Peserta KKN Tematik UPI Terlibat Sosialisasi Program Citarum Harum Di Sektor 8

Bandung Side, Kabupaten Bandung – Sosialisasi Program Citarum Harum yang bertujuan untuk membangkitkan partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan, penanggulangan pencemaran dan kerusakan serta pemulihan DAS Citarum kembali diadakan oleh Satgas Sektor 8 Citarum Harum di SMA Al Fiil jl. Gajah Eretan No.19, Desa Gajah Mekar, Kecamatan Kutawaringin, Sabtu (27/7/2019).

Dalam sosialisasi Program Citarum Harum kali ini peserta KKN Tematik UPI terlibat langsung memberi materi tentang Partisipasi Masyarakat, sesuai dengan amanat Perpres No 15 Tahun 2018, Pasal 18, Ayat 1. Masyarakat berpartisipasi dalam upaya pencegahan, penanggulangan pencemaran dan kerusakan serta pemulihan DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum.

Puri Meli Amelia pemateri sosialisasi Program Citarum Harum merupakan peserta KKN Tematik UPI, Sabtu (27/7/2019)

“Apa yang harus kita lakukan ?”kata Puri Meli Amelia penyaji materi dari Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, mahasiswi KKN Tematik UPI kelompok 2, Desa Gajah Mekar. Kita akan mulai dari perihal yang kecil namun berdampak besar, lanjut Puri.

“Pertama, mulailah membuang sampah pada tempatnya, yaitu pada tong sampah. Bila sekitar kita tidak ada tempat sampah, jangan pura-pura tidak tahu langsung lempar dijalan begitu saja. Tapi kumpulkan dulu dengan dikantongi terlebih dahulu, setelah menemukan tong sampah, barulah pilih dulu tempat sampahnya yang organik atau yang an-organik,”kata Puri sambil menunjukkan slide materi yang dibawakan di layar monitor.

Perihal kedua yang membawa dampak besar adalah menanam pohon dan berkebun, hal tersebut diperlukan sebagai parameter tentang kerusakan lingkungan. Bila lingkungan tercemar, seperti air sumur yang terserap limbah maka tanaman sekitar tidak akan tumbuh alias mati. Selain itu dengan berkebun hasilnya saat panen dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan.

Peserta sosialisasi Program Citarum Harum dari SMA Al Fiil nanpak serius memperhatikan materi yang disajikan oleh nara sumber

Selanjutnya perihal ketiga yang berdampak besar yakni, menggunakan produk yang ramah lingkungan. Kurangi penggunaan bahan plastik, seperti tas kresek diganti dengan kantong belanjaan dari kain, penggunaan botol plastik diganti dengan menggunakan botol tambler air minum, bila perlu jangan menggunakan sedotan dari plastik, gunakan saja gelas yang berbahan kertas yang bisa didaur ulang, karena bahan plastik tidak bisa terurai dengan alami sehingga akan menjadi sampah yang tidak menguntungkan. Hal keempat, yakni memanfaatkan sampah domestik atau sampah rumah tangga menjadi barang yang bermanfaat, seperti botol plastik dapat dikreasi menjadi tempat pensil atau balpoint atau sebagai pot tanaman hias. Sedangkan perihal yang terakhir berdampak besar yakni dengan melakukan reduce, reuse, recycle yang populer disebut 3R. “Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Dan Recycle berarti mengolah kembali atau daur ulang sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

Langkah pamungkas perihal kecil berdampak besar yakni Inovasi adalah kekuatan besar. Menjadi sosok yang berkharakter untuk dapat berkreasi, kreatif dan berinovasi dalam segala hal dalam rangka mengembalikan ekologi dan lingkungan yang rusak merupakan partisipasi masyarakat yang termaktub dalam Pasal 18, Perpres No 15 Tahun 2018,”pungkas Puri mengakhiri paparannya.

Pemateri sosialisasi Program Citarum Harum kedua disampaikan oleh Kepala Sekolah SMA Al Fiil, Agus Mokhtar Sidiq, M.Pd.

