Pameran Kriya Terbaik Pelaku Ekraf Digelar di Yogyakarta

Bandung Side, Yogyakarta – Pameran Kriya karya 8 pelaku ekonomi kreatif sebagai salah satu bentuk dukungan pemerintah dalam meningkatkan kualitas produk agar dapat bersaing di pasar global.

Staf Ahli Bidang Inovasi dan Kreatif Kemenparekraf, Joshua Puji Mulia Simanjuntak dalam pernyataannya di Yogyakarta, Sabtu (21/11/2020) menjelaskan, Kemenparekraf menggelar kegiatan “Aksilirasi Unjuk Karya Inkubasi Kriya Yogyakarta”.

Aksilirasi yang merupakan program untuk para pelaku ekraf khususnya subsektor kriya yang dibuat dan disusun dalam menciptakan karya-karya lokal yang mengangkat agar menjadi daya tarik bagi wisatawan.

“Selama ini produk ekraf, kita bawa keluar untuk mendatangkan devisa masuk. Dengan kita beri pelatihan dan pendampingan, sehingga bisa membuat produk yang berkualitas, mendorong ASPA (average spending per-arrival) wisatawan lebih tinggi lagi,” ujar Joshua.

Hal tersebut sesuai arahan Menparekraf untuk mendorong quality tourism. Lantaran wisatawan yang berkualitas tentu memiliki daya beli yang tinggi, tambah Joshua.

Saat kegiatan pameran kriya dalam program Aksilirasi Unjuk Karya Inkubasi Kriya Yogyakarta yang digelar di Arkadia, Jl. Prawirotaman No.16, Yogyakarta, hadir pula perwakilan dari ke-8 pemegang merek pelaku ekraf seperti Selokeji, Watubhumi, Ramashinta, Sangkawan, Oriniki, Nafla, Ku.ku.pu, dan Siligri.

Selain itu hadir pula, Sekretaris Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf, Yuke Sri Rahayu; Sekjen Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII), Fitorio Leksono.

Peserta lain yakni perwakilan dari PHRI Yogyakarta, asosiasi desain produk, asosiasi desainer interior, asosiasi arsitek, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi DI. Yogyakarta, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Magelang, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Magelang, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, dan para stakeholder.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf, Yuke Sri Rahayu menjelaskan, 8 pelaku ekraf (Batik Kayu, Kulit, Perak dan Batu Pahat) yang berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah sebelumnya mendapatkan pelatihan melalui workshop.

Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pendampingan selama 1,5 bulan dimana pelaku ekraf kriya akan membuat desain baru didampingi oleh desainer anggota ADPII Yogyakarta, tambah Yuke.

“Selain meningkatkan kualitas dan inovasi produk baru sampai ekosistem terbentuk dan pelakunya bisa mandiri. Kegiatan inkubasi dan pendampingan pelaku ekraf ini merupakan program prioritas sektor ekraf, dan sangat sinkron dengan apa yang sedang digaungkan pemerintah yaitu Bangga Buatan Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Sekjen ADPII Fitorio Leksono menambahkan, pihaknya selalu siap mendukung pelaku ekraf di Indonesia agar bisa bersaing dikancah global dan tidak hanya terkenal sebagai vendor/supplier saja.

“Kami selalu siap mendukung para pelaku ini memiliki produk, brand lokal yang juara, bisa menjadi tuan rumah dan duta besar bagi karya-karya Indonesia di dunia,” ujar Yuke.

Pada kesempatan yang sama, Agus perwakilan dari Sangkawan menjelaskan, nama Sangkawan merupakan kepanjangan dari Sanggar Punokawan yang memproduksi batik kayu berbahan baku kayu jati dengan produk yang dihasilkan berupa tas, clutch, dan tempat kosmetik.

“Kami ingin mengembangkan dan mengombinasikan kayu dan batik dengan proses manual menggunakan batik tulis. Muncul ide seperti tas, clutch bag, dan tempat kosmetik yang dibandrol dari harga Rp250 ribu sampai Rp1 juta,” kata Agus.

“Semua produk menggunakan kayu jati yang setelah dibentuk baru dikombinasikan dengan batik. Kami juga menjaga keberlangsungan, dengan cara selalu menanam lebih banyak setelah kami menebang satu pohon jati sebagau bahan baku,” ujar Agus.***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan