Bandung Side, Kabupaten Bandung – Permasalahan Netizen melatarbelakangi Program Indonesia makin cakap digital yakni untuk mengenalkan, memahami, mengoptimalkan demi meningkatkan kualitas hidup kita terkait dengan hal-hal yang berkaitan dengan internet.
Psikolog Oryza Sativa mengatakan, memperkenalkan budaya Indonesia melalui literasi digital. Mengutip tokoh psikologi Koentjaraningrat, budaya ialah cara hidup yang berkembang dan diwariskan.
Budaya itu sendiri berasal dari kata budayah bentuk jamak dari bahasa Sansekerta yang artinya adalah akal jadi Budaya merupakan akal.
“Sebetulnya akal itu melahirkan cara hidup dan cara hidup itu sendiri berakar dari nilai hidup. Saya ingin menjabarkan apa itu yang menjadi nilai hidup yang merupakan akar hidup dari budaya kita,” kata Oryza Sativa.
Mempelajari budaya harus dipahami apa saja akarnya nilai hidup yang diwariskan. Pada akhirnya akan melahirkan beberapa hal misalnya tradisi, politik budaya itu sendiri dan agama.
“Jadi, sebenarnya budaya itu adalah salah satu dari nilai hidup kita,” ujar Oryza Sativa di webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (24/8/2021) pagi.
Inilah berbagai permasalahan netizen Indonesia yang sepertinya jauh dari nilai hidup yang sesungguhnya. Permasalahan para netizen yang juga terjadi pada anak dan remaja khususnya seperti menurunkan atensi dan konsentrasi.
Tidak hanya bagi remaja dan anak saja dalam belajar yang kurang konsentrasi terkadang internet yang selalu digunakan ini mempengaruhi juga konsentrasi pekerjaan para orang dewasa. Lalu berbagai macam kesehatan yang mengganggu migrain kemudian gangguan leher punggung persyarafan dan lain-lain.
Kemudian menyebabkan berita bohong. Itulah tantangan di dunia digital adanya risiko tindak kejahatan misalnya prostitusi online, judi online, perundungan, dan perampokan.
“Berbagai gaya hidup yang buruk kita ketahui bersama anak-anak zaman sekarang itu tidurnya malam bangunnya. Kebiasaan membungkuk karena selalu pegang gadget hal-hal semacam ini yang cukup memprihatinkan ditambah kecanduan game atau pornografi kemudian paparan aliran-aliran misalkan radikalisme, terorisme, komunisme kemudian krisis identitas,” ungkap Oryza Sativa.
Jika kita hidup berpatokan memiliki nilai hidup dari orang tua dan guru kalau anak sekarang memiliki patokan dari influencer atau selebgram. Maka sebelumnya kita menanamkan sikap yang baik, anak-anak kita ini akan menjadi tertata.
Banyak orang tua menjadi semacam lost atau kehilangan anak-anaknya karena merasa tidak bisa memahami anak-anaknya. Tidak bisa dikendalikan, tidak bisa diatur berbicara kasar.
Kita dalam melihat siapa modelnya. Permasalahan lain, ini cukup memprihatinkan soal risiko terkait seksual, misalkan LGBT, seks bebas, dan lainnya. Berikutnya berbagai gangguan klinis perilaku misalnya perilaku narsistik yang memuja diri sendiri.
Impulsif mengikuti semua dorongan kata hati tanpa pertimbangan yang bijak kemudian.
Kecemasan-kecemasan adalah ketakutan yang tidak berdasar dan tidak masuk akal dan hedonis perilaku menjaga kenikmatan semua di-share.
Belum lagi berbagai perilaku konsumtif akibat dari paparan berbagai jualan online. Sekarang ada dengan penawaran yang gila-gilaan, diskon ongkir, dan diskon lainnya.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (24/8/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara Oktavian Jasmin (F&B Business Owner), Kharisma Nasionalis (Dosen dan Peneliti Telkom University), Katherine Jioe (Pebisnis Online), dan Aflahndita sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan Literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***