Negosiasi Perubahan Perilaku Sehat Menjadi Kunci Menurunkan Stunting

Negosiasi Perubahan Perilaku

Bandung Side, Lembang – Negosiasi Perubahan Perilaku melalui komunikasi yang efektif dengan empati dan rasa hormat menjadi kunci penyampaian pesan melalui EMO DEMO secara siknifikan dapat menurunkan Stunting.

Memasuki hari kedua pelatihan untuk pelatih (Training of Trainers/ TOT) yang diikuti oleh Tenaga Kesehatan dan Kader di Gumilang Hotel, jl Setiabudi, Bandung kembali mendalami materi perubahan perilaku sehat.

​Menyasar 4 perilaku kunci penurunan stunting:
1. ASI Eksklusif, 2. MP-ASI, 3. Makanan Kaya Zat Besi, 4. Cuci Tangan Pakai Sabun, menjadi spektrum dalam menyampaikan pesan kepada kader posyandu dan masyarakat.

Menurut Octavia Mariance, Social Behavior Chance Communication Specialist dari tim BISA Nasional, Save The Children bahwa peserta pelatihan untuk pelatih dapat mengetahui konsep dasar inklusi disabilitas dengan mengetahui pesan kunci saat EMO DEMO.

“Saat melakukan EMO DEMO, pelatih telah mengetahui pesan kunci sehingga dapat mengerti hubungan antara nutrisi dan disabilitas, hal tersebut akan berkelanjutan pada perubahan perilaku kesehatan yang goalnya kepada penurunan stunting,” ujar Octavia Mariance.

Berawal dari mengetahui pengertian disabilitas, lanjut Octavia Mariance, yakni orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensori dalam waktu jangka waktu yang lama, sehingga dalam berinteraksi mengalami hambatan dalam masyarakat sehingga membuat partisipasi mereka tidak dapat secara penuh dan efektif tidak sama atas dasar kesetaraan dengan orang lain.

“Hambatan yang dialami oleh kaum disabilitas diantaranya informasi yang terbatas, kebijakan dan aturan yang diskriminatif, tidak dapat akses secara fisik, sikap yang negatif dan komunikasi yang buruk,” ungkap Octavia Mariance.

“Kita tidak memperdalam tentang disabilitasnya, tapi ada indikasi bahwa disabilitas disebabkan karena malnutrisi yang secara siklus ada pada tumbuh kembang bayi, ibu yang kurang gizi, remaja anemia” jelas Octavia.

Dari siklus stunting dapat diidentifikasi bahwa masa kehamilan pada ibu yang tidak terpenuhi nutrisinya maka berdampak pada perkembangan anak, dampak yang paling ekstrem yakni lahir premature hingga lahir terindikasi stunting.

Pada masa bayi dan anak-anak bila terindentifikasi kekurangan nutrisi atau malnutrisi memiliki resiko yang tinggi, dari mulai kematian, gangguan perkembangan dikemudian hari yakni pada kecerdasan yang buruk hingga Malnutrisi Akut Parah menjadi disabilitas.

Begitu juga pada masa remaja bila kekurangan nutrisi akan berdampak pada masa kehamilan dan persalinan, hal tersebut dikarena remaja puteri dan perempuan usia subur mengalami anemia yang memiliki resiko komplikasi, lahir prematur, atau dalam kondisi bayi berat lahir rendah/ BBLR.

Octavia Mariance memberi presentasi pada slide contoh mengapa bayi dan anak dengan disabilitas bibir sumbing atau celah langit-langit sulit mendapatkan gizi yang cukup, hal tersebut dikarenakan saat momen menyusui dan memberikan makanan pendamping.

“Saat ibu menyusui, bayi atau anak kesulitan melekat pada payudara ibu, sehingga kesulitan untuk menghisap dan menelan air susu. Begitu juga saat memberikan makanan pendamping, bayi atau anak kesulitan untuk mengunyah dan menelan dikarenakan tekstur makanan yang tidak dikoordinasikan,” jelas Octavia.

Dari informasi yang membawa perilaku kurang sehat yang didapat pada siklus stunting, maka dibutuhkan komunikasi efektif dengan empati dan rasa hormat yang dapat merubah perilaku kesehatan yang dinegosiasikan.

“Komunikasi yang disampaikan kepada Kader dan masyarakat dijembatani oleh negosiasi perubahan perilaku kesehatan dengan membangun keterampilan pemberian makan, seperti memodifikasi pemberian makan dengan cara posisi duduk tegak, modifikasi makanan yang lebih tekstur cair atau pemberian makanan dengan menggunakan alat khusus atau selang pada anak disabilitas bibir sumbing,” urai Octavia Mariance.

Selain itu, dalam mengatasi kesulitan pemberian makan, ibu harus mengetahui tanda bayi lapar dan kenyang, respon tanda tersebut dengan sabar serta bangun keterampilan makan anak tanpa dijejali apalagi iming-iming memberi hadiah cemilan atau permen, tambah Octavia.***

Tinggalkan Balasan