Bandung Side, Kabupaten Cirebon – Perilaku jaga data keamanan belum sepenuhnya disadari oleh pengguna internet sehingga ketika kita sedang berseluncur tidak menyadari untuk selalu menjaga data pribadi.
Misalnya saat membagikan lokasi keberadaan, jika sering membagikan lokasi hingga terbentuk pola aktivitas sehari-hari. Menjadi celah bagi oknum jahat untuk memetakan aktivitas kita.
Fhassi Anfiqi, konsultan desain interior data perusahaan multinasional menceritakan sebuah kasus yang terjadi di Arkansas, Amerika Serikat seorang perempuan diculik lalu dibunuh oleh seorang psikopat.
Bukan untuk mengincar harta karena dia memang psikopat yang memiliki kepuasaan untuk menyiksa manusia. Dia mencari mangsanya dengan acak salah satunya melihat media sosial.
Korban ternyata hobi membagikan rute lari pagi yang kerap dia lakukan setiap hari.
“Berbagi foto sendiri juga jangan terlalu sering bahkan menampilkan bentuk tubuh yang menggoda. Nanti dapat dicuri untuk diunggah kembali namun dengan narasi yang berbeda, kata Fhassi Anfiqi.
Biasanya juga akan diunggah di akun pornografi untuk menarik perhatian. Belum lagi kalau foto-foto kita itu diunggah di media sosial lain dan mengaku-ngaku sebagai kita.
“Setelah banyak yang percaya kalau itu kita nanti penipu akan mulai beraksi meminjam uang mengatasnamakan kita,” ungkap Fhassi Anfiqi di webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Cirebon Jawa Barat, Jumat (13/8/2021).
Bukan tidak boleh memasang foto selfie, namun perlu diperhatikan, jangan terlalu banyak dan selalu foto sopan sehingga tidak mengundang oknum jahat untuk memasang foto kita di akun pornografi.
Foto lain yang tidak untuk dibagikan ialah foto KTP, tiket pesawat, kartu vaksinasi dan semua yang memuat data diri kita secara lengkap.
Setelah yakin tidak membagikan data pribadi yang berisi data pribadi yang harus kita lakukan lagi menjaga keamanan digital.
Menjaga kunci utama yakni password, PIN, kode dua verifikasi dan kode OTP. Kode One Time password (OTP) ini yang biasanya dengan mudah diambil.
Kode OTP ini merupakan salah satu cara platform memastikan itu adalah kita sebagai pengguna. Mereka sudah memberikan pengamanan ganda.
“Maka dari kita perlu kewaspadaan yang lebih untuk tidak mepercaya,” ucap Fhassi Anfiqi.
“Intinya jika ada seseorang yang meminta kode dari SMS atau pesan WhatsApp yang masuk, jangan pernah kita bagikan kode tersebut. Seringkali kode yang datang menggunakan bahasa selain Indonesia,” jelas Fhassi Anfiqi.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Jumat (13/8/2021) juga menghadirkan pembicara Ignatius Wisnu Channel (manager ABB Indonesia Robotic0, golda Siregar (Senior Consultant Power Character), ahmad Rofahan (Ketua RTIK Kabupaten Cirebon), dan Sari Hutagalung sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***