CV Mutiara Indah Textile, Ingin Efisien Tapi Tidak Paham Kelola IPAL

Bandung Side, Majalaya – CV Mutiara Indah Tex tidak memperhatikan IPAL nya sehingga menghasilkan limbah cair ber-COD tinggi, Satgas Sektor 4 Citarum Harum beri sangsi lokalisir sampai perbaikan kelola IPALnya menjadi lebih baik, Jumat (16/8/2019).

Tinjauan lapangan saat Satgas Sektor 4 Citarum Harum melakukan lokalisir saluran limbah cair CV Mutiara Indah Textil (CV Muin Tex) yang berlokasi di jl. Laswi Warusatangkal No. 94 Majalaya mendapatkan kejutan, yakni dengan adanya proses kelola limbah cair menggunakan Elektrokoagulasi. Proses Elektrokoagulasi merupakan gabungan dari proses elektrokimia, flokulasi dan koagulasi yang cara kerjanya menggunakan sistem pengadukan cepat sehingga dapat mereaksikan koagulan (bahan kimia) tertentu secara seragam hingga membentuk butiran-butiran yang berukuran besar dan dapat diendapkan. Selanjutnya dilakukan pengadukan lambat pada tanur lain untuk menghasilkan butiran besar untuk diendapkan kembali.

Peralatan proses kelola limbah menggunakan Elektrokoagulasi CV Mutiara Indah Textile

Secara prinsip kerja, proses Elektrokoagulasi menggunakan plat aluminium/besi sebagai koagulan dan elektroda sehingga lebih efisien dan murah tanpa menggunakan bahan kimia yang mahal harganya dalam proses koagulan secara konvensional. Namun, pada proses elektrokoagulan hanya senyawa yang bersifat logam saja yang menempel ke plat elektroda yang berasal dari aluminium/besi saat proses oksidasi, sementara polutan yang bersifat organik masih bisa larut ke proses olah IPAL selanjutnya, hal tersebut ditandai dengan parameter COD yang masih tinggi.

Komandan Sektor 4 Citarum harum, Kolonel Inf. Kustomo Tiyoso sedang memastikan saluran limbah cair CV Mutiara Indah Textile yang akan dilokalisir

Alternatif mengelola limbah cair dengan menggunakan metode Elektrokoagulasi dinilai kurang efektif bila dalam penggunaan obat pewarna benang tidak berbanding lurus dengan alat tersebut. Seperti yang umum diketahui bahwa obat pewarna tekstil yang beredar dan digunakan oleh pabrik tektil hanya sekedar murah, bukan karena kepahaman kelola IPAL yang efisien.

Tanur proses Elektrokoagulasi dan kolam pengendapan lumpur CV Mutiara Indah Textile

Hal tersebut diungkap oleh Danki Sektor 4 Letda Arh. Dwi Iswantoro saat melakukan lokalisir di CV Muin Tex kepada Bandung Side. “Secara prinsip kerja memang lebih efisien menggunakan Elektrokoagulasi namun kekurangan akan lebih banyak bila tidak memahami karakter obat pewarna yang asal murah,”jelas Danki Dwi Iswantoro.

Saat memberikan keterangan kronologis hingga CV Muin Tex diberi sangsi lokalisir saluran limbahnya, Danki Dwi Iswantoro mengatakan,”Pada tanggal 6 Agustus diadakan pengecekan atau monitoring outlet pada CV Mutiara Indah Textil atau dikenal dengan CV Muin Tex yang lokasinya jl. Laswi Warusatangkal No. 94 Majalaya. Tepatnya pukul 16.20 oleh Anggota Satgas Sektor 4 Citarum Harum Subsektor Desa Padaulun dengan mengambil sampel limbah cair nya menggunakan pempet kyoritsu dari Jepang dan menunjukkan parameter berwarna kuning kandungan COD diatas 250 pada limbah cairnnya. Selanjutnya Satgas Sektor 4 melakukan peneguran terhadap penanggung jawab Kepala Umum CV Muin Tex atas nama Ibu Siti, agar temuan limbah cair dengan kadar COD tinggi segera diperbaiki cara mengolah limbahnya”.

