Bandung Side, Kota Baru Parahyangan – BISA menggunakan Emo Demo berkolaborasi dengan Nutrition International mewujudkan percepatan penurunan stunting diwilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Save the Children Indonesia bersama Nutrition International bekerja sama untuk membantu pemerintah dalam mewujudkan percepatan penurunan stunting, seperti yang tertuang dalam Stranas Stunting (2018-2024) melalui program Better Investment for Sturting Alleviation (BISA).
Program BISA diimplementasikan di dua provinsi, yaitu Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT) berkolaborasi dengan Nutrition Internasional.
Program BISA bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Kementrian Agama dan Dinas Pemberdayaan masyarakat dan Desa, serta Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten.
Program BISA telah menyelenggarakan pendampingan kepada 13 Puskesmas, 64 SMA/MA, 47 SMP/MTs, dan 20 desa mitra program BISA.

Dari 20 desa yang didampingi dengan perincian 15 desa lokasi fokus (lokus) stunting dan 5 desa non lokus stunting di Kabupaten Bandung Barat.
“Salah satu upaya yang kami lakukan adalah Pelatihan untuk Pelatih Emotion Demonstration (EMO Demo), yaitu metode edukasi interaktif dengan permainan yang menggugah emosi ibu/ pengasuh bayi di bawah dua tahun (Baduta) untuk memperbaiki kualitas pemberian makan bayi dan anak(PMBA) sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak,” kata Prima Setiawan, Chief of Party BISA.
Hari ini, Selasa (29/3/2022), kegiatan Pelatihan untuk Pelatih Emo Demo tahap II dilaksanakan di Hotel Mason Pine, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, tambah Prima Setiawan.
Pendekatan yang kami lakukan dalam program BISA adalah pelatihan nutrition champion (kader, tenaga kesehatan, penyuluh) mengenai invervensi kunci.
Intervensi kunci yang bertujuan menurunkan stunting dan meningkatkan kelangsungan hidup anak, melalui pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan pendampingan ASI sesuai umur, dan perilaku cuci tangan pakai sabun untuk dapat diadopsi dan dilakukan oleh ibu hamil, ibu dengan anak bawah dua tahun (baduta), serta pengasuh.

“Kami melakukan pendekatan kepada berbagai lapisan masyarakat, tidak hanya di level pemangku kebijakan atau pemerintah, tapi juga terjun langsung pada keluarga dan komunitas, posyandu, dan lain sebagainya agar pengetahuan pemberian makan bayi dan anak (PMBA) yang tepat dapat dipahami langsung oleh masyarakat. Dengan begitu, efektivitas percepatan pencegahan stunting dapat terwujud,” ungkap Prima Setiawan.
Program BISA sudah memulai implementasinya sejak tahun 2020, yakni pada Agustus 2021 dengan memulai kegiatan pelatihan berjenjang yang dimulai dengan Pelatihan untuk Pelatih Emo Demo tahap I (enam modul) untuk 17 perwakilan Fasilitator Kabupaten. Kemudian dilanjutkan dengan memfasilitasi pelatihan di 20 desa dampingan dengan jumlah partisipan 231 orang sebagai fasiliator desa yang terdiri dari kader posyandu, KPM, PKK, dan Bidan Desa.
Sebagai rencana tindak lanjut pasca pelatihan, maka Kader, KPM, dan PKK yang sudah dilatih akan melakukan sesi Emo Demo di Posyandu maupun di luar Posyandu.
Per-Januari 2022 telah terlaksana 40 kelas sesi Emo Demo di Posyandu dan di luar Posyandu dari 9 desa, yang menjangkau 120 ibu hamil dan 393 ibu/ pengasuh baduta.
Untuk melanjutkan tahapan kurikulum pelatihan Emo Demo selanjutnya dan tahapan menilai perkembangan kegiatan kader dan bidan desa pasca pelatihan, tim BISA berencana melakukan Pelatihan untuk Pelatih Emo Demo tahap II untuk fasilitator kabupaten.

