Bagaimana Otak Anak Jika Terpapar Pornografi

Bagaimana Otak Anak Terpapar dan Kecanduan Pornografi

Bandung Side, Kota Depok  – Otak anak berdampak bila terpapar pornografi jika perubahan gaya hidup saat masa pandemi membuat peningkatan penggunaan intenet pada anak.

Sebagai informasi tak terbatas, apa yang ada di internet tak semua sesuai untuk usia anak misalnya berupa tayangan kekerasan hingga pornografi yang dapat menggangu perkembangan dan merusak otak.

“Perkembangan mental dan tubuh mereka biasanya akan terganggu. Konsentrasi, kemampuan mereka di sekolah akan menurun dan pertumbuhan terganggu karena biasanya anak-anak ini males, banyak diam, obesitas, dan tulang punggungnya cenderung bongkok,” kata Nandya Satyaguna, seorang medical doctor saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat I Selasa (13/7/2021).

Salah satu bahaya internet yang dikhawatirkan pada anak adalah pornografi di ranah digital.

Data paparan pornografi pada anak Indonesia pada Juni 2018 melalui skrining Kementerian Kesehatan mengenai adikasi pornografi pada siswa SMP dan SMA sebanyak 1314 responden di kota besar yakni 98,3% telah terpapar pornografi.

Tingkat kecanduan pornografi dimulai dari durasi 1-2 kali setahun, lebih dari 6 kali, sebulan sekali, setiap minggu, setiap hari hingga menggangu keseharian, dan yang paling teratas sudah tidak berdaya dan putus asa jika tidak melihat pornografi.

“Pengaruh pornografi ke anak ini memengaruhi otak yaitu fungsi Pre Frontal Cortex yang membedakan antara otak manusia dengan otak hewan dalam menata emosi, konsentrasi, pemahaman, empati, berpikir kritis, membuat rencana masa depan, membentuk kepribadian dan berperilaku sosial,” ujar Nandya Satyaguna.

Nandya mengatakan pengaruh pornografi pada anak yang baru pertama kali melihat mengacu pada sistem limbik yang ada di otak kecil untuk pertahanan.

Nah, saat terpapar pornografi akan muncul dopamin dengan perasaan senang yang menyebabkan kecanduan pornografi.

Akan tetapi dopamin juga akan menekan prefrontal cortex yang fungsinya untuk menata emosi, konsentrasi dan yang sudah disebutkan tadi tidak bekerja.

“Penurunan fungsi pre frontal cortex ini akan membuat anak mudah berbohong, harga diri dan konsep diri menurun, merasa depresi, sulit konsentrasi dan sulit berpikir, sulit menahan diri dan sulit bersosialisasi yang berujung pada penyimpangan seksual dan seks bebas,” ujar Nandya.

Mengatasi hal itu perlu adanya peran orang tua untuk pencegahan anak terpapar pornografi. Orang tua perlu punya hubungan yang baik dengan anak, dengan komunikasi dan kasih sayang yang menumbuhkan kepercayaan.

Orang tua juga perlu memberikan pendidikan seksual sejak dini pada anak, memberikan pengertian tentang konsep internet sehat pada anak, dan menerapkan parental kontrol agar anak aman saat menggunakan perangkat.

Webinar Literasi Digital Kota Depok, Jawa Barat merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Hadir pula nara sumber seperti Klemes Rahardja, Founder The Enterpreneur Society, Adi Permana, Guru SMAN 70 Jakarta, dan Rino, Kaprodi Teknik Informatika Universitas Buddhi Dharma.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan