Setiap Garis Ada Harapan dan Do’a

Setiap Garis

Bandung Side, Desa Cipinang – Setiap garis pensil warna bagi Wandi mengisyaratkan harapan dan do’a pada karya yang dituangkan dalam hamparan kertas gambar, Sabtu (29/5/2021).

Wandi, penyandang disabilitas dengan hambatan Cerebral Palsy (*kelumpuhan otak-red) memiliki prestasi karya gambarnya menjadi salah satu merchandise yg ada di @craftbilitas.

Wadah media sosial @craftbilitas adalah tempat yang digunakan komunitas Bumi Disabilitas yang didirikan oleh Yuni Widiawati mengaplikasikan karya anak penyandang disabilitas kedalam bentuk boneka tedy bear, tas pundak dan tas punggung, kaos, tambler, gantungan kunci, kaos untuk dapat dijual sebagai sarana mengumpul dana guna menjalankan program.

Setiap Garis
Setiap Garis Ada Harapan dan Do’a bagi Wandi anak penyandang disabilitas yang suka menggambar kartun Spongebob, Sabtu (29/5/2021)

Wandi suka sekali menggambar, menceritakan sesuatu yang lucu, tokoh kartun yang lucu, super hero, binatang dan lain-lain.

Cerita berimajinasi didapat Wandi dari seringnya menonton film kartun di televisi bersama adiknya dan film yang sering ditonton adalah spongebob.

Wandi adalah salah satu dari 50 anak disabilitas yang tersebar di Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung mendapatkan pendampingan dari Save The Children dalam program Save Our Education.

Save The Children bekerjasama dengan komunitas Bumi Disabilitas yang didirikan oleh Yuni Widiawati seorang bidan yang tinggal di Desa Cipinang, Cimaung, Kabupaten Bandung.

Setiap Garis
Karya Wandi anak penyandang disabilitas diaplikasikan dalam bentuk kaos dan tambler oleh komunitas Bumi Disabilitas. Setiap Garis yang dicoretkan Wandi Ada Harapan dan Do’a, Sabtu (29/5/2021)

Kecamatan Cimaung memiliki 10 Desa diantaranya, Campakamulya, Cikalong, Cimaung, Cipinang, Jagabaya, Malasari, Mekarsari, Pasirhuni, Sukamaju, Warjabakti dalam catatan Bumi Disabilitas terdapat 50 lebih anak penyandang disabilitas.

Program Save Our Education digelar di Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung untuk menyerukan mengenai kondisi & tantangan yang dihadapi anak penyandang disabilitas dalam pendidikan baik sebelum dan selama pandemi.

Melibatkan 80 relawan atau volunteer mendampingi anak penyandang disabilitas memberikan edukasi, berkomunikasi, bermain dengan media menggambar.

Melalui sarana menggambar, anak penyandang disabilitas mencurahkan seluruh imajinasi tentang apa yang ada di “dunia” nya, baik itu harapan dan do’a apa yang dikumandangkan seandainya mereka bisa menvisualkan layaknya anak normal.

Di masa Pandemi Covid-19, anak penyandang disabilitas menjadi bagian dari yang terdampak bahkan menjadi kelompok yang termarjinalkan dan terstigmasi dari keseluruhan kebijakan pemerintah.

Setiap Garis
Tanda telapak tangan sebagai siimbol dukungan bagi anak penyandang disabilitas dalam kegiatan Save Our Education yang digelar oleh Save The Children bersama komunitas Save The Children, Sabtu (29/5/2021)

Upaya sosialisasi dalam usaha pencegahan yaitu seperti sering mencuci tangan dengan sabun, mengatur jarak satu meter dengan orang yang batuk atau bersin.

Menghindari menyentuh muka, menutup mulut ketika batuk atau bersin, tinggal di rumah apabila tidak merasa enak badan akan sulit dilakukan.

Menghindari aktivitas yang dapat melemahkan paru-paru seperti merokok, mempraktikan pembatasan secara fisik dengan menjauhi kepergian yang tidak begitu penting dan menjauh dari kerumunan orang semakin menyulitkan anak disabilitas menerima, bahkan mereka berada pada kondisi berbahaya yang serius untuk dapat terinfeksi dan meninggal akibat virus corona yang terus menyebar.

Hal tersebut dikarenakan anak penyandang disabilitas tidak bisa mandiri dan selalu membutuhkan pelayanan pendamping, akan tetapi pihak pendamping pun tidak memiliki akses layanan kesehatan.

Setiap Garis
Program Save Our Education salah satu kegiatan pendampingan dalam belajar untuk anak penyandang disabilitas dari Save The Children bekerjasama dengan komunitas Bumi Disabilitas

Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Tahun 2018 menyebutkan bahwa data penyandang disabilitas terbagi berdasarkan kelompok usia, yakni terdapat 5% penyandang disabilitas sedang dan berat dari total populasi yakni 1.150.173 jiwa (usia 2-6 tahun) dan 2% yakni 1.327.688 jiwa, dan terdapat hampir 140.000 anak penyandang disabilitas usia 7-18 tahun yang tidak bersekolah.

Save Our Education bagi anak penyandang disabilitas guna meminimalisir risiko yang terjadi di bidang pendidikan masa pandemi membatasi akses pendidikan.

Diantaranya, Sekolah Luar Biasa (SLB) tidak memiliki sarana pembelajaran daring maupun jarak jauh sehingga meniadakan proses pembelajaran.

Kondisi tersebut mengakibatkan anak penyandang disabilitas putus sekolah saat belajar maupun tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya, karena akses platform pembelajaran secara daring menjadi kendala yang serius karena tidak semua anak penyandang disabilitas bisa mengaksesnya.

Save Our Education menjadi solusi dalam masa pandemi, sebagai momen yang tepat tepat bagi para orangtua untuk dapat mengalokasikan waktu dan dedikasinya lebih banyak untuk mendampingi anak-anaknya di rumah.

Setiap Garis
Mengabadikan foto bersama anak penyandang disabilitas dalam kegiatan Save Our Education, Sabtu (29/5/2021).

Khususnya bagi anak penyandang disabilitas untuk dapat lebih dekat, mempelajari lebih banyak keterampilan kecakapan hidup dicurahkan sepenuhnya dengan didampingi orang tua.

Orang tua perlu memahami bahwa anak dengan penyandang disabilitas (termasuk mereka dengan disabilitas intelektual) harus dilibatkan dalam bersosialisasi dengan masyarakat, karena mereka juga membutuhkan teman, berinteraksi dan bergaul.

Ini menjadi tanggung jawab bersama, agar kita bergandeng tangan mengetahui bagaimana agar anak yang memiliki keistimewaan tersebut bisa diterima dengan baik di lingkungan masyarakat.

Anak penyandang disabilitas bisa berbaur dengan baik di lingkungannya, bisa mandiri serta diharapkan dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Seperti harapan dan do’a Wandi dalam setiap garis coretan saat mengapresiasikan imajinasi dalam kertas gambar, agar dapat sampai pesannya pada dunia bahwa Wandi bisa jadi teman siapa saja.***

loading...
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan