Bandung Side, Kabupaten Bogor – Dampak berita palsu di era digitalisasi begitu mudah menyebar, mulai dari isu kesehatan, politik, sara, teknologi, hingga sosial terus bermunculan.
Masyarakat pun perlu mengidentifikasi ciri-ciri berita palsu agar terhindar dari hoaks yang bisa merugikan dan menimbulkan salah penerimaan informasi.
Ciri-ciri berita palsu dapat diketahui dari isi pesan yang terasa janggal dan biasanya membuat pembacanya menjadi panik serta cemas.
Distribusi berita disebarkan lewat email dan media sosial agar jangkauannya luas, selain itu ada anjuran untuk menyebarkannya dan identitas pengirim biasanya tidak diketahui.
Dampak dari beredarnya berita palsu sangat membuat situasi menjadi timbul kegaduhan, pertengkaran, pembodohan dan adanya perubahan sosial bila masyarakat sampai percaya dengan berita palsu yang beredar.
Terjadi pada saat ini banyak berita palsu tentang vitamin, susu, yang saat ini membuat langka membuat masyarakat gaduh.
“Kemarin saya mendapat berita tentang vaksinasi menjadi awal masyarakat terkena Covid. Makanya di sini pembodohan terhadap masyarakat luas,” kata Fathin Robbani Sukmana, dari Lapsi Pimpinan Pusat IPM Penulis saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, Senin (5/7/2021).
Namun memang ada beberapa alasan mengapa hoaks atau berita palsu masih dikonsumsi masyarakat. Di antaranya karena malas membaca artikel secara utuh, akibat psikologis atau mentalitas dari kecemasan secara berlebihan dan mudah percaya.
Alasan lainnya karena adanya fanatisme yakni membela sesuatu atau segolongan secara berlebihan, dan karena penggunaan internet yang cukup lama per hari bagi setiap orang.
Serta jumlah pengguna gawai yang besar yaitu 338,2 juta lebih besar dari penduduk Indonesia yang 272,1 juta jiwa.
“Kecurigaannya memang ternyata ada produksi berita hoaks di masyarakat,” kata Fathin.
Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.
Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Klemes Rahardja Founder The Enterpreneur Society, Diena Haryana Founder SEJIWA, dan Kalarensi Naibaho Koordinator Layanan Perustakaan UI.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.
Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***