KKN Tematik UPI Ajarkan Manfaat Sampah Domestik untuk Lingkungan Bersih

Bandung Side, Kutawaringin – Sejak berbaur kemasyarakat pada Tanggal 10 Juli 2019, peserta KKN Tematik UPI melakukan sosialisasi tentang kelestarian Sungai Citarum dengan berbagai macam tema. Selain itu, secara fisik peserta KKN juga memberi pengajaran berupa pemanfaatan barang bekas atau sampah domestik yang berasal dari sampah rumah tangga menjadi barang yang lebih bermanfaat, di Madrasah Tsanawiyah (MTS) Assalaf yang terletak di Kampung Bojong Rt 03 Rw 13, Desa Gajah Mekar, Kecamatan Kutawaringi, Sabtu (3/8/2019).

Sebagai pemateri pembuka tentang lingkungan hidup, Puri Meli Amelia menyampaikan pengenalan diri sebagai pelajar diabad 21 mempunyai ciri khas dan karakter sebagai pemikir, mahir dalam komunikasi, kerja kelompok, sifat ingin tahu, berprinsip, memiliki informasi dan prihatin.
“Dalam pengelompokan jaman di Generasi Milenial ini harus memiliki keterampilan yang disebut 4 C yaki Critical Thinking, Creativity, Collaborative, Communication,”kata Puri mempresentasikan pada murid-murid MTS Assalaf sebagian besar kelas 7.

Peserta didik MTS Assalaf, Desa Gajah Mekar sedang antusias mendengarkan materi sosialisasi Lingkungan Hidap dari peserta KKN Tematik UPI, Sabtu (3/8/2019)

Dalam penjelasannya 4C tersebut Puri mengatakan bahwa Generasi Milenial memiliki ketrampilan Critical Thinking yakni memiliki kemampuan untuk memahami suatu permasalahan yang dipandang rumit, seperti contoh permasalah sampah yang ada di Sungai Citarum. Selanjutnya, Creativity harus dimiliki dalam rangka generasi milenial dalam menciptakan sesuatu yang baru atau penggabungan baru, seperti contoh bermula dari botol bekas air minum kemasan dapat dirubah menjadi tempat pensil atau alat tulis yang indah.

Berikutnya Collaborative, generasi milenial harus memiliki kemampuan bekerjasama dalam menyelesaikan suatu permasalahan, atau berorganisasi agar permasalahan tersebut mendapatkan solusi, seperti contoh tidak akan bisa menyelesaikan sampah di Sungai Citarum bila tidak ada kerjasama antar teman untuk saling mengingatkan membuang sampah ditempat yang sudah ditentukan atau bak sampah baik di sekolah maupun diluar sekolah. Terakhir, generasi milenial memiliki kemampuan Communication yakni kemampuan untuk komunikasi baik secara lisan maupun secara tertulis, seperti contoh membuat tulisan himbauan “Jangan Membuang Sampah Disini” atau secara lisan menegur seseorang bila menjumpai buang sampah di sungai dengan bahasa yang santun.

“Setelah memiliki ketrampilan tersebut, generasi milenial dalam tahapan rendah dapat mengukur kemampuannya dalam hal mengetahui, memahami permasalahan yang ada. Setelah itu, mengukur kemampuan ketrampilannya dengan tahapan mengaplikasikan atau menerapkan solusi, kemudian menganalisa, menilai keberhasilan ketrampilan tersebut dan menciptakan dalam suatu aturan atau menjadikan minimal sebagai pola pikir, bahwa “membuang sampah sembarangan bukan sebagian dari Iman”,”pungkas Puri.

Materi sosialisasi dari Rifqa, peserta KKN Tematik UPI

Rifqa Zukhruf, peserta KKN Tematik UPI dari kelompok 2 Desa Gajah Mekar juga menyampaikan bahwa Sungai Citarum merupakan salah satu lingkungan alam yang ada dibumi sebagai sumber kehidupan, dari air sungainya dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk kebutuhan hidup diantaranya diminum, mandi, mencuci dan lain-lain.

“Kondisi Sungai Citarum saat ini tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup, dikarenakan Sungai Citarum menjadi tempat pembuangan sampah oleh masyarakat dan tercemar parah. Bukan hanya sampah Sungai Citarum juga tercemar limbah cair industri dan rumah tangga, limbah kotoran hewan, limbah pertanian terpadu dengan menggunakan peptisida dan sebagai tempat pembuangan sampah baik yang organik maupun yang an-organik dari institusi tertentu,”papar Rifqa.

Apa dampak dari pencemaran tersebut ?lanjut Rifqa, dampak langsung yang dideerita Sungai Citarum adalah ekologi yang rusak. Terganggunya biota air sungai, meningkatnya reaksi kimia yang tidak menguntungkan bagi kehidupan sungai, mengganggu kesuburan tanah, menjadikan air sungai keruh, hitam dan berbau, sebagai sumber penyakit, sampai menurunkan jumlah oksigen didalam air sungai sehingga mahluk hidup disungai akan mati.

“Sebagai generasi milenial, bisa meniatkan memelihara kebersihan lingkungan sebagai ibadah. Diantaranya tidak membuang sampah sembarangan terutama di sungai, menghentikan pembuangan limbah industri ke Sungai Citarum dapat dengan himbauan, menanam pohon disepanjang bantaran Sungai Citarum, tidak membuang air besar di sungai dan sebisa mungkin memilih dan memilah sampah sebelum dibuang di tong sampah atau di tempat pembuangan sampah sementara,”pungkas Rifqa.

Tebe, ketua kelompok 2 KKN Tematik UPI sedang menunjukkan tong sampah hasil kreasinya untuk siswa dan siswi MTS Assalaf, Desa Gajah Mekar.

Selanjutnya, sosialisasi yang lakukan oleh peserta KKN Tematik UPI dilanjutkan oleh Tebe dan rekan kelompoknya dengan melakukan praktek pembuatan barang bekas yang bisa dimanfaatkan menjadi barang baru dengan fungsi yang berbeda. Barang yang unik ditampilkan pada murid MTS Assalaf berupa tong sampah yang berasal dari kaleng bekas cat tembok berukuran 25 kg, dengan kombinasi barang bekas lainnya membuat penampilan tong sampah tersebut menjadi indah.

Antusiasme murid MTS Assalaf mengikuti sosialisasi tentang lingkungan hidup begitu bersemangat, saat peserta KKN Tematik UPI memberi pertanyaan edukatif respon untuk menjawab saling berebut, meskipun ada beberapa jawaban mereka belum tepat. Selain itu, saat mempraktekkan membuat tong sampah pun mereka sangat responsif ingin terlibat langsung tampil kedepan seperti yang ditunjukkan oleh Hani dan Giovani siswi dan siswa kelas 7 ini.

Uus Muslih, pengajar MTS Assalaf, Desa Gajah Mekar, Kecamatan Kutawaringin sedang memberikan kata sambutan.

Uus Muslih perwakilan pengajar MTS Assalaf mengatakan,”Sosialisasi dari kakak-kakak KKN UPI ini akan menjadi tambahan ilmu bagi siswa-siswi MTS Assalaf, khususnya tentang lingkungan hidup. Dari materi yang disampaikan sangatlah bermanfaat bagi siswa dan siswi agar dapat menjadikan lingkungannya bersih dan sehat, terutama lingkungan sekolah dan lingkungan rumahnya”.

“Dalam prakteknya siswa dan siswi MTS Assalaf akan lebih memprioritaskan kebersihan tempat ibadah di sekolah, bila tempat ibadah bisa suci karena dibersihkan akan merasa nyaman bila sedang melakukan sholat nantinya,”ucap Uus Muslih kepada Bandung Side.

“Ucapan terima kasih kepada kakak-kakak yang sedang KKN dari UPI bisa melakukan sosialisasi disekolah kami, suatu kehormatan yang luar biasa menjadi tempat sosialisasi tersebut,”pungkas Uus.***

Facebook Comments

Leave a Reply