Bandung Side, Raya Soreang – Forum UMKM Nuswantara (FUN) sebagai sayap organisasi dibawah binaan HIPMI dan KADIN akan menggelar Festival Sarung Majalaya di Thee Matic Mall jl Anyar, Majasetra Kecamatan Majalaya pada Tanggal 10 – 13 Maret 2022.
Festival Sarung Majalaya diinisiasi anggota FUN Kabupaten Bandung dalam rangka memulihkan perekonomian nasional khususnya pengusaha sarung tersebut terungkap saat beraudien bersama Bupati Kabupaten Bandung, H.M. Dadang Supriatna, Selasa (08/03/2022).
“Inisiasi menggelar Festival Sarung Majalaya bersamaan dengan agenda pengukuhan FUN Kordapil 5 diantara wilayahnya adalah Kecamatan Majalaya, Selokan Jeruk, Paseh dan Kecamatan Ibun,” kata Ketua Panitia Festival Sarung Majalaya, Dede Sutisna.
Selain itu, tambah Dede Sutisna, guna membangkitkan kembali history Kota Dollar yang pernah disandang Majalaya dan upaya pemulihan ekonomi khususnya pengusaha sarung.
Didalam Festival Sarung Majalaya akan di pamerkan berbagai macam motif sarung khususnya Poleng Camat, Lomba Fashion dan bazar produk hasil karya anggota Forum UMKM Nuswantara baik makanan dan kuliner.
Selain itu, Festival Sarung Majalaya akan diisi dengan talk show yang membahas seputar perkembangan sarung, bakti sosial dan Pemilihan Mojang Jajaka Sarung serta hiburan.

FUN dalam menggelar Festival Sarung Majalaya ini memiliki program keberlanjutan, salah satunya dengan melakukan MoU dengan Bupati Kabupaten Bandung bersama FUN, selanjutnya akan mendorong ada Peraturan Bupati (Perbup) yang isinya bahwa setiap hari Jum’at dilingkungan Pemerintahan Daerah Kabupaten Bandung menggunakan sarung, seperti hal nya beberapa daerah yang memberlakukan pengenakan celana jeans di hari sabtu atau pangsi dan kebaya di Hari Rabu.
Sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan ekonomi pengusaha sarung, jadi bisa dibayangkan bila setiap Hari Jumat pada lingkungan Pemda Kabupaten Bandung dari SKPD Kabupaten hingga tataran desa bisa mengenakan sarung maka percepatan pemulihan didaerah akan segera terwujud.
“Dari efek domino Perbup tersebut, Kabupaten Bandung akan memiliki khas produk lokal yaitu sarung yang kaya akan Motif Poleng yakni kotak-kotak seperti papan catur yang memiliki nilai filosofi tinggi,” ujar Dede Sutisna.
Langkah selanjutnya bisa diusahakan bahwa Kabupaten akan memiliki Museum Sarung, sehingga dalam ranah pariwisata yang dimiliki oleh setiap kecamatan destinasinya akan menyajikan oleh-oleh dan cinderamatanya berupa Sarung Majalaya yang sudah cukup terkenal sejak tahun 1930.
Kekhasan Motif Sarung Majalaya adalah motif poléng sebagai motif lokal yang pernah muncul di Majalaya tahun 1930-1970 dengan nomenklatur variasi yakni: poléng camat, poléng haji, poléng totog, poléng bolégbag, poléng taliktik, poléng namicalung yang sudah mulai langkah.

“Pandemi Covid-19 yang sudah berjalan kurang lebih 2 tahun ini membuat kondisi penjualan sarung menjadi bertambah lesu, namun dengan adanya Festival Sarung Majalaya ini menjadi enter point atau pintu masuk agar ekonomi nasional dapat ditingkatkan melalui sarung,” ungkap Dede Sutisna.
Wacana eksport sarung dengan adanya BUMDESMART dari Kementerian Desa, yakni penjualan online yang dapat menembus pasar ekspor rencananya di lounching nanti saat pemberangkatan umroh yang jumlahnya kurang lebih 140 ribu orang yang jika di konfirmasi ke sarung kurang lebih seberat 20 ton yang langsung kontrak dengan pihak Arab Saudi sebagai souvenir.
“Kedepannya, FUN akan memiliki tenaga marketing untuk bisa menjembatani pemasaran agar dapat eksport ke Arab Saudi atau negara lain,” pungkas Dede Sutisna.
Salah seorang pengusaha sarung di Majalaya, Ayi Kurnia mengatakan bahwa pengusaha sarung di Majalaya secara turun menurun memproduksi sejak tahun 1930, dari mulai lingkungan keluarga seperti Kakak, adik, keponakan dalam satu keturunan memiliki profesi sebagai pengusaha sarung.
“Pengusaha sarung di Majalaya masih bertahan kurang lebih sekitar 100 orang, dari mulai menggunakan Alat Tenun Bukan mesin (ATBM) hingga sudah ada yang memproduksi masal menggunakan mesin,” kata Ayi Kurnia.
Namun, lanjut Ayi Kurnia, mesin yang digunakan belum mengalami peremajaan seperti yang ada sekarang sudah lebih canggih, sehingga bisa langsung membuat rapi pinggiran kain tanpa harus memotong.
“Bila dilihat potensinya, pengusaha dapat membuat sekitar 500 kodi sarung perbulannya, jadi bila 100 pengusaha bisa menghasilkan 50.000 kodi sarung perbulan,” ungkap Ayi.