Kegiatan pelatihan untuk Pelatih Emo Demo meliputi kegiatan diskusi dan refleksi pelatihan Emo Demo untuk kader di desa, serta sesi Emo Demo posyandu sebagai bagian dari strategi komunikasi perubahan perilaku untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu/ pengasuh baduta.
Dalam memastikan inklusivitas bagi kelompok rentan, Program BISA juga mengundang peserta perwakilan dari organisasi/ lembaga penyandang disabilitas sebagai bagian pengembangan edukasi gizi, utamanya pada keluarga 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dengan kebutuhan khusus.
Edukasi mengenai PMBA harus terus kita lakukan untuk keluarga 1000 HPK, terutama untuk pengasuh baduta, baik itu ibu, ayah, pihak ketiga yang berperan sebagai pengasuh, bahkan kader posyandu dan tenaga kesehatan.
“Seluruh masyarakat dengan berbagai latar belakang juga berhak mendapatkan edukasi ini. Sebab, dengan melakukan PMBA yang tepat, orang tua/ pengasuh telah melakukan satu bagian pemenuhan hak kesehatan untuk anak,” jelas Prima Setiawan, Chief of Party BISA.
Sementara itu, Hj. Nunung Muslidah MM.,KM. sebagai Ketua Pokja 4 Tim Penggerak PKK Kabupaten Bandung Barat mengatakan bahwa pelatihan training of trainer (ToT) tentang Emo Demo yang memang disiapkan untuk menjadi pelatih atau trainer guna meneruskan materi pelatih kepada keluarga dan komunitas.

Kami sudah menyelesaikan 12 modul selama pelatihan yakni, 1. Asi Saja Cukup, 2. Siap Bepergian, 3. Ikatan Ibu dan Anak, 4. Orang Tua Bertangan Ajaib, 5. Teruskan dan Sebarkan, 6. ATIKA (Ati, Ikan, Telur), 7. Membayangkan Masa Depan, 8. Menyusun Balok, 9. Porsi Makanan Bayi dan Anak, 9. Jadwal Makan Bayi dan Anak, 11. Cemilan Sembarangan, dan modul ke 12. Harapan Ibu.
“Melalui Emo Demo kami mendapatkan ilmu yang update dan sangat luar biasa berbeda sekali dengan pelatihan yang lain,” ujar Hj. Nunun.
Biasanya TP PKK sebagai penyuluh, penggerak dan pencatat dalam suatu kegiatan pelatihan kita hanya sebagai pendengar saja baik ke kader kecamatan atau dari desa.
Pada Emo Demo kita dapat meminimalisir cara penyuluhan itu yang langsung mendemontrasikan sehingga apabila langsung dipraktekkan maka peserta akan ingat terus.
Jadi bila penyampaian materi dengan interaksi satu arah atau hanya ngobrol saja maka akan cepet lupa, selain itu Emo Demo sangat efisien dalam hal waktu sehingga pertemuan singkat ini sangat efektif.

Waktu penyampaian materi, maksimal membutuhkan waktu 20 menit dengan demonstrasi secara langsung sehingga peserta sangatlah fokus.
“Apapun yang didapat dari Emo Demo dipastikan akan ditularkan kepada kader, sehingga cara Emo Demo sambil selalu koordinasi dengan OPD terkait, khususnya dari Dinas Kesehatan, Dinas Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa atau DPMD dan Dinas Pengendalian Penduduk, KB, Pemberbudayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau DP2KBP3A yang merupakan kemitraan dari PKK,” jelas Hj. Nunun.
Selain itu, kami akan melaporkan kepada Ketua PKK, juga akan mengkoordinasikan dengan dinas terkait mengenai metode penyuluhan yang baik yakni seperti pada Emo Demo.
“Semoga diseluruh KBB akan digunakan cara Emo Demo ini yang sebelumnya sudah disepakati agar penyampaian penyuluhan yang baik kepada masyarakat agar dapat merubah kebiasaan dan perilakunya seperti yang disampaikan,” jelas Hj. Nunun.***