Mahasiswa STIMLOG Harus Memahami Peta Industri di Indonesia

Mahasiswa STIMLOG

Bandung Side, Sariasih – Mahasiswa STIMLOG dapat meningkatkan wawasannya guna menekan angka import dengan memahami peta industri di Indonesia menjadi latar belakang penandatanganan naskah Nota Kesepahaman Kerjasama dengan Balai Besar Keramik.

Hal tersebut diungkap oleh Ketua STIMLOG, Rachmawati Wangsaputra, Ph.D usai menandatangani Nota Kesepahaman Kerjasama dengan Balai Besar Keramik di aula Yayasan Pendidikan Bhakti Pos Indonesia (YPBPI) jl. Sariasih No. 54 Bandung, Jum’at (14/01/2022).

Rachmawati Wangsaputra mengatakan bahwa dalam rangka meningkatkan wawasan mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen Logistik Indonesia (STIMLOG) dan memasuki industri keramik dibutuhkan pengenalan proses produksi sehingga memahami produk yang dihasilkan sebelum melangkah ke logistik dan rantai pasok dalam industri keramik.

Secara umum, mahasiswa STIMLOG harus paham akan karakter industri yang ada di Indonesia, hal ini dikarenakan mahasiswa memiliki fungsi sebagai agen pendidikan, agen ekonomi, agen penelitihan, dan sebagai agen perubahan, tambah Rachmawati.

Mahasiswa STIMLOG
Ketua STIMLOG, Rachmawati Wangsaputra, Ph.D. (dok.STIMLOG)

Sehingga pemahaman tentang karakter industri di Indonesia dengan 4 fungsi mahasiswa tersebut akan menemukan solusi mengapa import kita besar, minimal upaya menyediakan barang subtitusi barang import, bahkan bila perlu kita bisa eksport barang dari hasil proses produksi industri yang berasal dari mengelola kekayaan sumber daya alam.

Didalam industri, khususnya industri keramik tersebut dipastikan selalu ada problem, diharapkan mahasiswa STIMLOG tahu dan paham saat memberikan solusi yang dibutuhkan dalam hal logistik dan rantai pasok setelah memahami industri tersebut.

Kebutuhan sumber daya manusia pada industri, dituntut lebih dulu memahami apa yang dihasilkan oleh industri tersebut, dalam hal ini adalah industri keramik sebelum keilmuan yang diperoleh digunakan.

“Sehingga lulusan STIMLOG benar-benar siap pakai saat memasuki industri keramik diranah logistik dan rantai pasok sebagai buah setelah memahami peta industri di Indonesia guna menekan angka import dengan mengisi pasar yang sudah ada dari dalam negeri sendiri,” jelas Rachmawati.

Lulusan STIMLOG akan memberi kontribusi besar setelah memahami karakter industri yang ada di Indonesia agar mendapatkan ide-ide cemerlang memenuhi kebutuhan barang didalam negeri tanpa ketergantungan dengan barang import.

Kepala Balai Besar Keramik, Azhar Fitri
Kepala Balai Besar Keramik, Azhar Fitri. (dok.STIMLOG)

“Bahkan lulusan STIMLOG dapat berperan dalam meningkatkan eksport dengan memahami rantai pasok dengan nilai tambah yang lebih besar setelah mengetahui permintaan barang dari luar negeri lebih besar,” pungkas Rachmawati Wangsaputra.

Menurut Wakil Ketua III STIMLOG Bidang Kerjasama, Promosi dan Penerimaan Mahasiswa Baru, Nurlaela Kumala Dewi, S.T., M.T. bahwa kerjasama dengan Balai Besar Keramik sebagai upaya Pengembangan Kapasitas Antar Pihak.

“Pengembangan kapasitas meliputi bidang pendidikan dan pelatihan serta studi lapangan/ industri dalam bentuk magang/ intership bagi mahasiswa dan dosen STIMLOG,” kata Nurlaela.

Selain itu, tambah Nurlaela Kumala Dewi, kedua belah pihak dapat melakukan penelitian, Pengabdian pada Masyarakat (Pengmas) secara bersama baik kepada mitra Balai Besar Keramik maupun masyarakat umum.

Tidak menutup kemungkinan pihak Balai Besar Keramik menjadi narasumber dan memberi kuliah umum, seminar, workshop dan sebagai dosen tamu di Kampus STIMLOG sebagai bentuk pengembangan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di lingkungan STIMLOG, lanjut Nurlaela.

Mahasiswa STIMLOG
Mahasiswa STIMLOG dan Peta Industri di Indonesia melatar belakangi penandatanganan Nota Kesepahaman Kerjasama antara STILOG dan Balai Besar Keramik. (dok.STIMLOG).

“Kerjasama dengan Balai Besar Keramik berlaku setelah ditandatangani sampai dengan Desember 2026 menjadi potensi bagi mahasiswa STIMLOG yang juga sebagai agen ekonomi memahami peta industri di Indonesia,” jelas Nurlaela Kumala Dewi.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Keramik, Azhar Fitri, menyampaikan terima kasih kepada STIMLOG atas terselenggaranya acara penandatanganan Nota Kesepahaman Kerjasama ini.

Azhar mengungkapkan bahwa pihaknya akan mendukung penuh pengembangan kemampuan mahasiswa STIMLOG, terutama di bidang praktik kerja industry atau Internship.

“Saat ini mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menguasai materi sesuai keilmuannya, namun juga harus memahami pengimplementasian ilmu yang didapat selama kuliah,” ujar Azhar Fitri.

“Memang ini penting. STIMLOG bisa mengirimkan mahasiswanya untuk belajar di tempat kami. Dan, nanti hasil risetnya juga bisa bermanfaat bagi apa yang kami kerjakan dan bagi mahasiswa,” ucap Azhar Fitri.

Ketua YPBPI Dr. Cahyat Rohyana, SE., MM
Ketua YPBPI Dr. Cahyat Rohyana, SE., MM. (dok. STIMLOG)

Ketua YPBPI Dr. Cahyat Rohyana, SE., MM. dalam kesempatan yang sama dalam kegiatan penandatangan Nota Kesepahaman Kerjasama dengan STIMLOG tersebut mengapresiasi dan berterima kasih kepada Balai Besar Keramik.

Cahyat Rohyana mengharapkan, MoU yang sudah disepakati bersama Balai Besar Keramik dapat diimplementasikan dengan baik. Dia tak ingin penandatanganan MoU sebatas seremoni belaka.
Sebab, yang terpenting yakni komitmen untuk menerapkan poin-poin kerja sama, khususnya untuk mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka di STIMLOG.

“Seperti yang selalu disampaikan sebelumnya, bahwa Kerjasama ini jangan berhenti di penandatanganan saja. Ini harus dilakukan komitmen dan implementasinya. Apalagi sekarang ini harus ada link and match antara industri dengan perguruan tinggi,” tutup Cahyat Rohyana.

Tentang Balai Besar Keramik
Teknologi pembuatan keramik di Indonesia dapat dikatakan mulai berkembang dengan didirikannya Laboratorium Keramik atau “Het Keramische Laboratorium” pada tahun 1922 di Bandung.

Fungsi utama laboratorium keramik ini sebagai pusat penelitian bahan bangunan seperti bata, genteng, saluran air dan sebagainya yang terbuat dari tanah liat.

Selain itu mengembangkan juga teknologi glasir untuk barang gerabah halus yang disebut dengan “aardewerk“. Bahan glasir didatangkan dari Belanda.

Dengan masuknya tentara Jepang , pabrik keramik di Bandung telah diubah namanya menjadi “Toki Shinkenjo“.

Laboratorium “Toki Shinkenjo” ini berfungsi sebagai balai penelitian yang meneliti dan mengembangkan serta memproduksi barang-barang keramik dengan suhu bakar tinggi.

Produk jadinya antara lain, bata tahan api, botol sake, peralatan rumah tangga dan sebagainya. Barang-barang tersebut dibuat untuk keperluan bala tentara Jepang di Indonesia.

Sejak pemerintahan dipegang pemerintah Republik Indonesia, maka “Toki Shinkenjo” berubah nama menjadi Balai Penyelidikan Keramik (BPK), dalam operasionalnya dilengkapi dengan alat-alat pengujian dan alat-alat produksi yang lebih modern.

Fungsi dan tugas BPK semakin berkembang, tidak hanya berporduksi barang-barang keramik, gelas, isolator listrik tetapi juga aktif melakukan kegiatan penelitian barang-barang mentah keramik hasil temuan bahan keramik di beberapa tempat di Indonesia.

Dengan diketemukannya bahan-bahan mentah yang melimpah seperti kaolin, felspard, kwarsa dan sebagainya, maka sejak tahun 1960-an bermunculan pabrik-pabrik keramik dibeberapa kota.

Suasana kegiatan Penandatanganan kerjasama STIMLOG dan Balai Besar Keramik
Suasana kegiatan Penandatanganan kerjasama STIMLOG dan Balai Besar Keramik

Produknya pun bermacam-macam seperti produk gerabah, stoneware dan porselin, jenis produksinya antara lain peralatan makan dan minum, benda hias, barang tahan api, bata tahan api, alat-alat teknik, gips, dan keramik bahan bangunan.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1945, lembaga ini diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia dan namanya diganti menjadi “Balai Penyelidikan Keramik”.

Pada tahun 1960 namanya diganti menjadi “Balai Penelitian Keramik” dan pada 1980 direorganisasi dan diganti menjadi “Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Keramik”.

Pada tahun 2006 dengan Keputusan Menteri Perindustrian Nomor: 40/M-IND/ PER/ 2006 tanggal 29 Juni 2006, lembaga ini direorgnisasi kembali dan namanya berubah menjadi “Balai Besar Keramik” (BBK).

Balai Besar Keramik adalah unit pelaksana teknis di bawah Badan Kebijakan Iklim dan Mutu Industri, Kementerian Perindustrian yang bertanggung jawab kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri.

Sebagai lembaga yang profesional dibidang teknologi keramik, Balai Besar Keramik menyediakan jasa layanan teknis litbang, Pelatihan, Pengujian, Konsultasi, Standardisasi, Sertifikasi, Perekayasaan.

Jasa Penelitian dan Pengembangan BBK bersifat terapan dalam ruang lingkup penelitian bahan baku dan bahan penolong.

Begitu juga dalam hal teknologi proses pembuatan seperti keramik hias, pemberian glasir, pembuatan batu bata dan genteng, refraktori, saniter, semen, kaca, sehingga dapat dikembangkan produknya. Yang paling penting adalah penelitian untuk memanfaatkan limbah.***

Tinggalkan Balasan