Sosialisasi Program Citarum Harum Oleh Sektor 4 Antusias Diikuti Siswa SMP dan SMK

Bandung Side, Majalaya – Upaya menselaraskan Program Citarum Harum kepada masyarakat luas oleh Satuan Tugas (Satgas) Sektor 4 Citarum Harum melalui sosialisasi, mendapatkan respon positif dari anak didik SMP dan SMK Karya Pembangunan I Majalaya Jl.Tugu Pahlawan, Kampung Kondang, Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Jum’at (21/6/2019).

Sekitar 100 peserta sosialisasi yang terdiri dari siswa SMP, siswa SMK dan Guru menempati gedung 2 dari SMP/SMK KP I Majalaya untuk dapatnya mentransformasi materi yang disampaikan oleh Satgas Sektor 4 Citarum Harum yang diwakili oleh Komandan Sektor (Dansektor) 4 Citarum Harum, Kolonel Inf, Kustomo Tiyoso dan Noor Rochman perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung.

Acara sosialisasi dengan mengusung tema “Revitalisasi Sungai Citarum Menuju Indonesia Emas 2045” dibuka oleh Kepala Sekolah SMP/SMK KP I Majalaya, Dr. Mumuh Harjani, MM. dengan mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya dengan Satgas Sektor 4 Citarum Harum memilih SMP/SMK KP I Majalaya sebagai tempat sosialisasi Program Citarum Harum. “Kami ucapkan terima kasih atas kepercayaannya Satgas Sektor 4 memilih tempat sosialisasi di SMP/SMK KP I Majalaya, semoga anak didik serta guru-guru mendapatkan pencerahan dari materi yang akan disampaikan oleh Dansektor dan dari DLH Kabupaten Bandung,”kata Mumuh Harjani.

“Berawal dari predikat sungai terkotor sedunia, Citarum sekarang sudah mulai menjadi baik. Kembali menjadi alami, tidak ada limbah yang mengalir di Sungai Citarum,”lanjut Kepala Sekolah berwibawa ini.

Memasuki materi sosialisasi Program Citarum Harum yang dibawakan oleh Dansektor 4 Citarum harum, Kolonel Inf. Kustomo Tiyoso mengatakan bahwa Sungai Citarum adalah sungai yang sangat strategis, karena 80% airnya dimanfaatkan oleh penduduk DKI Jakarta, sebagai irigasi mengairi 420.000 Ha sawah di jawa Barat, menjadi tempat pembudidayaan ikan air tawar serta menjadi penghasil listrik 1.900 MW di Bendungan Saguling untuk Jawa-Bali.

“Apa jadinya bila Sungai Citarum dibiarkan rusak dan tercemar ? Maka untuk memenuhi kebutuhan air bersih kita akan membeli bila dihitung akan menghabiskan uang sebesar Rp 197 Trilliun/Tahun,”lanjut Kolonel Kustomo.

Lebih lanjut Kolonel Kustomo mengatakan, bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan listrik ? kita akan mengalami kerugian dengan pengeluaran uang sebesar Rp 240 Trilliun/Tahun serta kerugian akan konsumsi ikan sebesar Rp 10 Trilliun/Tahun dan bidang pertanian atau pangan mengalami pengeluaran sebesar Rp 20 Trilliun. Satu kata untuk kondisi tersebut yakni, pemborosan.

“Konsentrasi Satgas Sektor 4 Citarum Harum ditahun 2019 ini memprioritaskan aksi-nya menangani Limbah Domestik, Limbah Industri, Sedimentasi dan Penghijauan,”ungkap Kolonel Kustomo.

Menurut data yang dilangsir oleh Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC), 8 Januari 2018 sampah yang mendiami Sungai Citarum sebanyak 20.462 Ton/hari diantaranya limbah medis dan 71% tidak terangkut dan menjadi sedimentasi bertahun-tahun tertanam didasar sungai. Sedangkan sampah yang dihasilkan rumah tangga baik yang organik dan anorganik sebanyak 1.927 Ton/bulan, yang tertangani hanya 1.278 Ton/bulan sedangkan yang tidak tertangani sebanyak 649 Ton/bulan. Sedangkan data limbah domestik dari tinja manusia di Majalaya yang berpenduduk 150.566 jiwa dihasilkan 903.396 kg/bulan.

“Dari jumlah kotoran manusia saja, Majalaya menghasilkan 903.396 kg/bulan membawa dampak tumbuhnya bakteri E-Coli penyebab penyakit Kram perut, Diare Berdarah, Gagal ginjal kronis 30%, Stroke 5%, Kematian hingga 3% – 5%. Sungguh mengkhawatirkan,”kata Dansektor 4 menegaskan.

“Sedangkan limbah cair yang dihasilkan oleh 110 industri tekstil di Kecamatan Majalaya bila tidak dikelola dan langsung dibuang ke Sungai Citarum membawa dampak keracunan mercury seperti gangguan otak dan mental contohnya sering bingung, tidak konsentrasi, pelupa, susah belajar. Selain itu membawa dampak termor atau sering gemetar pada seseorang, radang dan pembengkakan gusi, gangguan pencernakan dan ginjal, gangguan perkembangan otak janin pada wanita hamil dan kulit tubuh yang mengelupas tanpa sebab,”ulas Kolonel Kustomo.

“Upaya yang sudah dilakukan Satgas Sektor 4 Citarum Harum selain sosialisasi, yakni dengan membuat 3 buah septictank komunal di Desa Sukamaju dan 27 MCK di Desa Padaulun, Desa Biru, Desa Neglasari, Desa Bojong dan Desa Wangisagara. Selain itu upaya monitoring dan patroli dilapangan pada 110 pabrik atau industri yang diantaranya masih dilokalisir 2 buah buah pabrik dan yang telah dibuka saluran pembuangan limbahnya akibat di-cor sejumlah 45 pabrik,”papar Kolonel Kustomo.

“Untuk sedimentasi pada anak sungai yang mengakibatkan banjir didaerah Desa Biru, Satgas Sektor 4 telah melakukan pengerukan sepanjang 1.800 m diantaranya Sungai Cibotor, Sungai Cipeujeuh, Sungai Cipadaulun dan Sungai Waru Satangkal. Upaya pengerukan juga dibarengi dengan penghijauan di 12 desa dengan menanam pohon keras sebanyak 3.000 pohon,”tegas Dansektor 4.

“Dari apa yang saya paparkan dengan adanya campur tangan TNI sebagai Satgas Citarum Harum hanya sekedar membantu. Tanpa keterlibatan, partisipasi dan empaty dari adik-adik serta bantuan masyarakat, TNI dan DLH tak ada apa-apanya. Penanganan atau pemeliharaan Sungai Citarum tanggung jawab kita bersama. Masa di jaman now dan era milenial masih buang sampah di sungai ? Masa adik-adik ini masih mau buang air besar di sungai ? yang dampaknya adik-adik sudah mengetahui dari paparan tadi,”pungkas Kolonel Kustomo.

Perwakilan DHL Kabupaten bandung, Noor Rochman melengkapi apa yang dipaparkan oleh Kolonel Kustomo khusus dalam menangani sampah. “Diupayakan mengurangi menghasilkan sampah dimulai dari rumah, karena menurut UU No. 18 Tahun 2008 pasal 12 bahwa Setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan,”kata Noor Rochman.***

Facebook Comments

Leave a Reply