Kegelisahan Identitas Arsitektur Indonesia Melahirkan Swanthara

Kegelisahan mengawali lahirnya Swanthara dari Arsitektur Hijau UNPAR sebagai tonggak perjalanan 40 tahun yang selalu mengingatkan bahwa Indonesia

Bandung Side, Ciburial – Kegelisahan identitas mengawali lahirnya Swanthara dari Arsitektur Hijau UNPAR sebagai tonggak perjalanan 40 tahun yang selalu mengingatkan bahwa Indonesia kaya akan budaya, keberagaman manusia dan kesempatan adanya ruang secara berkelanjutan berevolusi.

Menjadi tuntutan pembangunan di era globalisasi sehingga dapat menimbulkan banyak permasalahan lingkungan yang erat kaitannya dengan kelestarian alam dan masyarakat yang dikenal dengan istilah arsitektur vernacular sebagai identitas arsitektur Indonesia.

“Gelar pameran karya Program Studi Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan (HMPSArs Unpar) di Selasar Pavilion jl. Bukit Dago Timur, Bandung dengan tujuan pendokumentasian dan pelestarian arsitektur vernacular di Indonesia yang merupakan hasil dari ekspedisi guna mendukung bidang pendidikan, penelitian, pariwisata serta aspek social dan budaya,” ujar Annana, Ketua Pelaksana Pameran.

Mengusung tema pameran “Rekam Jejak 40 Tahun Arsitektur Hijau” memberikan cerminan hubungan harmonis antara manusia, budaya dan alam sehingga menjawab kebutuhan fungsional guna merespon iklim, memanfaat materi local dan mengartikulasikan nilai-nilai sosial masyarakat, tambah Annana.

Pameran Rekam Jejak 40 Tahun Arsitektur Hijau ini menampilkan 7 ekspedisi terakhir dalam 1 decade lebih mengenai interaksi manusia, budaya dan ruang vernacular yang berbeda-beda ditiap daerahnya.

Pameran ini juga ingin mengingatkan kepada orang-orang awam dan par pegiat arsitektur bahwa Indonesia itu kaya secara manusia, secara kultur dan secara budaya sehingga arsitekturnya akan berbeda dan akan lebih beragam, maka dari itu kita bisa memanfaatkan ilmu-ilmu arsitektur itu ke dunia yang lebih kontenporer.

Kegelisahan identitas arsitektur
Kegelisahan identitas arsitektur mengawali lahirnya Swanthara dari Arsitektur Hijau UNPAR sebagai tonggak perjalanan 40 tahun

“Jangan ditinggalkan begitu saja tapi lebih diterapkan dan lebih diadaptasikan agar masih bisa dimanfaatkan di dunia yang modern,” papar Annana.

Seperti contoh, lanjut Annana, saat melakukan Ekspedisi di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat pada Tahun 2018, yakni tepatnya di Desa Balla Tumuka, Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, Indonesia

Desa Balla Tumuka terletak di kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Terdapat enam dusun pada desa ini. Kampung ini masih memiliki budaya adat yang kental terlihat dari pakaian adat, seni musik, dan tarian.

Desa Balla Tumuka sebelumnya bernama Desa Balla Peu yang berasal dari kata “ballai” dan “peu. Ballai artinya dilahap api. Pada awalnya, desa ini masih berupa hutan belantara sehingga pepohonan di dalamnya dibakar untuk membuka lahan.

“Sedangkan Peu memiliki arti tumbuh-tumbuhan dan sayuran yang menjadi mata pencaharian mayoritas penduduknya,” jelas Annana.

Pameran Rekam Jejak 40 Tahun Arsitektur Hijau ini menampilkan 7 ekspedisi terakhir dalam 1 decade lebih mengenai interaksi manusia, budaya dan ruang.

TIPOLOGI Rumah Desa Balla Tumuka
Terdapat 5 jenis rumah yang dikelompokkan berdasarkan sistem kasta yang berlaku pada zaman dahulu. Sebutan kelimanya dari tingkatan yang paling rendah ke teratas secara berurutan yaitu: banua longkarin, banua rapa, banua bolong, banua sura, dan banua layuk.