Dikarenakan lemahnya pemasaran maka potensi itu akan secara perlahan menurun dalam penjualannya, meskipun momen tertentu seperti saat bulan Haji dan Idul Fitri mengalami kenaikan tapi tidak dengan signifikan.
Tahun 2021 kemaren mengalami peningkatan penjualan, tapi itu karena ada bencana. Baik banjir, tanah longsor maupun gempa bumi, sarung dibutuhkan untuk memberi bantuan.
Secara kelas, sarung Majalaya kalah dengan sarung yang diproduksi oleh industri besar yang sudah memiliki mesin canggih dan dapat berproduksi masal.
“Perlahan tapi pasti FUN akan berusaha mengembalikan pamor Sarung Majalaya di dunia tekstil, fashion maupun sebagai souvenir di Jawa Barat khususnya,” ujar Ayi Kurnia.
Sarung Majalaya masih terbilang tradisional, namun memiliki potensi besar meskipun dalam proses produksi masih menggunakan ATBM yang nantinya akan memiliki nilai tambah setelah diaplikasikan didalam bentuk lain, seperti fashion.
Kendala lain selain mesin bagi pengusaha sarung adalah bahan baku benang harus import yang tentunya akan mempengaruhi harga jual pada segmen pasar yang sudah ada.
“Namun peluang pasar ekspor besar sekali, karena permintaan dari Vietnam, Thailand, dan Malaysia masih belum maksimal dilayani,” tutup Ayi Kurnia.

Bergayung Sambut
Festival Sarung Majalaya yang akan memecahkan rekor sarung terpanjang Motif Poleng Camat sepanjang 60 meter ini bergayung sambut dengan program Bupati Kabupaten bandung, Dadang Supriatna yakni Program Pinjaman Modal Bergulir Tanpa Bunga.
Program unggulan Kabupaten Bandung yakni Pinjaman Modal Bergulir Tanpa Bunga ini dapat menumbuh-kembangkan para pelaku UMKM yang mengalami keterpurukan ekonomi pasca COVID-19 kemarin dapat bangkit dan berkembang lagi.
Dadang Supriatna mengaku tak ingin pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Bandung terjerat bank emok atau rentenir sebagai respon cepat pada kondisi masyarakat terkini.
Pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan memberi kemudahan pinjaman akan digulirkan dana sebesar 260 milyar.
“Bila per RW mendapatkan bantuan Rp 67 juta dari kira-kira jumlah 3.885 RW di Kabupaten Bandung, maka dibutuhkan dana sebesar 260 milyar secara bertahap akan digulirkan pertahunnya,” kata Dadang Supriatna.
Tahun pertama akan digulirkan 40 milyar, selanjutnya bila pengembaliannya lancar pada tahun kedua akan bergulir 60 M, hingga tahun ketiga 60 milyar lagi, lanjut dadang Supriatna yang akrab di sapa Kang DS.
“UMKM sebagai ujung tombak perekonomian daerah, Pemda akan mengupayakan sebuah showing room yakni produk UMKM akan dipajang disetiap rest area atau lokasi destinasi pariwisata, hal tersebut dikarenakan adanya multiplayer kegiatan,” ujar Kang DS.

Jadi bila dana sudah bergulir pada UMKM, terdapat manfaat multiplayer efeknya yakni membina 7.100 UMKM lainnya yang ada di Kabupaten Bandung, sehingga Program UMKM ini berkelanjutan, lanjut Dadang Supriatna.
Dilokasi yang sama dalam audien FUN bersama Bupati Kabupaten Bandung, hadir Senior Executive Vice President (SEVP) Bisnis Bank BJB, Beny Riswandi yang menyatakan bahwa UMKM seperti Berlian.
“UMKM seperti Berlian karena ditempat mana saja, tetap saja bernama Berlian dan sangatlah berharga,” kata Beny Riswandi.
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk. (Bank BJB) telah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan meluncurkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat terpadu untuk memacu pertumbuhan ekonomi Tanah Priangan melalui sektor UMKM.
“Melalui program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Terpadu (Pesat), Bank BJB tidak akan hanya memberikan kucuran modal, tetapi juga memberikan pendampingan serta pembinaan kepada pelaku usaha mikro, kecil, menengah (UMKM),” ujar Beny Riswandi.
Bank BJB selalu aktif dalam bidang edukasi khususnya dalam penyaluran pinjaman. Aktif dalam sisi perbankan, kewirausahaan, pelatihan, hingga kurasi untuk product expand.
Tujuannya, agar program-program pemulihan perekonomian di Jawa Barat yang diiniasi Gubernur Jabar, dapat berjalan lancar melalui Pesat melalui layanan teknologi digital bernama DiSentra
“Pengusaha UMKM yang saat ini kami kembangkan tidak semuanya membutuhkan modal. Mereka juga membutuhkan pendidikan, training, dan pelatihan, serta pembinaan saat mereka berusaha melalui layanan digital Bank BJB,” tutup Beny Riswandi.***