Bandung Side, Dago – Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) resmi membuka pameran publik kolaboratif bertajuk “Setanah, Tak Diam” pada Jumat, 28 Agustus 2026. Pameran ini mengawinkan sains kebencanaan, seni, dan pengalaman warga untuk menerjemahkan kompleksitas potensi risiko geologi di Kawasan Metropolitan Bandung termasuk ancaman Sesar Lembang dan gunung api aktif di sekitarnya—menjadi ruang dialog publik yang imersif dan inklusif.
Pameran yang dijadwalkan berlangsung hingga Januari 2027 ini merupakan wujud hilirisasi riset bertajuk Exposed: Physical and Social Exposure to Seismic and Volcanic Threats in Bandung, Indonesia. Proyek riset ini digagas oleh konsorsium lintas negara yang melibatkan British Geological Survey (BGS), Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), University of Leeds, Gamma Metrics, dan Resilience Development Initiative (RDI).
Dukungan pendanaan berasal dari International Science Partnerships Fund (ISPF) melalui British Council bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI (Kemendiktisaintek RI), serta The Toyota Foundation.

Seni sebagai Jembatan Sains dan Warga
Dikurasi oleh Dr. Prananda Luffiansyah Malasan (ITB & SSAS) serta didukung tim peneliti seperti Dr. Ekbal Hussain (BGS), Dr. Endra Gunawan (ITB), Dr. Rahma Hanifa (BRIN), dan Dr. Prasanti Widyasih Sarli (ITB), pameran ini tidak bertujuan menyebarkan ketakutan. Sebaliknya, “Setanah, Tak Diam” mengajak masyarakat memandang pengetahuan sains sebagai landasan penting bagi budaya kesiapsiagaan.
Dr. Endra Gunawan, ketua tim peneliti dari ITB, menekankan pentingnya menggeser fokus dari sekadar memprediksi bahaya menuju pemahaman paparan sosial-fisik.
“Yang penting bagi kami bukan hanya memahami di mana bahaya dapat terjadi dan seberapa besar potensinya, tetapi juga mengidentifikasi siapa dan apa yang paling terpapar serta bagaimana pengetahuan tersebut dapat membantu masyarakat dan pemerintah mempersiapkan diri secara lebih efektif,” ujar Dr. Endra.
Dukungan Sektor Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat
Dari perspektif pemerintah daerah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Dr. Iendra Sofyan, S.T., M.Si., turut menyampaikan apresiasi mendalam atas digelarnya pameran seni-sains ini.
Pihaknya menilai kolaborasi ini tidak hanya penting untuk edukasi kebencanaan, tetapi juga menjadi modal berharga bagi pengembangan pariwisata berbasis ketangguhan (resilient tourism).
“Kawasan Bandung Raya dan Jawa Barat pada umumnya memang diberkahi lanskap keindahan alam yang luar biasa, namun sekaligus menyimpan karakter geologi yang sangat dinamis. Pameran ‘Setanah, Tak Diam’ di Selasar Sunaryo ini menjadi contoh konkret bagaimana seni dan sains bisa berjalan iringan untuk memberikan edukasi publik tanpa merusak daya tarik wisata. Edukasi dan kesiapsiagaan justru merupakan syarat utama agar destinasi budaya dan wisata kita tetap aman, berkelanjutan, dan memberikan rasa nyaman bagi warga maupun wisatawan,” ungkap Kadisparbud Jabar, Iendra Sofyan.

Komitmen Kolaborasi Internasional
Peresmian pameran dihadiri oleh deretan tokoh kunci, termasuk Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey, Country Director British Council Indonesia Summer Xia, Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara, Plt. Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN Dr. Luki Subehi, serta perwakilan Kemendiktisaintek RI Prof. I Ketut Adnyana.
Duta Besar Inggris, Dominic Jermey, mengapresiasi keberhasilan para peneliti dan seniman dalam menyajikan data geosains yang rumit menjadi pengalaman publik yang membumi.
“Pameran ‘Setanah, Tak Diam’ mengingatkan kita bahwa riset menjadi sangat berdaya guna ketika berhasil membantu warga memahami lingkungan di sekitarnya dan mengambil keputusan yang lebih baik demi masa depan,” tutur Dominic Jermey dalam pembukaannya.
Summer Xia dari British Council menambahkan bahwa pengetahuan menciptakan nilai terbesar ketika dibagikan, dipahami, dan digunakan secara nyata. Pameran ini membuktikan bahwa sains, seni, dan suara komunitas dapat bertemu untuk mengubah data akademis menjadi dialog dan aksi nyata.
Selain ruang instalasi visual dan edukatif, rangkaian pameran “Setanah, Tak Diam” selama beberapa bulan ke depan akan diisi dengan berbagai program publik, mulai dari kuliah umum, lokakarya, diskusi panel, hingga kegiatan komunitas guna memperkuat resiliensi warga Bandung.***