“Sound to The Soul”, The Papandayan Jazz Fest 2026 Siap Merawat Tradisi Jazz Kota Bandung

Sound to The Soul, The Papandayan Jazz Fest 2026 Siap Merawat Tradisi Jazz Kota Bandung

Bandung Side, Gatsu — Sound to The Soul membalut festival musik jazz tahunan kebanggaan Kota Kembang, The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2026, kembali hadir menyapa para pencinta musik tanah air dengan banyak sentuhan dan warna kolaborasi.

Tahun ini, TPJF yang digelar 3 – 4 Oktober mengusung tema “Sound to The Soul”, sebuah konsep yang mengajak pendengar menyelami sisi emosional, historis, dan spiritual dari musik jazz yang mampu menyentuh jiwa.

Ajang yang konsisten diselenggarakan di The Papandayan Hotel Bandung ini akan menghadirkan deretan musisi jazz kenamaan lintas generasi, mulai dari maestro legendaris Indonesia hingga musisi internasional. Lebih dari sekadar pertunjukan musik, TPJF 2026 dirancang sebagai ruang apresiasi seni, wadah kolaborasi, serta panggung edukasi bagi para pelaku dan penikmat musik.

Tema “Sound to The Soul” dengan Akar Sejarah Musik Jazz di Bandung
Pemilihan tema “Sound to The Soul” memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan panjang Kota Bandung sebagai salah satu rahim perkembangan musik jazz di Indonesia. Berdasarkan catatan arsip pers kolonial seperti De Preanger Bode dan majalah gaya hidup Mooij Bandoeng era 1920–1930-an, ritme ragtime dan jazz band telah bergema di Bandung sejak abad ke-20—mulai dari aula Sociëteit Concordia (kini Gedung Merdeka) hingga ballroom bersejarah di kawasan Asia Afrika dan Braga.

Pada era 1920-an, banyak jazz band yang disewa oleh pengelola gedung dan hotel di Bandung diimpor langsung dari Filipina (seperti grup The Jazz Tonding atau Filipino Band), karena mereka dianggap paling cepat menguasai tren musik jazz Amerika. Bahkan orkes Militer Belanda (KNIL) yakni anggota korps musik militer Belanda di Bandung kerap membuat combo band sampingan untuk tampil memutar musik pop/jazz ringan di pesta-pesta swasta mengiringi acara dansa (dansavond) Sabtu malam. .

Grand Hotel Preanger menjadi tempat favorit hiburan malam. Restoran dan ballroom-nya rutin menampilkan live band yang membawakan musik jazz populer era Dixieland dan Swing dari piringan hitam maupun musisi langsung. Begitu juga dengan Hotel Homann (Savoy Homann), setelah direnovasi dengan gaya Art Deco pada akhir 1930-an, Savoy Homann menjadi salah satu pusat pesta dan pertunjukan musik paling bergengsi bagi masyarakat Belanda di Bandung.

Masih dikawasan jl. Baraga, Majestic Theatre, bioskop ini tidak hanya memutar film bisu, tetapi di era 1920-an awal kerap menyiagakan kelompok musik (pit orchestra) yang mengiringi film dengan ritme-ritme proto-jazz atau ragtime sebelum era film bersuara (talkies) masuk di Kota Bandung.

Meski menikmati musik jazz untuk pergaulan sosial, kaum menak tidak pernah meninggalkan tradisi lokal. Di kediaman resmi (Pendopo Bupati), kesenian tradisional seperti Gamelan Salendro, Tembang Sunda Cianjuran, dan Kliningan tetap menjadi identitas utama. Jazz diposisikan sebagai hiburan pelengkap gaya hidup modern.

Sound to The Soul, The Papandayan Jazz Fest 2026 Siap Merawat Tradisi Jazz Kota Bandung
Sound to The Soul, TPJF 2026 Siap Merawat Tradisi Jazz Kota Bandung

Menjadi era perintis dan menjadi pondasi awal akan perkembangan music Jazz di Kota Bandung dengan hadirnya Eddy Karamoy (gitaris) dan Joop Talahahu (saksofonis) sosok figure sentral pergerakan music jazz yang secara rutin menyajikan pertunjukan di Aula Barat ITB, gedung pertemuan dan even-even lainnya diseputar kampus.

