Bandung Side, Kabupaten Bandung – Optimalkan mendampingi anak tidak mampu mengelola gawai dengan bijak maka perlu orang tuanya untuk mengawasi.
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari orang tua dan anak.
Konsep orang tua ini tidak harus ayah dan ibu, bisa juga ibu saja atau ayah saja, tergantung kondisi dari keluarga masing-masing.
Masalah psikologis yang muncul di dalam orang yang sebagian besar disebabkan karena faktor keluarga dan biasanya itu adalah terkait dengan relasi antara seseorang dengan orang tuanya sewaktu masih kecil.
Hal ini diungkapkan, Laura Ajawaila, psikolog klinis dewasa saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (30/10/2021) pagi.
Maka, penting sekali untuk orang tua menjadi teman yang baik anaknya. supaya meminimalkan munculnya keluhan-keluhan psikologis ketika dia dewasa nanti.
Lantas, di era digital saat ini pengasuhan anak tentu berbeda dari zaman sebelumnya.
Laura mengatakan, orang tua harus dapat mengoptimalkan pengasuhan anak di era digital dengan tetapkan rutinitas digital yang sehat untuk keluarga.
Setiap keluarga pasti punya kebijakannya masing-masing, punya value yang mau diangkat, berbeda-beda pastinya dan punya kebutuhan juga.
Ada orang tua yang keduanya bekerja, atau hanya ayahnya yang bekerja.
“Rutinitas disesuaikan dengan kebutuhan dan harapan dari masing-masing keluarga,” ujar Laura.
“Intinya, ketika orang tua sedang menetapkan aktivitas digital pastikan orang tua juga menaati dalam rutinitas tersebut, supaya anak bisa mencontoh dari orang tuanya kalau anak melihat orang tuanya tidak patuh, mereka akan mengikuti,” jelas Laura Ajawaila.
Jadilah teman anak saat eksplorasi hal-hal baru di dunia digital dan beri ruang komunikasi dua arah dengan anak.
Ini sangat penting sekali, jadi orang tua itu perlu mendampingi anak saat mereka beraktivitas atau berselancar internet.
Paling tidak membangun komunikasi, agar orang tua bisa memonitor perkembangan anak di era digital.
Contohnya adalah dengan mencari tahu nih apa yang sedang diminati anak di dunia digital.
Saat ini anak sedang suka dan gandrung KPop, oang tua dapat cari tahu. Orang tua apa bisa masuk ke dunia anak-anak dan bisa berkomunikasi dua arah.
Berikutnya, orang tua perlu menjadi pendengar yang baik saat anak mengungkapkan pendapat atau berkeluh kesah.
“Kita sendiri kalau kita ingin bercerita langsung dimarahin atau kita langsung disudutkan pasti tidak suka. Tidak nyaman diperlakukan seperti itu, maka, coba lakukan supaya anak kita juga merasa nyaman dan merasa diperhatikan, disayang, diayomi jika mereka ingin bercerita,” saran Laura.
Selanjutnya, perhatikan tingkah laku anak saat sedang beraktivitas di ruang digital, ketika mereka menemukan komentar atau konten yang membuatnya cemas atau membuatnya tidak nyaman.
Orang tua dapat membuat mereka tenang. Ajak mereka berlatih relaksasi. Sederhana saja, kita hanya perlu menyadari saat sedang bernafas, udara kita hirup dan nafas yang kita hembuskan.
Karena seringkali, kita tidak sadar saat bernafas karena nafas itu gratis.
Tidak perlu usaha tetapi jika relaksasi itu kita lakukan secara sadar supaya kecemasan itu atau rasa tidak nyaman itu berkurang sehingga menjadi lebih tenang.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (30/10/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara, Dudi Rustandi (dosen Telkom University), Yoseph Hendrik (dosen Tarakanita), Oktavian Jasmine (entrepreneur), dan dr. Wafika Andira sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***