Bandung Side, Dago Pakar – The Turn of The Fifth Age membuka mata untuk kepunahan diri sendiri mengalir dengan keragaman metoda dan cara mengimajinasi masa depan dalam karya instalasi.
Hal tersebut merupakan pertimbangan ulang mengkontruksi kehadiran teknologi dan kapitalis yang mengispirasi pameran yang bertajuk “The Turn of The Fifth Age”.
The Turn of The Fifth Age terselenggara akibat kerja bareng antara Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) Bandung dengan Taipei Contemporary Art Center (TCAC), Taipe, Taiwan.
Karya seni dari seniman dua negara menjadi sebuah program pameran yang berpijak pada rangkaian diskusi, korespondensi panjang antara Taipei dan Bandung sejak tahun 2019.
Proses panjang melalui masa pandemi Covid-19, memunculkan kesadaran bahwa situasi yang dialami bersama saat mengembangkan karya untuk dipamerkan, bersesuaian dengan esai Margaret Atwood berjudul “Time Capsule Found on the Dead Planet”.
Esai karya Margaret Atwood bercerita Tentang Penemuan Kapsul Waktu di Sebuah Planet yang Mati, ditulis untuk Jurnal The Guardian sebagai bentuk dukungan 10:10, kampanye perubahan iklim sebelum diselenggarakan Konferensi Perubahan Iklim di Copenhagen 2009.

Margaret Atwood pada esai tersebut memaparkan 4 babak yang menyimbolkan perubahan gradual dari peradaban. Babak ke 5 adalah dunia pasca kemusnahan apokaliptik dapat tersingkap.
Margaret Atwood easy yang lahir 18 November 1939 di Canada, mendeskripsikan ada 5 babak dalam perkembangan peradaban manusia.
Babak pertama, Manusia menciptakan Tuhan, yakni manusia menciptakan pengetahuan tentang Tuhan, bukan menciptakan dzat Tuhannya.
Babak kedua, Manusia menciptakan Uang, babak ketiga Manusia Menuhankan Uang, babak keempat Uang menciptakan Gurun, maknanya kapitalisme berdampak kerusakan lingkungan.
Babak kelima Manusia Membayar Harga dari Peradaban modern ini dengan Kepunahan, inilah alasan dari pemilihan judul pameran The Turn of the Fifth Age.
Tema yang diusung merupakan alternatif yang mempertontonkan bahwa melalui pameran seni instalasi menjadi media berimajinasi seniman tentang masa depan di Selasar Sunaryo Art Space jl.Bukit Pakar Timur No.100, Bandung pada 26 Februari – 28 Maret 2021.

Solusi dengan Berimajinasi tentang Masa Depan
Selasar Sunaryo Art Space melalui program dan kegiatan seni rupa kontemporer yang berorientasi pada edukasi publik menggelar pameran dengan kurator Heru Hikayat (Indonesia/ID), Esther Lu (Taiwan/TW), Shih-Yu Hsu (Taiwan/TW).
Diikuti oleh seniman dua negara diantaranya Andrita Yuniza (ID), Bakudapan (ID), Tzu-Huan Lin (TW), lololol (TW), Natasha Tontey (ID), Riar Rizaldi (ID), Sorawit Songsataya (NZ), Yu-Hsin Su (TW), Tromarama (ID), Yahui Wang (TW), Chi-Yu Wu (TW).
Membuka sajian pameran dengan ilustrasi piramida, The Turn to The Fifth Age, kurator Heru Hikayat menarik benang merah saat sebelum pandemi, sudah banyak bencana yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan menyebabkan perubahan iklim karena eksploitasi kekayaan alam.
“Manusia terlalu mengeksploitasi alam, merambah alam hingga kerusakan ada dimana-mana disetiap bagian bumi ini,” kata Heru Hikayat.
Pameran The Turn of The Fifth Age ini ide dasarnya dalam rangka menyambut babak baru, yakni dunia dimasa pandemi apa kah bisa kita berspekulasi dengan berimajinasi terhadap masa depan kita, lanjut Heru.
Kembali pada isu perubahan iklim, bila tidak ada etika baik diseluruh negara di planet dibumi ini, kita akan menuju kehancuran.
“Alam ini akan semakin rusak dan makin tidak seimbang, bahkan keberadaan manusia sendiri akan menjadi punah, seperti dinosaurus,” ungkap Heru.
Perlu aksi bersama misalnya daur ulang, pengurangan sampah, mengelola limbah dan lain-lain sebagainya. Sehingga seniman diajak untuk berspekulasi melalui karya seni apakah bisa kita merubah masa depan ?.

Membuka Mata di Ruang B Selasar Sunaryo
Seniman Indonesia, NATASHA TONTEY membuat karya instalasi video berupa cerita tentang kecoa, hewan yang menjijikan,
Dalam narasi video yang dibuattnya, ketika berkarya membuat novel, membuat film, hingga apa pun aktifitasnya berhubungan dengan kecoa disajikan dalam data ilmiah, ternyata ada imajinasi.
Kenapa kecoa, karena kecoa sudah terbukti selamat dari kepunahan masal, sehingga di babak ke lima ini kecoa tetap ada, donosaurus tidak selamat tapi kecoa selamat dari kepunahan.
Jadi berbicara tentang ketahanan dari ancaman kepunahan mungkin kita harus belajar dari kecoa yang menjijikan tersebut.
Dari tampilan yang menjijikan, disingkirkan dari peradaban, tapi bisa bertahan dikepunahan setiap peradaban. Terbersit dalam angan, bumi dirubah menjadi sarang kecoa.

Karya ABSHAR PLATISZA, senian Indonesia menampilkan ‘Fragmen Teritorial’ karya eksperimen yang belum selesai, yakni sebuah mesin terdapat tabung yang berisi lumpur diupayakan melalui proses mekanik dapat menghasilkan listrik.
Pada intinya karya ini dapat menghasilkan sumber energi alternatif yang berasal dari tanah lumpur yang mengandung polusi, polutan, limbah sehingga menjadi energi kinetik dapat menggerakkan mesin.
Dari kaca mata ilmiah, mesin eksperimen ini belum selesai, tenaga listrik yang dihasilkan belum mandiri menghasilkan listrik masih dibutuhkan listrik secara konvensional dalam menggerakkannya.
Sedangkan dari kaca mata seni, kita dapat berimajinasi bahwa perlunya sumber energi alternatif yang selama ini terhubung dengan polusi, polutan dan limbah yang dihasilkan oleh peradaban.
Fenomena polusi, polutan dan limbah bisa menjadi solusi dalam kebutuhan sumber energi sebagai imajinasi alternatif.
LIN TZUHUAN, seniman Taiwan, memprediksi dari dampak perubahan iklim ekstrem negara Eutopia dalam ‘Vision of Tommorow Today’.
Eutopia merupakan negara dalam keadaan yang ideal, sering kali kita melakukan sesuatu demi keamanan dan kenyamanan hidupnya melindungi diri disimbolkan dengan pagar.
Memvisualkan video dalam kehidupan yang dihalangi oleh pagar, kehidupan dimasa depan akan lebih baik atau berlomba-lomba menciptakan pagar pada diri sendiri untuk melindungi diri dari kepunahan.
SU YU HSIN seniman Taiwan, mengalami alam dalam ruang dan waktu yang berbeda. Perubahan siang dan malam tidak ada bedanya tapi kita tidak kemana-mana karena dalam titik poros tertentu dari bumi ini.
Imajinasi yang ditawarkan bahwa manusia tidak berbuat apa-apa, sementara alam sudah berubah berkali-kali seakan tertinggal jaman.

TROMARAMA menghadirkan instrumen warna dari citra lautan yang selalu berubah karena mereka selalu menyesuaikan warna sensitif dimata seekor penguin.
Warna biru, hijau dan ungu selalu dominan, jadi mungkin seperti ini penguin memandang lautan, yang jelas berbeda dengan mata kita.
Ide seniman asal Indonesia ini saat mereka makan disalah satu restauran di Jakarta, dihadirkan penguin dan video tentang laut.
Sesuatu yang aneh bila di Jakarta dihadirkan penguin yang berada dalam kandang. Bila berkenan dibalik kondisinya, penguin yang ada diruang hidup kita, sedangkan kita ada dikandang melihat laut dengan kaca mata penguin.
Sedangkan gelombang yang digambarkan berdasarkan data-data yang terkumpul dari ramalan cuaca, nyambung dengan data lain masuk secara live atau streaming yakni data kelembaban, curah hujan bisa berubah-ubah saat pagi, siang dan malam.
Saat pagi gelombang dan warna bisa memperlihatkan tenang, jadi tidak selalu bergelombang terus sehingga tidak beraturan.
Cara pandang imajinasi yang berbeda, menjadi bagian lain dari kehidupan membuat manusia dapat bertahan dari kepunahan, sekiranya begitu pesan yang ditangkap.

Imajinasi Unik di Bale Tonggo Selasar Sunaryo
YA-HUI WANG, seniman Taiwan menyajikan karya video instalasi yang unik. Video tersebut merespon ruangan di Bale Tonggo, ada objek yakni pot bunga ada dinding, seakan mempresentasikan ruangan Balai Tonggo.
Ada orbit sinar matahari, seakan kita berada didalam ruangan yang ada jendelanya dengan disinari matahari yang setiap detiknya akan berubah sinarannya.
Video instalasi tersebut hasil rekayasa yang mencerminkan kondisi ruang Bale Tonggo mengimajinasikan perubahan alam yang pasti terjadi.
Seniman Taiwan, WU CHI-YU menampikan karya instalasi video dokumenter tentang artefak atau jejak peradaban yang ada di Sulawesi dan Sumatera.
Video koleksi pribadi menceritakan tentang lukisan pada goa manusia purba, lukisan yang mengandung cerita tentang kondisi keseharian mereka saat itu atau cara bertahan hidup dan lain-lain.
Ternyata lukisan dinding goa tersebut ceritanya sangat relevan dengan kondisi sekarang. Tidak jauh perbedaannya cerita kondisi dahulu dengan sekarang selalu berulang.
Mungkin bedanya saat kini lebih fleksibel, dengan adanya teknologi.

BAKUDAPAN, seniman Indonesia melakukan research studi grup dibeberapa negara disaat pandemi akan ketersediaan bahan pangan menampilkan ‘Re-plating Mooi Indie.
Di Indonesia Bakudapan juga melakukan research pandemi 2020 awal, sepertinya saat pandemi kita masih ada bahan pangan yang aman persediaan serta sumber daya lainnya, padahal tidak tersedia.
Setelah research bahwa bahan pangan di Indonesia hanya bisa bertahan dalam kurun waktu hitungan bulan saja realitanya.
Jadi ketika kita akan mengalami krisis ekonomi yang luar biasa nanti atau suatu saat akan menjadi suatu hal yang krusial dan beresiko tinggi juga bila tidak terfikirkan mulai sekarang.
Ilustrasi gambar foto Jagung, tempe, kentang, brokoli, kacang hijau, ikan teri, jamur mempresentasikan makanan pokok yang tersedia di Indonesia disusun seperti kondisi Indonesia, seperti lautan, daratan, pegunungan.
Kepedulian kepada sumber pangan yang serba import, padahal Indonesia pernah menjadi produsen pangan untuk dunia.
ANDRITA YUNIZA, seniman Indonesia mengusung ‘Mooi Indie 21st Century’ instalasi sampel air yang di visualkan menggunakan resin dengan dibentuk bola agar mudah dilihat. Keaneka ragaman warna pada bola-bola menunjukkan tingkat kecemaran air tersebut, mulai dari hitam, biru, merah, bening, hijau.
Sedangkan nomerator disamping bola sampel air menunjukkan titik angka koordinat sampel air diambil dari wilayah yang dialiri Sungai Citarum dan Sungai Citarik.
Pengambilan sampel air dilakukan pada tahun 2018 diantaranya di daerah Cigondewa, Cijerah, Baleendah dan lain-lain baik di sungai maupun di area persawahan yang menunjukkan karakter pencemaran yang berbeda tingkatannya.
Bandung sebagai pusat industri teksil yang termasuk besar juga di Indonesia, ternyata membawa dampak pencemaran lingkungan yang cukup besar impact nya bagi kelangsungan kehidupan.
LOLOLOL, group exibhition asal Taiwan, instalasi kain screen sebagai layar video, dapat dipresentasikan bahwa selama pandemi ini kita berbicara tentang interaksi dengan layar terus-menerus.
Tatap muka dengan sesama manusia secara langsung sudah jarang sekali. Hal tersebut dikarenakan kebijakan pemerintah yang mengharuskan membatasi aktifitas diluar rumah.
Dihadapan layar kita bisa traveling kesana-kemari sementara kita tidak kemana-mana hanya duduk dan diam disuatu tempat. Habitat alam, hewan liar cuaca masih kita ketahui dunia luar tersebut melalui layar.

