Sopan dan Beradab di Dunia Digital dengan Jeda Berpikir Kritis

sopan dan beradab

Bandung Side, Kabupaten Majalengka – Sopan dan Beradab mengidentifikasi saat di dunia digital menjadi rekam jejak pengguna internet saat berinteraksi di media sosial.

Survei Digital Civility Index (DCI) 2020 oleh Microsoft, menempatkan Indonesia di urutan terakhir dari “Kesopanan di dunia digital”.

Survei tersebut juga menyebut beberapa hal yang mengidentifikasi menjadi ancaman media sosial di Indonesia yakni 47% berupa hoaks dan penipuan, 27% ujaran kebencian, dan 13% untuk diskriminasi.

“Penelitian dari Departement of Psychology Rider University mengungkap, anonimitas yang disediakan oleh dunia maya memungkinkan orang untuk melakukan dan mengatakan hal yang tidak akan pernah mereka lakukan di dunia nyata,” kata Vena Annisa, COO V&V Communication.

Anonimitas tersebut menurut penelitian ada beberapa faktor yang menjadikan manusia tersebut memiliki tingkah laku yang berbeda saat berinteraksi di dunia maya,” Vena Annisa, saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat I, pada Kamis (23/9/2021).

Dalam teori psychology of cyberspace oleh John Suler, Ph.D anonimitas tersebut dikatakan sebagai disinhibition atau seseorang melakukan kegiatan yang lebih bebas, tidak terkekang oleh aturan tertentu seperti itulah yang dilakukan di dunia maya.

Anonimitas ini juga membuat orang merasa tidak diketahui identitasnya, orang lain tidak bisa melihatnya namun sopan dan beradab saat interaksi.

“Adab untuk memiliki kesadaran di dunia maya adalah semua yang kita anggap ini adalah semu karena sebenarnya meski anonim sebetulnya identitas kita, jejak digitalnya pun tetap bisa diketahui,” kata Vena.

Vena Annisa pun mengingatkan agar setiap orang saat berada di internet melalukan hal yang berhubungan dengan orang lain sangat berdampak besar.

Karena cyberbullying, aktivitas online sangat berhubungan dengan fisik dan mental korban.

Seperti harga diri rendah, depresi, kecemasan, masalah keluarga, kesulitan akademik, kenakalan, kekerasan di sekolah, dan pikiran untuk bunuh diri.

Sehingga dalam dunia maya, jeda untuk berpikir kritis menjadi sangat penting.

“Sebetulnya adab dan kesopanan di dunia maya ujungnya di sini. Jeda untuk berpikir kritis, jika saya melakukan ini akibatnya apa, sehingga tidak lagi menjadi orang yang bebas dalam dunia maya, karena mentang-mentang kita tidak ketahuan,” tutur Vina Annisa.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Hadir pula nara sumber seperti Dony Susandi, Dosen Teknik Industri Universitas Majalengka, Loka Hendra, Head of Food & Beverage Cinepolis Indonesia, dan Rino, Kaprodi Teknik Informatika Universitas Buddhi Dharma.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan