Bandung Side, Kabupaten Cirebon – Mewaspadai kejahatan social engineering yakni suatu teknik pencurian atau pengambilan data atau informasi penting dari seseorang dengan cara menggunakan pendekatan manusiawi melalui mekanisme interaksi sosial.
Biasanya social engineering ini mengeksploitasi kelemahan manusia, seperti ketakutan, rasa percaya, dan rasa ingin menolong.
“Kelemaham manusia ini sangat bisa dieksploitasi, misalnya ketakutan yang digunakan untuk mendapatkan informasi dengan pura-pura jadi pihak berwajib karena tersangkut masalah,” jelas Aries Saefullah sebagai anggota Relawan TIK Indonesia dalam webinar Literasi Digital di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (23/10/2021).
Aries Saefullah menjelaskan, tipe social engineering mencakup dua hal, yaitu interaksi teknologi dan interaksi sosial.
Interaksi teknologi juga harus mewaspadai kejahatan meliputi email phishing, aplikasi chatting, pop up iklan, software, hingga sebuah dokumen yang bisa timbul.
Sementara melalui interaksi sosial pelaku berpura-pura menjadi user sah, user penting, vendor, konsultan, dan penegak hukum.
Kebanyakan kejahatan social engineering menargetkan semua orang, tetapi yang paling sering menjadi korban ialah receptionist, pendukung teknis atau admin, pengguna sistem, mitra kerja, karyawan baru, serta orang yang sangat awam terhadap teknologi.
“Mungkin kita sudah melindungi dengan firewall dan sebagainya. Itu secara infrastruktur dan sebagainya sudah terbentengi, tetapi yang perlu dibentengi dari infrastruktur dan softwarenya itu dari sisi usernya. Karena kelemahan paling dasar itu adanya di sisi user,” ungkap Aries Saefullah.
Pencegahan social engineering dapat dilakukan di manapun selama tidak memberikan data pribadi secara sembarangan.
Selain itu, Aries Saefullah menyampaikan kita harus mengubah password setiap akun media sosial secara rutin minimal 6 bulan sekali, dan selalu mengupdate informasi mengenai literasi digital terutama mengenai kejahatan-kejahatan di dalamnya.
Aries mengatakan, sisi terlemah dari sebuah data dan informasi pada dasarnya bukan terletak pada infrastruktur ataupun sistem, tetapi pada sisi manusia sebagai user.
Maka dari itu, menerapkan zero trust di dunia digital adalah sebuah keharusan.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (23/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Abhyani Prastika (Digital Marketer), Putri Puspita Ayu (Dosen Universitas Swadaya Gunung Jati), Octavian Jasmin (CEO of Prospero Food), dan Ida Rhijnsburger sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***