Bandung Side, Kabupaten Bekasi – Kecanduan game online merupakan efek dari kecanggihan teknologi yang sedang digandrungi anak-anak dan remaja, namun membuat resah orang tua.
Revolusi industri dari kecanggihan teknologi mengubah dunia. Internet memberikan peluang untuk mendapatkan akses informasi dengan cepat, tepat dan terjangkau.
Salah satu produknya adalah video game yang menjadi idola bagi semua kalangan juga anak-anak dan remaja.
Hal yang menjadi sensitif adalah video game menyebabkan kecanduan. Kecanduan diartikan sebagai ketergantungan psikologis yang abnormal, bisa pada makanan, seks, pornografi, internet, kerja, olahraga, idola, tv, obsesi spiritual, dan belanja.
Lucas Alvian Susanti, Konseler SMA Santo Yakobus saat webinar Literasi Digital wilayah Jawa Barat I, Kabupaten Bekasi, Senin (28/6/2021) mengungkapkan ada berbagai faktor yang menjadi penyebab kecanduan.
Di antaranya karena adanya tujuan dan target yang jelas, kemudian karena sensasi potensi dan prestasi, rasa memiliki dan kebersamaan, termasuk karena pelarian dan identitas.
“Maka kalau melihat orang kecanduan ada tingkatannya, pertama bermain game menjadi aktivitas terpenting dan mendominasi pikiran, kedua karena intensitasnya tinggi, ketiga karena modifikasi mood disebabkan rasa euphoria dari main game, dan terakhir kecanduan main game karena perasaan tidak nyaman saat waktu bermain dikurangi atau diberhentikan, perilaku ini sering terjadi pada anak-anak,” kata Lucas.
Level selanjutnya tetap kecanduan meskipun sudah berhenti dan ada kecenderungan untuk kembali lagi.
Level keenam sudah dalam tahap konflik interpersonal yang disebabkan bermain game, dan level ketujuh kecanduan yang menyebabkan masalah karena sudah berlebihan hingga mengesampingkan tanggung jawab dan mengejar kesenangan.
Lalu apa yang bisa dilakukan jika tanda kecanduan tersebut sudah terjadi? Lucas mengungkapkan tidak cukup dengan teguran atau hukuman.
Perlunya pemilihan game atau aktivitas di internet yang edukatif, sampai pendidikan di rumah, perlunya perhatian orang tua, hingga mendapatkan bimbingan dan konseling.
Orang-orang yang kecanduan karena tidak memiliki rasa aman, bernilai, dihargai, dipahami dan dicintai. Maka orang tua harus lebih banyak mendengarkan anak dengan hati, bukan hanya telinga. Banyak keluhan-keluhan yang sampai ke anak tidak terdengar.
“Orang tua perlu memandang anak dengan kasih, mencoba meresapi perasaan anak dan bukan menganalisa dengan pikiran,” tutur Lucas yang juga Founder Creative Counseling Centre.
Orang tua memiliki peran menanamkan nilai kehidupan pada anak di masa kini dan masa nanti, sehingga anak tidak mengalihkan atau melakukan pelarian dunianya ke game online.
Sebab bila orang tua sudah melakukan hal itu anak-anak merasa aman, berarti, bernilai, dihargai, dipahami, dan dicintai.
Untuk itu saling berbagi antara orang tua dan anak dengan membangun kedekatan bisa menjadi jalan agar anak tidak kecanduan game online.
Webinar Literasi Digital untuk wilayah Jawa Barat I Kabupaten Bekasi merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.
Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Reza Hidayat CEO Oreima Films, Dino Hamid Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia, dan Yani Sujana dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.
Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***