Pengguna Internet Merawat Jejak Digital yang Positif

pengguna internet merawat

Bandung Side, Kabupaten Subang – Pengguna internet merawat jejak digital terkadang kita merasa bebas untuk menggunakannya tanpa memikirkan dampaknya di masa depan dari data yang kita tinggalkan.

Setiap aktivitas kita di dunia digital itu tanpa disadari meninggalkan jejak baik positif atau negatif. Data-data yang tertinggal itu disebut dengan jejak digital.

Rekam jejak digital pengguna internet adalah jejak data yang kita buat dan kita tinggalkan saat menggunakan perangkat digital.

Salah satu ancaman terbesar bagi kaum muda di situs media sosial ialah jejak digital yang berpengaruh pada reputasi masa depan kita.

Sekarang ini sangat mudah bagi kita untuk mengetahui karakteristik seseorang, yakni dengan melihat akun media sosialnya. Bentuk rekam jejak digital yang kita tinggalkan itu riwayat pencarian, foto dan video, pesan teks, unggahan media sosial, lokasi, interaksi di media sosial (like, komentar, dan share), dan izin akses.

“Dengan mengetahui bahwa ada jejak digital. Penting untuk kita lebih berhati-hati dengan apa yang kita unggah. Karena hal tersebut dapat digunakan atau merugikan kita di masa depan,” jelas Dasep Purnama sebagai Instruktur Edukasi4ID dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (09/11/2021).

Ia menyampaikan, penting juga untuk kita memahami implikasi atau dampak, baik positif atau negatif dari setiap tindakan kita di dunia maya. Saat berkaitan dengan dunia kerja, terdapar beberapa parameter yang digunakan rekruter untuk menilai calon karyawan melalui media sosialnya, seperti tata bahasa, interaksi, foto, dan lingkaran pertemanan pelamar. Kita harus tahu apa yang kita upload di media sosial.

Salah satu cara untuk melihat jejak digital kita ialah dengan mencari nama pada mesin pencarian. Ketika informasi yang keluar hal yang baik, itu menandakan bahwa kita memiliki jejak digital yang positif. Sebaliknya, ketika yang keluar hal buruk, itu menandakan bahwa kita harus segera memperbaiki diri dalam memakai internet. Segera juga hapus postingan negatif yang masih bisa dihapus.

“Jejak digital itu ada dua sisi, penyalahgunaan jejak digital yang menerbitkan atau berbagi informasi yang merusak reputasi atau mempublikasikan informasi pribadi yang mengarah pada penindasan. Sisi lainnya itu ada pemanfaatan jejak digital, yaitu merancang jejak digital yang baik, meninggalkan catatan karya dan prestasi di platform digital,” jelas Dasep.

Untuk membuatnya selalu baik, tentu kita harus pandai merawat jejak digital. Caranya dengan mengatur privasi di media sosial, memeriksa cookies dan riwayat pencarian, posting hal-hal positif, hapus aplikasi yang tidak dipakai, gunakan kombinasi yang kuat untuk kata sandi, dan selalu update sistem. Sebab apapun yang telah kita bagikan di internet akan tetap bertahan di sana meski sudah dihapus.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (09/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Gunarti Sukriyatun (Kepala SMPN 14 Kota Bogor), Tetty Kadi (DPR RI 2009-2014), Ridho Wibowo (Instruktur Virtual Coordinator Training Jawa Barat), dan Inayah Chairunnisa sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan