Mengetahui Perbedaan Menabung vs Investasi

mengetahui perbedaan

Bandung Side, Kabupaten Cirebon – Mengetahui perbedaan saat ekonomi kita dikatakan sebagai ekonomi digital, ini karena kita telah terkoneksi secara digital sehingga dapat membedakan menabung dan investasi.

Menurut data Hootsuite, total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta dengan pengguna internetnya 202,6 juta. Sebanyak 170 juta merupakan pengguna aktif media sosial.

Kita hidup dalam dunia digital, oleh karena itu kita harus mulai beradaptasi agar gaya hidup kita sesuai, aman, dan produktif.

“Mari kita mengejar ketinggalan kita dengan ilmu-ilmu yang dibutuhkan di era digital,” tutur Bowo Witjaksono Suhardjo, Komisaris Independen IndoSterling dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (02/11/2021).

Beberapa hard skills di era digital ini di antaranya, programming digital business analyst, digital designer, digital project management, social media specialist, leadership, dan sesuatu yang baru.

Kemampuan hard skill juga perlu diimbangi dengan soft skills di era ini.

Di antaranya, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, kolaboratif, emotional intelligence, fleksibilitas dan adaptibilitas, akuntabilitas, serta produktifitas.

Bagi Bowo, salah satu jenis produktifitas ialah yang berkaitan dengan keuangan, seperti menabung dan berinvesitasi.

Menabung diartikan sebagai menyisihkan sebagian bagian dari pemasukan untuk disimpan bisa digunakan untuk jangka pendek dan jangka panjang.

Sementara investasi merupakan penanaman modal yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan di masa mendatang, secara umum digunakan untuk jangka panjang dan memiliki tujuan tertentu.

Dari segi risiko, menabung cenderung memiliki resiko yang rendah dan dijamin oleh Lembaga Penjaminan Simpanan sedangkan investasi merupakan resiko menengah sampai tinggi dan tidak ada lembaga penjaminan. Penjaminan dilakukan berdasarkan transaksi.

Tidak sebanyak investasi, jenis tabungan biasanya hanya terdiri atas tabungan biasa dan deposito berjangka. Jenis investasi terdiri dari reksadana, obligasi, saham, P2P Lending, forex, emas, properti, serta benda seni dan antik.

“Kita berinvestasi karena di kehidupan kita tetap harus berhubungan secara finansial, jadi kita harus mandiri dan meningkatkan taraf hidup kita,” kata Bowo.

“Harus mengurangi hutang, mencapai tujuan tertentu misalnya membeli rumah, dan untuk perlindungan masa depan juga dana pensiun,” ujar Bowo Witjaksono Suhardjo.

Bowo menuturkan, investasi harus dilakukan sejak dini, secara berkala, bertahap, dan rutin, jadi berinvestasi itu tidak harus dalam angka yang besar.

Sebelum berinvestasi, kita harus memiliki perencanaan keuangan. Evaluasi kondisi keuangan, kita punya dana berapa dan berapa yang ingin disisihkan. Catat setiap pemasukan dan pengeluaran yang ada.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (02/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Tedi Susanto (Guru Prodi Teknik Komputer dan Jaringan SMKS Wahidin Kota Cirebon), Sri Handayani (Guru Biologi SMAN 1 Sumber), Theo Derick (CEO & Co-Founder of Coffee Meets Stocks), dan Ida Rhijnsburger sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan