Bandung Side, jl. Sumatera – ASITA West Java Travel Mart kembali digelar, kegiatan pertemuan bisnis industri pariwisata untuk mempertemukan penjual (seller) layanan pariwisata seperti hotel, operator tour, dan transportasi dengan pembeli (buyer) seperti agen perjalanan dan operator tour lain.
Acara ini bertujuan untuk mempromosikan destinasi dan layanan, menjalin kemitraan strategis, serta memfasilitasi transaksi bisnis antar pelaku industri pariwisata.
ASITA West Java Travel Mart 2025 resmi digelar di Hotel Aryaduta, jl. Sumatera, Kota Bandung, Selasa (23/9/2025). Ajang tahunan yang diinisiasi oleh Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia / Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Jawa Barat ini menghadirkan ratusan buyer dan seller pariwisata untuk mempertemukan potensi destinasi Jawa Barat dengan pasar domestik maupun mancanegara.
ASITA West Java Travel Mart 2025 mengangkat tema ‘Mewujudkan Ekosistem Pariwisata Berbasis Teknologi dan Konektivitas’, mengusung konsep Business to Business (B2B) untuk mempertemukan para pegiat wisata. Tour Operator dan Travel Supplier yang bertindak sebagai seller, bertemu travel agent atau biro perjalanan wisata sebagai buyer.
Tercatat, ASITA West Java Travel Mart 2025 diikuti oleh 117 perusahaan buyer yang datang dari 18 provinsi di luar Jawa Barat serta 4 negara tetangga yakni Malaysia (13 buyer), Singapura (4 buyer), Thailand (2 buyer), dan Vietnam (1 buyer).
Sementara dari sisi seller, ada 53 perusahaan pariwisata asal Bandung Raya dan Jawa Barat yang memperkenalkan produk unggulannya mulai dari hotel, biro perjalanan wisata, desa wisata, hingga atraksi budaya.

Konsep Business to Business yang diusung menjadi strategi utama dalam mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan ke Jawa Barat. Para buyer diajak terlebih dahulu melakukan pre-tour ke Garut untuk merasakan langsung pengalaman wisata, mulai dari kuliner, kerajinan, hingga panorama alam. Dari situ, diharapkan mereka semakin percaya diri menawarkan paket wisata Jawa Barat kepada calon wisatawan di wilayahnya masin-masing.
Tidak hanya pelaku industri, pemerintah daerah dan Kementerian Pariwisata juga memberi dukungan penuh terhadap acara ini. Mereka menilai ASITA WJTM 2025 sebagai langkah nyata memperkuat inbound tourism, meningkatkan daya tarik Jawa Barat, sekaligus mendorong kontribusi pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
Keberhasilan Pariwisata Jabar Meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Ketua DPD ASITA Jawa Barat, Daniel Guna Nugraha mengatakan bahwa langkah ini diharapkan mampu memperluas pasar pariwisata Jawa Barat, tidak hanya di tingkat domestik tetapi juga mancanegara, sehingga semakin banyak wisatawan yang menjadikan provinsi Jawa Barat sebagai destinasi utama perjalanan.
Daniel memaparkan West Java Travel Mart 2025 dirancang sebagai forum business matching yang mempertemukan seller dari Jawa Barat dengan buyer dari luar daerah maupun luar negeri.
“Konsepnya sederhana tapi efektif, yaitu mempertemukan para seller Jawa Barat dengan buyer dari luar provinsi. Harapannya, mereka tidak hanya mengenal produk wisata kita, tapi juga menjualnya ke calon wisatawan sehingga meningkatkan kunjungan inbound turis ke Jawa Barat,” ungkap Daniel.
“Jadi pelaku usaha wisata tidak hanya menunggu wisatawan datang, tapi menjemput mereka yakni para wisatawan. Setelah melihat langsung keindahan dan potensi wisata, buyer bisa lebih percaya diri menjual paket wisata di Jawa Barat,” ungkap Daniel.
Selain destinasi, faktor konektivitas transportasi menjadi daya tarik utama. Daniel mencontohkan tren wisatawan yang kini memanfaatkan layanan transportasi darat kereta api seperti Kereta Whoosh dan Kereta Panoramic untuk perjalanan Bandung–Garut–Jakarta.
“Akses kereta api ini menjadi nilai tambah karena selain cepat, juga menjadi atraksi wisata itu sendiri,” ujar Daniel.
Daniel menegaskan, keberhasilan pariwisata Jabar akan berdampak langsung pada sector ekonomi, khususnya pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
“Inilah cara kita menggerakkan ekonomi daerah lewat pariwisata, dengan menggelar West Java Travel Mart yang sudah menjadi agenda tahunan. Semakin banyak wisatawan datang, semakin banyak pula pelaku usaha lokal yang merasakan manfaatnya,” ucap Daniel.
Selain target kunjungan ke Jawa Barat akan membantu mendongkrak target kunjungan Pemerintah Pusat yakni 18 juta wisman yang sudah tercapai 14 juta, West Java Travel Mart 2025 memiliki target penjualan 5 Milyar untuk hari ini,” ungkap Daniel Guna Nugraha.

Tren Positif Pariwisata Jawa Barat
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan mengatakan bahwa geliat pariwisata Jabar sudah menunjukkan tren positif. Dalam catatan kami, hingga triwulan I tahun 2025, tercatat 18,8 juta wisatawan domestik berkunjung ke Jawa Barat serta 279 ribu wisatawan mancanegara.
“Angka ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi dan politik sudah semakin stabil. Gubernur Jawa Barat pun sangat mendukung sektor pariwisata dengan kebijakan inovatif, salah satunya melalui program Jabar Istimewa, yaitu “Desa Diurus, Kota Ditata”. Wisatawan senang ke lokasi yang bersih, tertata, dan punya daya tarik,” ujar Iendra Sofyan.
Lebih lanjut, Iendra menyoroti potensi wisata berbasis kereta api sebagai salah satu program unggulan. Jawa Barat merupakan provinsi yang paling lengkap dari sisi moda kereta, mulai dari konvensional, KCIC Whoosh, LRT, bahkan rencana MRT hingga jalur kereta wisata seperti Panoramic.
“Kereta api bukan hanya sebagai akses, tetapi juga daya tarik wisata. Misalnya jalur Jakarta–Garut yang baru diaktifkan, hingga rencana reaktivasi jalur Jakarta–Cianjur–Padalarang. Wisatawan Eropa suka sekali dengan wisata berbasis budaya dan alam, sementara wisatawan ASEAN tertarik pada kuliner dan belanja. Semua itu bisa kita kemas dengan konektivitas transportasi yang nyaman,” Papar Iendra.
Dalam rangkaian kegiatan West Java Travel Mart, panitia penyelenggara (*ASITA DPD Jawa Barat) menghadirkan buyer untuk merasakan langsung pengalaman wisata di Jawa Barat yakni di Kota Garut jauh lebih efektif dibandingkan sekadar promosi di luar negeri.
“Kalau mereka sudah datang, mencicipi kuliner, melihat keindahan alam, hingga merasakan budaya lokal, otomatis mereka akan menjadi testimoni yang kuat. Dari situ mereka bisa menjual paket dengan percaya diri,” ujar Iendra Sofyan.
Hal ini terbukti saat kunjungan ke Kota Garut, di mana banyak buyer menyesalkan waktu yang terlalu singkat. “Mereka mengatakan, minimal tiga malam di Garut baru cukup. Ini menunjukkan potensi pariwisata yang luar biasa dimiliki oleh Kota Garut,” tambah Iendra.

Pariwisata Jawa Barat Naik Kelas
Dukungan penuh juga datang dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Rizka Inki Fitria yang merupakan anggota tim marketing di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, untuk Malaysia, Indochina, dan Brunei, menyebut bahwa West Java Travel Mart 2025 menjadi wadah strategis memperkenalkan pariwisata Jawa Barat ke pasar internasional.
“Kegiatan ini sejalan dengan target nasional, yaitu mendatangkan 14 juta wisatawan mancanegara dan mendorong 1,08 miliar pergerakan wisatawan nusantara sepanjang 2025. Program Pariwisata Naik Kelas juga kita dorong lewat promosi gastronomi, wellness tourism, hingga wisata bahari,” jelas Rizka.
Rizka Inki menambahkan, Malaysia masih menjadi pasar prioritas bagi Jawa Barat. “Orang Malaysia sangat suka belanja, kuliner, dan urban culture. Produk-produk lokal Bandung, kafe-kafe kreatif, serta brand fashion khas Bandung sangat diminati. Itu yang terus kita promosikan melalui sales mission, trade show, hingga media sosial,” kata Rizka Inki.
Rizka Inki Fitria menilai Jawa Barat memiliki keunggulan unik karena bisa menawarkan kombinasi wisata alam, budaya, belanja, dan kuliner dalam satu paket.
“Ketika kita ajak buyer ke Garut, mereka langsung jatuh cinta. Inilah yang menjadi modal besar kita untuk menjual pariwisata Jabar ke pasar ASEAN,” tambah Rizka.
Dengan dukungan dari pemerintah daerah, pelaku industri, hingga Kementerian Pariwisata, West Java Travel Mart 2025 diharapkan mampu mendorong pariwisata Jawa Barat naik kelas. Ajang ini bukan hanya sekadar pameran, tetapi sebuah gerakan kolektif untuk memperkuat citra Jawa Barat sebagai destinasi unggulan internasional.
Pariwisata naik kelas merujuk pada upaya Kementerian Pariwisata untuk meningkatkan kualitas pariwisata Indonesia melalui empat pilar Utama, 1. Pengembangan destinasi dengan akses dan fasilitas yang baik, 2. Peningkatan kualitas SDM pelaku pariwisata, 3. Pemanfaatan teknologi digital, dan 4. Pariwisata berkelanjutan yang memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat lokal.
Tujuan pariwisata suatu daerah naik kelas adalah mengubah pariwisata Indonesia dari sekadar wisata massal menjadi Tujuan Wisata yang menawarkan pengalaman personal, bermakna, dan berkesan, termasuk melalui pengembangan wisata minat khusus.
Rizka berharap Jawa Barat bisa menjadi salah satu contoh sukses penerapan konsep Pariwisata Naik Kelas. “Kalau kita bisa satukan kekuatan lokal dengan strategi promosi internasional, saya optimis Jawa Barat akan menjadi magnet baru pariwisata Indonesia di mata dunia,” pungkas Rizka Inki Fitria.***

ARYADUTA Hotels Mendukung Pertumbuhan Pariwisata Jawa Barat
“Kami menyambut baik penyelenggaraan West Java Travel Mart 2025 yang sejalan dengan komitmen ARYADUTA Hotels Bandung dalam mendukung pertumbuhan pariwisata Jawa Barat,” ujar Herman Courbois, Cluster General Manager Java Area, ARYADUTA Hotels
West Java Travel Mart 2025 ini bukan hanya membuka peluang kolaborasi strategis, tetapi juga memberikan dampak positif secara langsung terhadap peningkatan okupansi hotel.
Selain itu, kami juga melihat potensi besar dalam menjadikan ARYADUTA Hotels Bandung sebagai salah satu destinasi wisata pernikahan, dengan keunggulan area Swargaloka The Garden Restaurant yang menghadirkan suasana romantis dan eksklusif untuk momen spesial.
“Dengan adanya sinergi dan kolaborsi antara pelaku industri pariwisata, kami optimis Bandung khususnya dan Jawa Barat pada umumya akan semakin menjadi destinasi unggulan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara,” pungkas Herman Courbois.***