Komandan Sektor (Dansektor) 4 Kolonel Inf. Kustomo Tiyoso. disaksikan oleh Babinsa Koramil Majalaya, Serda Ahmad Sofyan; Babinkamtibmas, Bripka Dadang dan Kepala Desa Padaulun, Ayi Rukmana menyaksikan lokalisir saluran limbah cair CV Mutiara Indah Textile

Pada Tanggal 12 Agustus, lanjut Danki Dwi, anggota Satgas Sektor 4 mendapat laporan dari masyarakat sekitar CV Muin Tex saat melakukan korve pembersihan lingkungan dengan adanya pembuangan limbah cair berwarna putih susu dialiran Sungai Cipadaulun yang berasal dari selokan samping PT Makmur Abadi. Sehingga menjadikan laporan untuk segera ditindak lanjuti pada tanggal 13 Agustus, pukul 13.55 melaksanakan sidak ke CV Muin Tex kelokasi IPAL dan mendapatkan bahwa pengolahan IPAL tidak ada perubahan atau perbaikan dan masih membuang limbah cairnya ke selokan yang mengalir ke Sungai Cipadaulun. Tindakan selanjutnya dengan mengambil sampel limbah cair yang berada di outlet IPAL, mengambil dokumentasi cairan limbah yang sedang keluar.

Hasil uji sampel limbah cair pada laboratorium menunjukkan parameter Ph:7,8 ; TSS:50 dan COD:692 yang selanjutnya disampaikan pada Tanggal 14 Agustus agar pemilik dan penanggung jawab CV Muin Tex untuk menghadap ke Posko Utama Sektor 4 Citarum Harum guna memberikan penjelasan mengenai limbah cair yang ber-COD tinggi tersebut.

Saluran limbah cair CV Mutiara Indah Textile yang dilokalisir Satgas Sektor 4 Citarum Harum

Pemilik dan penanggung jawab CV Muin Tex mengakui keteledoran dan kesalahan atas temuan limbah cair tersebut sesuai kronologi yang disampaikan, sehingga pemilik CV Muin Tex bersedia memperbaiki pengelolahan limbahnya.

“Sehingga pada hari ini, Tanggal 16 Agustus 2019, pukul 14.05 dilakukan lokalisir saluran limbah cair CV Muin Tex yang dipimpin oleh Komandan Sektor (Dansektor) 4 Kolonel Inf. Kustomo Tiyoso. disaksikan oleh Babinsa Koramil Majalaya, Serda Ahmad Sofyan; Babinkamtibmas, Bripka Dadang dan Kepala Desa Padaulun, Ayi Rukmana,”pungkas Danki Sektor 4 Letda Arh. Dwi Iswantoro.

Kris, pemilik CV Mutiara Indah Textil mengakui keteledoran dan kesalahan atas temuan limbah cair oleh Satgas Sektor 4 Citarum Harum

Saat diminta keterangan mengenai lokalisir saluran limbah cair CV Muin Tex, Dansektor 4 Kolonel Inf. Kustomo Tiyoso mengatakan,”CV Muin Tex yang sudah beroperasi sejak tahun 1980 secara prinsip sudah melakukan hal yang benar dalam mengelola limbah cairnya yakni menggunakan IPAL dengan proses Elektrokoagulasi. Namun, biaya sekitar 50 juta saat pembuatan IPAL tersebut menjadi tidak sebanding dengan limbah yang dihasilkan, hal tersebut dikarenakan tidak pahamnya bagian IPAL dalam mengoperasikan proses Elektrokoagulasi, jadi asal jalan saja”.

“Bila dilihat dari hasil kelola kelanjutan tanur-tanur yang ada dilokasi IPAL, banyak terdapat endapan lumpur yang berasal dari proses Ferro filter hanya mengejar air limbah bisa jernih, padahal zat terlarutnya masih banyak yang menjadi lumpur karena elektrodanya sudah tidak jalan sebagaimana mestinya,”papar Kolonel Kustomo.

Mesin benang CV Mutiara Indah Textile, Majalaya

“Selama CV Muin Tex tidak mengubah kelola IPALnya, lokalisir dan pengawasan Satgas Sektor 4 tetap berjalan. Bila alat proses Elektrokoagulasi tidak diperbaiki sehingga berfungsi baik limbah cair yang dihasilkan akan tetap mengandung COD tinggi, hal ini yang membuat ekosistem Sungai Citarum menjadi tercemar dan kehidupan di sungai mati semua. Selain itu, hendaknya CV Muin Tex juga melakukan renovasi pabriknya yang sudah lama berdiri. Bangunan tua yang dikuatirkan bisa roboh sewaktu-waktu membuat karyawan yang rata-rata sudah bekerja lebih dari 10 tahun tidak merasa nyaman,”pungkas Kolonel Kustomo.***

Tinggalkan Balasan