Pemateri sosialisasi kedua disampaikan oleh Kepala Sekolah SMA Al Fiil, Agus Mokhtar Sidiq, M.Pd. Sempat membuat surpraise murid-murid SMA Al Fill yang didominasi kelas 11 dan kelas 12 ini, disangka kehadiran Kepala Sekolah hanya untuk memberi sambutan pembuka acara sosialisasi Progam Citarum Harum, namun ternyata Kepala Sekolah yang juga pemimpin Yayasan Pendidikan Islam At Tamimiyah Bandung (Yapistaba) menguasai betul riwayat Sungai Citarum.

“Saat kecil dulu kira-kira ditahun 78 sampai tahun 79, bersama teman-teman mencari belut disawah yang air irigasinya dari Sungai Citarum sangatlah mengasikkan. Bila waktu sudah memasuki siang hari, rasa haus dapat dilepas dengan langsung meminum air sawah tersebut seperti embek begitu,”kata Agus Mokhtar disambut tertawa seisi ruang kelas tempat sosialisasi Program Citarum Harum melihat tingkah polanya memvisualkan cara minum.

Agus Mokhtar juga mengisahkan bahwa julukan Anak Citarum pernah dia sandang, karena seringnya mandi di Sungai Citarum. Bukan hanya sekedar mandi, namun sering melakukan loncatan selucu mungkin dari bantaran sungai sebagai kegembiraan saja. Bahkan kebiasaan saat menyambut Idul Fitri dan Idul Adha, anak-anak waktu itu mandi di Sungai Citarum terlebih dahulu.

Peserta sosialisasi Program Citarum Harum tidak segan-segan mencatat materi yang dianggap penting.

“Selain air Sungai Citarum yang bersih dan bening, masa itu dibantaran sungainya banyak tumbuh tanaman keras. Waktu itu saya sepulang sekolah ditugaskan oleh orang tua mengambil ranting-ranting pohon keras tersebut untuk bahan bakar saat masak. Dirumah dulu memasak menggunakan Hawu dengan bahan bakar dari ranting kayu, rasanya masakannya lebih enak bila dibandingkan menggunakan gas elpiji seperti sekarang ini,”kisah Agus Mochtar selanjutnya.

Namun, saat memasuki tahun ’90 air Sungai Citarum sudah mulai berubah, lanjut Agus Mokhtar, masih dijam-jam tertentu ada perubahan warna dan bila dari arah hulu entah dari mana ada pabrik yang membuang limbah, maka sampai mengalir disini dicirian pasti ada ikan yang mabuk atau were’. Banyak sekali orang-orang yang mengambil ikannya untuk lauk-pauk makan, saat itu belum mengerti akan akibat pencemaran .

“SMA Al Fiil sudah memiliki tungku pembakar sampah yang menelan biaya sekitar 17 juta, sebagai upaya mengatasi permasalahan sampah sekaligus sebagai edukasi kepada murid-murid,”kata Agus Mokhtar yang juga memiliki Sekolah Sepak Bola (SSB) “Gajah Prima”.

“Seperti yang dipraktekkan Rasulullah Muhammad SAW dan sahabatnya dengan Hubbul Wathan Minal Iman, sangat jelaslah bahwa Rasulullah dan para sahabatnya mencintai tanah airnya, yaitu Makkah sebagai tanah kelahiran Beliau, dan Madinah sebagai tempat Beliau hijrah. Jadi, dengan mencintai lingkungan yang bersih juga cerminan dari mencintai tanah air, hal tersebut sebagaian dari iman,”pungkas Agus Mokhtar.

Sebagai pamungkas pemateri sosialisasi Program Citarum Harum adalah Dansubsektor 8 Desa Gajah Mekar, Sertu Enton.

Sebagai pamungkas pemateri sosialisasi Program Citarum Harum adalah Komandansub Sektor 8(Dansubsektor 8) Desa Gajah Mekar, Sertu Enton. Kondisi Sungai Citarum saat memasuki masa kejayaan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai alat transportasi dan sebagai sumber penghidupan. Budaya air sungai bagi penduduk begitu bersahaja hingga sekarang tercemar limbah industri sejak tahun ’70 berdirinya pabrik tekstil secara besar-besaran dalam persaingan tekstil baik untuk pasar lokal maupun untuk ekspor. Selain itu, pencemaran Sungai Citarum juga diakibatkan dengan perkembangan sosial masyarakat yang mempunyai kebiasaan membuang sampah di sungai dan sekaligus limbah domestiknya, khususnya aktifitas di kamar mandi tidak memiliki septictank.

