Bandung Side, RIAU – Sebanyak 680 relawan dan potensi Search and Rescue (SAR) dari wilayah Jawa Barat, Jabodetabek, dan Banten berkumpul di Taman Pramuka, Kota Bandung, Sabtu (7/3/2026).
Pertemuan lintas organisasi ini bertujuan memperkuat sinergi penanggulangan bencana di tengah meningkatnya ancaman hidrometeorologi di wilayah tersebut.
Kegiatan bertajuk “Saat Bencana, Relawan Tidak Pernah Absen, Kolaborasi Masih Dicari” ini menjadi wadah konsolidasi antara relawan, komunitas SAR, dan pemerintah.
Acara ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Direktur Bina Potensi Basarnas Agus Haryono, serta Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian Permana.
Ancaman Sesar Lembang dan Cuaca Ekstrem
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menekankan bahwa kolaborasi relawan sangat krusial mengingat kompleksitas risiko bencana di Bandung, mulai dari aktivitas Sesar Lembang hingga bencana hidrometeorologi.
“Dua hari terakhir saja tercatat 23 kejadian pohon tumbang akibat cuaca ekstrem. Ini sinyal bahwa antisipasi harus dilakukan secara serius,” ujar Farhan.
Farhan juga menyoroti perubahan tata ruang sebagai faktor non-alamiah yang memicu bencana. Farhan mencontohkan alih fungsi lahan di Cisaranten Kulon dan ancaman longsor di kawasan padat penduduk seperti Cihampelas dan Pasirlangu.
“Penanganan bencana adalah kewajiban komunal. Relawan adalah kekuatan sosial yang hadir tanpa diminta saat krisis terjadi,” tambah Farhan.

Soliditas Operasi SAR
Senada dengan Wali Kota, Direktur Bina Potensi Basarnas, Agus Haryono, mengapresiasi pola koordinasi yang sudah berjalan, khususnya dalam penanganan longsor di Desa Pasirlangu, KBB, beberapa waktu lalu.
“Basarnas tidak pernah bekerja sendiri. Kolaborasi seluruh unsur di Pasirlangu adalah bukti bahwa sinergi lintas sektor mempercepat respons di lapangan,” kata Agus.
Sementara itu, Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, mengingatkan bahwa tantangan ke depan memerlukan peningkatan kompetensi SDM dan pemanfaatan teknologi. Menurutnya, soliditas bukan sekadar kebersamaan fisik, melainkan kesatuan visi dalam misi kemanusiaan.
Era Ekosistem Terbuka
Praktisi Manajemen Kebencanaan, Bayu Tresna, menjelaskan bahwa Indonesia kini memasuki era open ecosystem dalam kebencanaan.
“Sistem penanggulangan bencana harus semakin adaptif menghadapi degradasi lingkungan dan perubahan iklim yang memicu bencana hidrometeorologis,” tegas Bayu Tresna.
Kegiatan yang didukung oleh EIGER Adventure ini juga menjadi momentum penyaluran bantuan kemanusiaan melalui program EIGER Share.
Bantuan berupa 1.000 potong perlengkapan outdoor (jaket, pakaian hangat, dan celana) disalurkan bagi penyintas longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Silaturahmi ini diharapkan mampu memperpendek rantai koordinasi saat terjadi kedaruratan, sehingga response time dalam operasi pencarian dan pertolongan dapat semakin efektif.***