Era Digitalisasi Mempermudah Promosi Budaya

Era Digitalisasi

Bandung Side, Kabupaten Bogor – Era digitalisasi menjadi lebih memahami literasi budaya bangsa Indonesia, namun generasi milenial kurang memahaminya.

Kebudayaan diartikan sebagai seluruh pola perilaku dan bagaimana sebuah bangsa mengatur pola perilaku itu yang bisa tercermin dalam lambang kesenian misalnya tari yang bersifat keindahan, termasuk bahasa, dan tradisi, bahkan benda-benda kebudayaan.

Budaya juga bisa mengatur hubungan antar manusia, dalam mengatur masyarakat tertentu bagaimana berinteraksi dengan orang lain, serta sebagai wadah segenap perasaan masyarakatnya.

“Indonesia merupakan bangsa yang sangat bangga dengan budayanya dan memiliki etnolinguistik paling banyak di dunia. Namun di era digital saat ini kesadaran akan budaya bangsa sendiri semakin menipis sebab kurangnya pemahaman literasi budaya yang kurang,” ujar Clara Tobing, Kaprodi FH UBJ saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, Rabu (30/6/2021).

Clara Tobing mengatakan, literasi kecintaan terhadap budaya ini menipis karena kurangnya kesadaran berpartisipasi dalam acara kebudayaan di era digitalisasi.

Selain itu ada pengaruh internalisasi nilai budaya kesejarahan yang kurang dari keluarga, terbatasnya ruang ekspresi berbudaya.

Generasi milenial yang kurang paham budaya ini disebabkan karena kurang pengajaran mengenai budaya tersebut.

“Jadi teknologi informasi yang ada saat ini kurang dimanfaatkan untuk mempromosikan budaya kita,” ujar Clara.

Clara mengungkapkan, digital teknologi yang ada saat ini seharusnya menjadi cara untuk mengenalkan budaya, apalagi sering kali terjadi budaya Indonesia yang akhirnya diklaim negara lain.

Misalnya dengan penjualan barang-barang bersifat budaya melalui marketplace yang sempat dilakukan salah satu marketplace, di mana ada kegiatan UKM pasar budaya yang menjual produk lokal bisa berupa makanan lokal hingga barang yang bersifat budaya.

“Di era pandemi yang membatasi pariwisata saat ini. Sebenarnya tetap bisa dilakukan pertunjukan pekan kebudayaan daring, jadi daripada mati total, mengalihkan ke era teknologi dengan melakukan live streaming melalui internet,” kata Clara lagi.

Ada lebih banyak cara lagi mengenalkan dan melestarikan budaya Indonesia melalui teknologi. Seperti dengan penggunaan aplikasi pengenalan budaya.

Tiap daerah di Indonesia dapat memanfaatkannya sebagai sarana informasi yang diperkenalkan kepada generasi masa kini yang masih kurang dalam literasi budaya negeri sendiri.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Webinar kali ini juga mengundang nara sumber seperti Dee Rahma seorang Digital Marketing Strategist, Ninik Rahayu Pimpinan Ombudsman RI 2016-2021, dan Ardie Halim Kaprodi Management Informatika Universitas Buddhi Dharma.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan