai untuk kepentingan bisnis, misalnya pengguna yang saling chat dengan pembeli di situs e-commerce dan juga pemakaian e-wallet yang makin masif.

Selanjutnya perubahan interaksi sosial bisa dikarenakan keterbukaan informasi dengan banyaknya aplikasi yang membantu masyarakat untuk saling terhubung dengan instansi pemerintah lewat sentuhan aplikasi.

“Sayangnya keterbukaan informasi bukan hanya mendorong kemudahan dalam berinteraksi. Makin banyak aplikasi media sosial ternyata membuat ancaman tersebarnya informasi hoaks,” ujar Aisyah Kamalia.

Di era sekarang bahkan Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah menurunkan 1758 hoaks seputar vaksin yang tersebar di banyak platform.

Paling banyak penyebaran hoaks terdapat di Facebook, twitter, YouTube, hingga TikTok. Ancaman paling sering di era digital lainnya adalah hate comment, bahkan Microsoft mengeluarkan laporan tahunan terbaru yang antara lain mengukur tingkat kesopanan netizen atau pengguna internet dengan tajuk 2020 Digital Civility Index (DCI).

Netizen Indonesia termasuk yang diteliti dan menempati ranking bawah yang merupakan tamparan keras bahwa interaksi sosial di era digital diwarnai dengan hal buruk.

Resiko terbesar netizen Indonesia adalah hoaks dan penipuan naik sekitar 13%, ujaran kebencian naik 5%, namun kabar baiknya diskriminasi turun 2%.

Namun Indonesia masuk dalam sepuluh besar negara paling dermawan, bahkan di e-commerce bisa dilakukan penyaluran dana dari netizen.

Bahkan Tokopedia Salam selama Ramadan lalu melaporkan terjadi peningkatan zakat maal hingga tiga kali lipat yang jumlahnya mencapai lebih dari Rp3 miliar.

“Interaksi sosial di dunia digital memang mengalami perubahan, tapi ini jadi pilihan kita semua. Mau digunakan untuk hal yang bermanfaat atau tidak,” tutur Aisyah.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Depok, Jawa Barat merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Dee Rahma seorang Digital Marketing Strategic, Roky R Tampubolon seorang Praktisi Hukum, dan Rino Kapodri Teknik Informatika Universita Buddhi Dharma.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan