Dasektor 4 Ajak Siswa SMK 2 LPPM RI Tanamkan Disiplin dan Mencintai Lingkungan

Bandung Side, Majalaya – “Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak akan kuat bila memiliki generasi emas tidak Disiplin dan Mencintai Lingkungan”. Hal tersebut terungkap dari materi yang dibawakan oleh Komandan Sektor (Dansektor) 4 Citarum Harum, Kolonel Inf. Kustomo Tiyoso saat melakukan sosialisasi Program Citarum Harum di SMK 2 LPPM RI, jl. Cidawolong No. 7 Desa Biru, Kec. Majalaya, Jum’at (13/9/2019).

“Sebagai warga negara Indonesia, hendaknya menunjukkan sikap rasa memiliki. Salah satu contoh yakni dengan sikap sempurna saat menyanyikan lagu Indonesia Raya mencerminkan pribadi yang disiplin,” kata Dansektor 4, Kolonel Kustomo.

Dansektor 4 Citarum Harum, Kolonel Inf. Kustomo Tiyoso saat memberi materi sosialisasi Program Citarum Harum kepada siswa-siswi SMK 2 LPPM RI, Majalaya, Jumat (13/9/2019).

“Bila generasi muda seperti siswa-siswi SKM 2 LPPM RI tidak memiliki pribadi disiplin bagaimana akan mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia ? Selanjutnya dari hal yang kecil pun tidak akan terfikir, seperti hal nya mencintai lingkungan, contohnya dengan menanam pohon, memeliharanya, bahkan merawatnya. Karena dengan menanam pohon berarti juga mencintai lingkungan yang asri,” papar Kolonel Kustomo.

Selain itu, lanjut Kolonel Kustomo, dengan bermodalkan disiplin sebagai generasi muda dengan status pelajar dapat memanfaatkan waktunya untuk belajar, tenaga dan pikiran dicurahkan untuk belajar bukan melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, atau bersikap seperti preman yang tidak memiliki etika, sopan-santun dan cenderung malas.

Dansektor 4 Citarum Harum, Kolonel Inf Kustomo Tiyoso memberikan cinderamata kepada salah satu peserta sosialisasi siswi SMK 2 LPPM RI,Majalaya

“Permasalahan lingkungan yang rusak sehingga mengakibatkan Sungai Citarum tercemar dan airnya tidak dapat dimanfaatkan sebagai sumber penghidupan itu dimulai dari tidak disiplin. Tidak disiplin membuang sampah, sembarangan saja menaruh sampah dipinggir jalan, bahkan tinggal dilempar saja di sungai. Hal sepele itu lah yang mengakibatkan kondisi Sungai Citarum menjadi kotor,”tegas Kolonel Kustomo.

Permasalahan yang berlarut-larut terjadi hingga seperti tidak ada solusinya, dkarenakan juga maindset atau pola pikir masyarakat termasuk adik-adik siswa-siswi ini memperlakukan Sungai Citarum seenaknya saja. Sehingga bila diurai Sungai Citarum kotor dikarenakan 4 permasalahan, yakni limbah domestik, limbah industri, sedimentasi dan penghijauan,”urai Dansektor 4 sambil menunjukkan slide materi permasalahan Sungai Citarum.

Limbah domestik yang dihasilkan dari rumah tangga berasal dari sampah dan kotoran manusia yang dibuang di Sungai Citarum. Kotoran manusia mengandung bakteri e-coli berdampak kram perut, diare berdarah, gagal ginjal kronis, stroke dan kematian, itu semua ada di Sungai Citarum bila masyarakat tidak segera merubah kebiasaan yang buruk tersebut.

“Sampaikan kepada saudara dan keluarga adik-adik yang ada dirumah agar membuang sampah tidak di sungai atau dijalan dan buat lah septictank untuk menampung aktifitas kamar mandinya. Dengan menegakkan disiplin tersebut yang dimulai dari sekarang, maka Sungai Citaraum akan dapat kembali sebagai sumber penghidupan, bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, karena sudah bersih,”pungkas Kolonel Kustomo.

Noor Rochman dari Kepala UPT Pengangkutan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung

Sesi pemateri Noor Rochman dari Kepala UPT Pengangkutan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, menegaskan bahwa sampah bisa dijadikan kawan bila diperlakukan dengan bijak, namun sampah akan menjadi lawan bila diperlakukan sembarangan.

Noor Rochman juga menyuplik Surat Ar-Rum ayat 41 yang artinya,”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”.

“Jadi, untuk merubah pola pikir dalam menanggulangi sampah agar tidak dibuang di sungai bukan hanya dengan niat saja, tapi harus dengan tindakan. Saya menunggu pihak sekolah untuk mengundang kembali bila diperlukan dalam hal cara mengelola sampah di lingkungan sekolah,”pungkas Noor Rochman***

Facebook Comments

Leave a Reply