Ruang Sayap Bicara Kearifan Lokal
SORAWIT SONGSATAYA, seniman New Zealand’s melakukan reseach tentang layang-layang, yakni mempresentasikan teknologi tentang angin dalam ‘Jupiter’.
Visual video menunjukkan layang-layang, turbin, kincir dan lain-lain seakan terjadi kontradiksi bila dilihat divideo yang bergerak atau terbang tapi layang-layang yang tergantung diruangan seakan terdiam.
Seniman sebenarnya merencakan projec bukan hanya pameran tapi melakukan sebuah workshop, lokakarya, pertukaran pengetahuan termasuk residensi antar seniman taiwan dan seniman Indonesia.
Termasuk Sorawit akan melakukan research tradisi layang-layang di Indonesia, karena tidak bisa datang disebabkan pandemi nantinya akan ada diskusi oline dengan mewawancarai narasumber ahli tentang khasanah lokal tradisi layang-layang.
Rencananya akan mengundang komunitas Hong yang terfokus pada permainan tradisional yang kebetulan termasuk komite olah raga tradisional Indonesia.
RIAR RIZALDI, seniman Indonesia, ‘Kasiterit’ karya instalasi video yang berisi sebuah isu pertambangan timah di pulau Bangka. Indonesia sebegai penghasil timah sangat enting posisinya didunia, karena timah adalah bahan baku membuat smartphone.
Industri timah sangatlah penting dan termasuk bisnis basah yang sangat menjanjikan. Didalam video seniman menciptakan tokoh fiktif yaitu Natasha yang memiliki kecerdasan artivisual.
Natasha mencari asal usul dirinya karena didalam dirinya mengandung timah maka dari itu sampailah dia ke pulau Bangka.
Kemudian menceritakan dari kutipan seorang ilmuwan ahli lingkungan tentang permasalahan lingkungan yang ada dari sebuah industri yang menghasilkan kebutuhan sehari-hari yang berhubungan dengan smartphone harganya ternyata adalah kerusakan lingkungan.
Pesannya, kerusakan lingkungan ternyata kita semua terlibat, sebagai konsumen smartphone menyumbang juga kerusakan lingkungan.

Pemilihan Media Baru untuk Imajinasi
The Turn of The Fifth Age mengusung kembali isu perubahan iklim dengan metode dan cara berimajinasi yang berbeda.
Menurut Heru Hikayat, pemilihan media baru dalam menyajikan imajinasi seniman dianggap senafas dengan tema pameran di Selasar Sunaryo Art Space.
Hadirnya serangkaian perangkat digital untuk menikmati karya baik dari segi audio maupun visual, menjadikan kita punya dimensi dan imajinasi sendiri.
“Pemilihan media baru dalam menyampaikan karya seni bisa membalut ide untuk dihantarkan sebagai pesan kepada penikmatnya,” kata Heru
“Realitanya apakah kita siap dengan membuka mata menemukan solusi guna merubah atau mengkontruksi kembali masa depan dari kerusakan lingkungan,” pungkas Heru Hikayat.***