Bandung Side, Roemah Bersama Alumni – Suara hati Sineas Bandung diperdengarkan secara langsung untuk dapat mencari solusi permasalahan menurunnya produksi film dalam kegiatan “Kumpul Sineas Kota Bandung untuk Kemajuan Perfilman Jawa Barat, Senin, 17 Juli 2023.
Kumpul Sineas yang digelar di Roemah Bersama Alumni, jl. Imam Bonjol No.16 Bandung menghadirkan pembicara yakni Babeh IBO (Independent Broadcasting Organization) dari IBO Picture, Sheilla Priyayi Yantini, SH. dari IKA Muda UNPAD dan Kang ATMO dari Roemah Bersama Alumni.
Kegiatan Kumpul Sineas yang dipandu oleh Moderator, Kang Irman dari IKA Muda UNPAD mengawal urun rembug perfilman yang dihadiri oleh Sineas muda, BEM UNPAD, Keluarga Mahasiswa Teknik Informatika (KMTP) ISBI Bandung, Forum Film Jabar, dan BEM UNFARI.
Mengawali pembicaraan sekaligus menjadi suara hati sineas, Babeh IBO mengatakan bahwa Sineas Bandung butuh kehadiran pemerintah Kota Bandung dan Jawa Barat untuk support pendanaan untuk dapat produksi film dan support penyelenggaraan kegiatan seperti penayangan screening film, wadah festival, workshop.
“Kehadiran pemerintah dibutuhkan untuk dapat support kegiatan perfilman, baik dalam hal produksi atau kegiatan lain, agar perfilman di Kota Bandung khususnya dan umumnya di Jawa Barat dapat menggeliat kembali usai kebijakan PPKM dibuka,” ujar Babeh IBO.

Seperti yang sudah diketahui oleh para Sineas Bandung, untuk memperoleh pendanaan dari pemerintah yang akan digunakan memproduksi film, dipertemukan dengan syarat mengajukan proposal.
“Proposal yang diajukan tentunya akan mengantri untuk persetujuan dengan pertimbangan yang kami tidak paham, sehingga dengan ketidak pahaman ini proposal akhirnya ditolak,” ungkap Babeh IBO mengungkapkan suara hati sebagai sineas.
Dukungan pemerintah ada, tapi hanya sampai seremonial saja belum support pendanaan hingga menjadi anggaran secara riel setiap tahunnya.
“Secara ekosistem Sineas Bandung sudah membentuk melalui program-program kerja, mulai dari workshop, pelatihan teknis seperti akting, nonton bareng hingga even pra-festival dimingguan, bulanan bahkan tiap semestera ada kegiatan nonton bareng juga kegiatan kurasi film, namun kendalanya memang minim dana,” papar Babeh IBO.
Ada rencana proposal film tentang kebudayaan diajukan kepada Pak Ganjar Pranowo, yakni tentang sisi lain tentang Wayang Golek di Jawa Barat yang salah satu alur filmnya ada tokoh yang pantas diperankan oleh Pak Ganjar Pranowo, tambah Babeh IBO.
“Tentunya dalam waktu dekat kami akan ke Semarang untuk take adegan bersama Pak Ganjar Pranowo, tinggal menyesuaikan waktu saja, karena waktunya sudah mepet dalam proses produksi,” ucap Babeh IBO.

Sheilla Priyayi Yantini juga mengatakan bahwa ada skema pendanaan yang sudah lazim diketahui oleh Sineas Bandung, diantaranya secara pribadi atau investor, mendapatkan pendanaan dari CSR, bahkan saat ini bisa melalui kerja sama dengan Ganjar Pranowo untuk membuat film yang beredukasi kepada masyarakat.
“Ternyata Sineas Bandung ingin menunjukkan karyanya kepada Pak Ganjar Pranowo sebagai salah satu upaya mencuri hati untuk memperhatikan juga dan memberi solusi apa yang menjadi kendala atau permasalahan bagi Sineas Bandung,” ujar Sheilla.
Tentunya Sineas Bandung yang didominasi oleh anak-anak milenial mempunyai kemasan berbeda dalam membuat film, akan berbeda bila film diproduksi oleh angkatan sebelum milenial, tambah Sheilla Priyayi Yantini.
“Sineas Bandung dalam berkarya juga sudah teruji, saat PPKM mereka tetap produksi meskipun secara pendanaan tidak melibatkan pihak lain, tapi mereka tetap berkaya. Kita bisa membayangkan, bila mendapatkan support pendanaan dari pemerintah atau pihak lain tentunya akan lebih dahsyat perfilman di Jawa Barat ini,” ungkap Sheilla.
Meskipun tidak ada pemodal besar untuk support produksi pembuatan film, mereka tetap eksis, tetap berkarya hingga final, meskipun tindakan ekstremnya dengan memotong budget hingga habis-habisan, lanjut Sheilla.
“Harapan kami perfilman di Kota Bandung dan Jawa Barat tetap tumbuh dan berkembang hingga Sineas Bandung sebagai pelaku ekonomi kreatif dapat sejahtera, dengan semangat tetap berkarya dan menjadi Sineas terbaik tentunya Pak Ganjar Pranowo membutuhkan pribadi-pribadi yang tangguh untuk bisa bermanfaat bagi orang lain,” pungkas Sheilla Priyayi Yantini.

Pada kesempatan yang sama, Kang ATMO mengatakan, bahwa Roemah Bersama Alumni sangat terbuka digunakan untuk kegiatan sosial, seperti saat ini digunakan oleh pelaku film dalam berdiskusi atau rembug bareng mencari solusi menurunnya produksi film.
“Roemah Bersama Alumni sangat terbuka bagi siapa saja untuk digunakan dalam kegiatan sosial, silahkan memberitahukan terlebih dahulu kepada saya kapan dan untuk apanya,” ucap ATMO..
Dengan memberitahukan terlebih dahulu, jangan sampai ada kesamaan hari dan jam sehingga terjadi bentrok jadwal, tambah ATMO.
Kegiatan rembug bareng dengan Sineas Kota Bandung untuk Kemajuan Perfilman Jawa Barat ini, salah satu cara memecahkan masalah dengan memperoleh alternatif solusi yang banyak sehingga mendapatkan jalan keluarnya, lanjut ATMO.
“Saya sebagai Alumni Sipil ITB 1992 akan mengawal terus hingga jalan keluar dapat terealisasi dan hasilnya dapat dirasakan oleh Sineas Bandung,” pungkas ATMO.***