Perbedaan kelima rumah ini dapat mengacu pada warna, elemen, ornamen, kelengkapan ruang yang dimiliki, dan ukuran bangunan, diantaranya;

Banua Longkarin Model Rumah untuk Masyarakat Biasa
Rumah ini dihuni oleh masyarakat biasa. Nama ” longkarin ” berasal dari sebuah sebutan untuk elemen struktur bermaterial kayu yang berada di kaki bangunan (pondasi).

Banua Longkarin memiliki warna kayu alami karena tidak dicat dan biasanya ditandai dengan adanya elemen struktur dan/ atau jumlah ruangan yang tidak lengkap

Banua Rapa Rumah untuk Kasta Lebih Tinggi
Rumah ini dihuni oleh masyarakat dengan kasta lebih tinggi dari Banua Longkarin. Pada banua Rapa elemen struktur bangunan dan jumlah ruangan sudah lengkap namun tidak diwarnai.

Banua Bolong Rumah Golongan Bangsawan
“Bolong” adalah istilah bagi rumah yang diwarnai hitam. Rumah ini biasanya dihuni oleh bangsawan atau seorang pemberani seperti juru bicara kampung.

Perbedaan fisik antara Banua Bolong dan Banua Rapa ada di pada warnanya saja. Namun pada beberapa Banua Bolong terdapat tambahan elemen arsitektur “badong” yang tidak dimiliki banua rapa.

Banua Sura Hunian Bangsawan Tinggi
Ciri utama rumah ini berupa ukiran pada rumah sesuai dengan arti nama “sura” yang berarti ukir. Rumah ini biasanya dihuni oleh bangsawan tinggi yang memegang jabatan di komunitas adat. Banua Sura memiliki elemen arsitektur yang sama dengan Banua Bolong.

Banua Layuk Rumah Pemangku Adat
Banua Layuk dihuni oleh seorang pemangku adat. Rumah ini hanya ada satu di masing-masing pusat keadatan mamasa.

Banua Layuk memiliki elemen struktur dan ukiran yang lengkap sama seperti Banua Sura, namun memiliki perbedaan pada dimensi bangunan yang lebih besar dan adanya bagian konga yang lebih tinggi dan terlihat mencolok.

kegelisahan identitas arsitektur
Mengusung tema pameran “Rekam Jejak 40 Tahun Arsitektur Hijau” memberikan cerminan hubungan harmonis antara manusia, budaya dan alam

Menurut Heru Hikayat, kurator Selasar Sunaryo Art Space (SSA) bahwa Swanthara adalah program yang diajukan kelompok Arsitektur Hijau kepada SSAS. Seperti biasa, SSAS selalu mempertimbangkan pengajuan kegiatan dari pihak luar, dari sejumlah sisi.

“Salah satu sisi yang dipertimbangkan oleh SSAS adalah, latar belakang pembangunan Pavilion ruang pamer. Selasar Pavilion dibuka pada 2022 dengan “Pro Forma”, yakni pameran maket-maket karya Le Corbusier.

Sejak itu, lanjut Heru Hikayat, Selasar Pavilion disepakati untuk punya kekhususan pada bidang “seni terapan”; desain dan arsitektur termasuk di dalamnya. Ini hal pertama yang menjadi dasar penerimaan proposal Swanthara.

Hal kedua, Arsitektur Hijau memfokuskan dirinya pada arsitektur vernakular. Vernakular adalah bagian dari aspek tradisi, yakni keterikatan pada ruang dan waktu; serta “habitat”.

“Pada banyak kasus, pertemuan antara tradisi dan kemodernan tidak selalu mulus. Kemodernan punya watak meminggirkan hal-hal yang dianggap tidak perlu dari tradisi. Arsitektur, sebagai salah satu wajah proyek modernisasi, tidak selalu baik hubungannya dengan watak vernacular,” ujar Heru.

“Bahwa sekelompok mahasiswa arsitektur berminat pada kajian vernakular; serta konsisten melakukannya selama 40 tahun, bagi SSAS merupakan hal yang berharga,” pungkas Heru Hikayat.***

Tinggalkan Balasan