“Sebagai Satgas Citarum Harum, kami tidak bisa bekerja sendiri menjaga Sungai Citarum. Dibutuhkan partisipasi masyarakat, khususnya dari akademisi seperti adik-adik SMA sebagai generasi muda harus menjadi pelopor dalam menjaga Sungai Citarum. Terutama perilaku membuang sampah. Dibantaran Sungai Citarum sering sekali sampah ditumpuk oleh masyarakat yang entah siapa, kami membersihkan dengan cara dibakar atau ditimbun, namun tidak cukup seperti itu hendaknya dari rumah tangga memiliki budaya memperlakukan sampah dengan bijak. Kelola sampah dengan rasa tanggung jawab, tidak asal buang saja. Sampah dibantaran Sungai Citarum hari ini dibersihkan, besok pagi sudah ada tumpukan lagi, bahkan lebih banyak,”papar Sertu Enton.

Sertu Enton, Dansub Sektor 8 Desa Gajah Mekar memberikan cinderamata kepada Kepala Sekolah SMA Al Fiil, Agus Mokhtar Sidiq, M.Pd. usai pemaparan materi.

Sebagai generasi muda, tonggak kepemimpinan akan jatuh pada adik-adik, lanjut Sertu Enton, sebagai calon pemimpin tanggung jawab akan kelestarian Sungai Citarum juga menjadi tanggung jawab adik-adik.

Sosialisasi Program Citarum Harum di SMA Al Fiil diikuti dengan antusias oleh siswa-siswinya, hal tersebut ditandainya dengan saling berebutnya bertanya saat materi usai disampaikan dan berlanjut sesi tanya-jawab. Seperti pertanyaan yang diajukan oleh Jamaludin dari kelas 12, bagaimana caranya menegur orang yang membuat sampah diatas jembatan yang dibawahnya Sungai Citarum, karena malah takut dimarahi oleh orang tersebut.

Jamaludin siswa kelas 12 SMA Al Fiil sedang mengajukan pertanyaan tentang cara menegur seseorang yang sedang membuang sampah di Sungai Citarum

Sertu Enton menjawab, “Tegur dengan cara yang sopan, bila tidak mengindahkan, catat kebiasaannya membuang sampah tersebut dan laporkan ke Satgas Citarum Harum. Biar nanti Satgas mengambil tindakan tegas dan diberi efek jera agar kapok dan tidak mengulang lagi membuang sampah ke sungai”.

Selanjutnya pertanyaan datang dari Ai Siti Saudah dari kelas 12, bagaimana cara menyadarkan orang agar tidak membuang sampah sembarangan, karena bila ditegur atau diingatkan 1x, 2x tidak mau mendengarkan dan mengulang lagi membuang sampah sembarangan.

Ai Siti Saudah siswi kelas 12 SMA Al Fiil mengajukan pertanyaan tentang bagaimana menyadarkan orang yang membuang sampah sembarangan

“Bila ditegur dan diingatkan beberapa tidak didengarkan, berarti orang tersebut tidak punya Iman,”kata Sertu Enton

. Karena menurut hadist, Menjaga Kebersihan adalah Sebagian dari Iman, lanjut Sertu Entu, jadi bisa dengan kata sindiran,”Hari Gini Buang Sampah Sembarangan…Malu Dooong…”.

Foto Bersama peserta sosialisasi Program Citarum Harum yang diikuti oleh siswa-siswi SMA Al Fiil jl. Gajah Eretan No.19, Gajah Mekar, Kutawaringin, Kabupaten Bandung

Hari sudah menjelang siang, sosialisasi ditutup dengan do’a bersama, foto bersama dan bersantap makan siang bersama didalam ruang kelas tempat sosialisasi Program Citarum Harum. Suasana akrab, ngobrol santai peserta sosialisasi tentang progres setelah dilakukan pemaparan materi menjadi semangat tersendiri untuk berbuat sesuatu kepada Sungai Citarum.***

Facebook Comments

Leave a Reply