Kolaborasi BUMD Jabar dan WIKA Beton: Sentimen Positif Inovasi Infrastruktur di Perlintasan Gedebage

Kolaborasi BUMD Jabar dan WIKA Beton

Bandung Side, Gede Bage — Kolaborasi BUMD Jabae berawal dari tingginya risiko kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api kini tidak hanya diantisipasi melalui imbauan perilaku berkendara, melainkan lewat peningkatan kualitas infrastruktur yang bernilai guna ekonomi.

Langkah ini direalisasikan melalui kolaborasi strategis antara Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Barat, PT Agronesia, dengan emiten beton pracetak nasional, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton).

Inovasi mutakhir ini diterapkan di Perlintasan Sebidang JPL 177, kawasan Gede Bage, Kota Bandung. Langkah modernisasi infrastruktur tersebut dilaporkan mendapat respons positif dari masyarakat karena terbukti mampu mengurai kemacetan dan menekan potensi kerugian materiil akibat kecelakaan.

Menekan Risiko Eksternalitas Negatif di Jalan Raya
Direktur PT Agronesia, Deddy Gamawan, dalam tinjauannya di perlintasan Gede Bage, Selasa (9/6/2026), menegaskan bahwa aspek keselamatan transportasi tidak boleh hanya dibebankan pada kedisiplinan pengguna jalan. Kualitas infrastruktur pendukung memegang peran krusial dalam menciptakan efisiensi mobilitas.

“Di sejumlah titik, area jalan yang bersinggungan langsung dengan rel kerap mengalami kerusakan, berlubang, dan tidak rata. Kondisi ini memicu dampak ekonomi negatif berupa keterlambatan arus logistik, risiko kendaraan tergelincir, hingga kerusakan armada bertransportasi,” ujar Deddy Gamawan.

Direktur PT Agronesia, Deddy Gamawan
Direktur PT Agronesia, Deddy Gamawan sedang meninjau perlintasan kereta api di wilayah Gede Bage

Sinergi Komersial: Integrasi Produk Inkaba dan WIKA Beton
Secara teknis, proyek ini mengintegrasikan dua produk unggulan dari entitas bisnis yang berbeda:
1. Rubber Concrete Line Crossing (Produk Inkaba) diproduksi oleh Industri Karet Bandung (Inkaba), unit usaha PT Agronesia (BUMD Jabar). Material berbasis karet ini berfungsi menstabilkan permukaan jalan, meredam getaran, serta mengurangi polusi kebisingan saat kendaraan melintas.

2. Concrete Level Crossing / CLC (Inovasi WIKA Beton) adalah Teknologi beton modular pracetak dari WIKA Beton dengan sistem knock-down. Inovasi ini memangkas waktu instalasi secara signifikan, sehingga meminimalkan opportunity cost akibat gangguan operasional perjalanan kereta api maupun kendaraan bermotor.

Petugas JPL 177 Gede Bage mengonfirmasi bahwa sebelum pembaruan ini dilakukan, kerusakan aspal di sekitar rel sering memicu kecelakaan. Namun, pasca-pemasangan bantal beton baru dan sistem terintegrasi ini, arus lalu lintas menjadi jauh lebih lancar dan aman.

Kolaborasi BUMD
Aspek keselamatan transportasi tidak boleh hanya dibebankan pada kedisiplinan pengguna jalan. Kualitas infrastruktur pendukung memegang peran krusial dalam menciptakan efisiensi mobilitas.

Menuju Standardisasi Infrastruktur Berkelanjutan
Akselerasi proyek ini diharapkan tidak berhenti di Gede Bage. Implementasi produk yang kini menjadi bagian dari ekosistem Danantara dan BUMN tersebut ditargetkan menjadi cetak biru (blueprint) solusi nasional untuk menekan angka kecelakaan di perlintasan sebidang, seperti yang sempat terjadi di Bekasi Timur.

“Inovasi ini sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antarentitas dalam menghadirkan infrastruktur yang lebih aman, nyaman, dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” pungkas Deddy Gamawan.

Investasi pada teknologi perlintasan sebidang ini membuktikan bahwa efisiensi ekonomi dan keselamatan publik dapat berjalan beriringan.

Tantangan berikutnya kini berada pada skala duplikasi; sejauh mana pemerintah dan pemangku kepentingan mampu mereplikasi standardisasi infrastruktur ini ke titik-titik rawan lain secara masif demi menjaga produktivitas mobilitas masyarakat dan menekan angka kerugian ekonomi makro di sektor transportasi.***

Tinggalkan Balasan