Hadirnya sosok Bubi Chen berasal dari Surabaya yang merupakan maestro piano jazz Indonesia memberi kontribusi pembentukan reputasi akademik dan musikalitas di Bandung, diranah perguruan tinggi.

Menyongsong era komunitas tahun 1980 – 2000 an, lahir composer, ikon music jazz dan berlakunya regenerasi menjadi saksi sejarah perkembangan jazz di bandung yakni Dwiki Darmawan, Krakatau Band mengusung jazz fusion berbalut etnik Sunda yang secara kuat menginspirasi banyak anak muda Bandung terprovokasi menjadi penikmat.

Sosok Imam Prasseno, Venche Manuhutu, David Manuh Tutrio, musisi, komponis sekaligus pengajar jazz di Kota Bandung hingga lahirnya sosok Hari Pochang pemain harmonika, Rieka Roslan dibalik grup The Groove -nya, Dira Sugandi vokalis jazz yang aktif mempromosikan music jazz Bandung ke panggung global, serta Grace Sahertian, vocal coach jazz Bandung dengan performance unik memadukan elemen jazz, soul dan R&B yang cukup digandrungi kalangan mahasiswa seni di Bandung.

Tema ‘Sound to The Soul’ pada The Papandayan Jazz Fest 2026 menjadi refleksi dari perjalanan panjang musik jazz di Bandung selama lebih dari satu abad. Sejak pertama kali bergema di ruang-ruang publik Kota Kembang pada era 1920-an, jazz di Bandung telah bertransformasi dari sekadar tren gaya hidup masa lalu menjadi ‘suara jiwa’ yang menyatu dengan nilai budaya Pasundan. Lewat improvisasi, kejujuran rasa, dan ruang kebebasan berkarya, TPJF 2026 mempertegas Bandung sebagai kota tempat jazz meresap dan menyentuh jiwa dari generasi ke generasi. (*dari berbagai sumber)

“Bandung dan jazz memiliki ikatan emosional yang telah terjalin selama lebih dari satu abad. Melalui ‘Sound to The Soul’, kami ingin menghadirkan pengalaman bermusik yang tidak hanya merayakan ketangkasan harmoni, tetapi juga menyentuh kedalaman rasa dan jiwa. TPJF 2026 adalah bentuk keberlanjutan dari tradisi panjang tersebut dalam balutan ekspresi yang modern,” ujar Dwiki Dharmawan, composer.

“Jazz sangat luas harmoninya, improvisasinya, berekpresinya dan berinteraksinya sehingga perkembangannya di Kota Bandung yang sudah lebih dari 100 tahun perjalanan sejak era 1920 berasimilasi, perjalanannya di dunia saling mempengaruhi baik ruang, waktu, dan tempatnya terus beradaptasi hingga sekarang,”pungkas Dwiki Dharmawan.

Rangkaian TPJF 2026 lebih Berwarna
Selain pertunjukan panggung utama (main stage), TPJF 2026 juga diramaikan dengan serangkaian program unggulan, di antaranya:

– TPJF International Jazz Competition: Panggung kompetisi bagi band-band jazz muda berbakat untuk menunjukkan kebolehan mereka di hadapan juri profesional.
– Masterclass & Music Clinic: Sesi berbagi ilmu dan teknik improvisasi langsung dari para musisi senior.
– Pasar Jazz & Culinary Booth: Area bazar UMKM lokal yang menyajikan ragam kuliner khas Bandung serta pernak-pernik seni.

“Dengan bekerja keras, Tim TPJF 2026 membangun ekosistem agar menjadi destinasi wisata sehingga mempunyai dampak siknifikan dalam rangka mempererat atau menguatkan ekosistem dari music jazz di Kota Bandung agar tetap lestari dengan merawat tradisi jazz Kota Bandung
, salah satunya berkolaborasi dengan Kamaku Boutique dari Ratri Wijaya yang menjadi merchandise Utama saat gelaran TPJF 2026,”pungkas General Manager The Papandayan Hotel Bandung, Bobby Renaldi

Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal penampilan (lineup), pendaftaran kompetisi, dan pembaruan acara, kunjungi akun Instagram resmi @tpjazzfest atau situs resmi TPJF.***

Tinggalkan Balasan