Bandung Side, Sariasih – Pelet bakar dari sampah biomassa dengan sentuhan teknologi tepat guna dapat dijadikan sumber energi baru dan terbarukan (EBT) yakni pembangkit listrik kerakyatan atau pun untuk kebutuhan energi rumah tangga.
Inisiasi ubah sampah organik untuk dijadikan pelet bakar sebagai alternatif bahan baku pembangkit listrik (sistem listrik kerakyatan) dan terutama dalam menumbuhkan ecopreneur merupakan program pengabdian masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) berkolaborasi dengan Sekolah Tinggi Manajemen Logistik Indonesia (STIMLOG) dan PT Comestoarra Bentara Noesantara (PT Comestoarra).
Sebagai program rutin di ITB, di tahun 2021 terdapat dana hibah Pengabdian pada Masyarakat (PM) untuk para dosen.
Pengabdian masyarakat yang diketuai oleh Rachmawati Wangsaputra, Ph.D dosen Teknik Industri berjudul: “Teknologi Tepat Guna Sistem Pengolahan Sampah untuk Pembangkit Listrik Kerakyatan dari Sampah Biomassa dan Sampah Domestik di Mataram dan daerah Bandung bermitra dengan startup PT Comestoarra dan Sekolah Tinggi Manajemen Logistik Indonesia (STIMLOG)”, berlokasi di 2 (dua) tempat yaitu Kota Mataram dan Kabupaten Bandung. Untuk Kabupaten Bandung berlokasi di RT 03 RW 23 Kelurahan Cibeunying dan Kecamatan Cimenyan.
Konsep Listrik Kerakyatan diprakarsai oleh Dr. Supriadi Legino, CEO PT Comestoarra dan juga pernah menjabat sebagai Direktur SDM PLN.
Dr. Supriadi Legino juga adalah Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN) dan Ir. Arief Nur Hidayat adalah Direktur PT Comestoarra.

Listrik Kerakyatan dijalankan melalui program Tempat Olahan Sampah di Sumbernya (TOSS).
Program TOSS sudah berjalan dalam skala nasional mulai dari pulau Jawa hingga Nusa Tenggara; hanya memang projek-projeknya lebih bersifat makro, yaitu pengolahan sampah untuk level kota provinsi.
Melatarbelakangi pengelolaan ubah sampah jika dimanfaatkan sebagai sumber energi dengan menilik sampah biomassa dan sampah domestik di Indonesia diperkirakan mencapai 135.000 ton per hari.
Komposisi sampah di Indonesia didominasi oleh sampah domestik dari Rumah Tangga, Perkantoran, kawasan Industri, dan juga sampah biomassa, berupa potongan rumput, dahan, ranting, daun, limbah pertanian.
Sampah tersebut mayoritas akan bermuara di Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) dan selanjutnya atau Tempat Pembuangan Akhir (TPA), namun tidak sedikit jenis sampah tersebut dibuang di kali/sungai hingga pantai atau sekedar dibakar.
Dengan mengaplikasikan sampah yang jumlahnya sangat besar sebagai sumber energi banyak memberi manfaat diantaranya mengurangi emisi, menjadi alternatif energi, mengurangi pemotongan/ penebangan hutan secara liar dan juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pengelolaan sampah dengan konsep bank sampah untuk sampah domestik di setiap pemukiman/area sudah banyak ditemui, ada yang berjalan sukses ada yang hanya berumur beberapa bulan kemudian berhenti.

Fakta yang dihadapi adalah penerapan dan pemanfaatan sistem pengelolaan sampah belum maksimal, sementara penduduk Indonesia yang berjumlah 270 juta jiwa dengan pengeluaran sampah rata-rata 0.5 kg per orang per hari.
Tanpa disadari, sampah dapat dijadikan sebagai sebuah sumber/ resource tersendiri untuk dapat dijadikan energi, kompos, atau pemulihan tanah kembali akibat peptisida.
Sudah menjadi sebuah tuntutan bahwa sampah domestik yang didalamnya juga terdapat sampah biomassa wajib untuk maksimal dimanfaatkan di setiap sumber sampah tersebut dihasilkan berapapun jumlahnya.
PT Comestoarra Bentara Noesantara (Comestoarra) telah mengembangkan berbagai sistem pengelolaan sampah, salah satunya adalah konsep dan teknologi Tempat Olahan Sampah di Sumbernya (TOSS) yang sudah cukup berhasil dalam memroses sampah domestik dan sampah biomassa, umumnya diterapkan di daerah kabupaten.
Salah satu penyebab utama terhalangnya implementasi manajemen sampah yang baik adalah tidak adanya manajemen waktu pengangkutan, kelengkapan sarana transportasi, sistem rute kendaraan, dan kelengkapan serta kemampuan personil yang akan menangani sampah dari tempat pengumpulan sementara (TPS) sampai tempat pembuangan akhir (TPA).
Ide dari PM ITB kolaborasi STIMLOG dan Comestoarra ini memang diilhami dari kegiatan TOSS yang digawangi Supriadi Legino dan Arief Nur Hidayat melalui start-up PT Comestoarra.
Mengadopsi program TOSS yang sudah berjalan sukses di berbagai kota, PM kolaborasi antar ITB-STIMLOG dan Comestoarra lebih menyasar pengolahan sampah di area lebih hulu yaitu mulai di tingkat RT-RW.

Bagaimana agar sampah ini tidak perlu dibawa ke TPS atau TPA, dan sudah maksimal diolah dimanfaatkan di level RW, bagaimana agar warga mau memilah sampah dan terutama bagaimana warga mendapat tambahan pendapatan dari pengolahan sampah tersebut.
Tujuan dari pengabdian masyarakat ini: (i) pengolahan sampah biomassa dan sampah domestik di lingkungan perumahan, (ii) menumbuhkan ecopreneur sampah domestik- sampah biomassa (ii) dan terus mengajak masyarakat untuk turun beraksi dalam melakukan pengolahan sampah.
Dalam perjalanannya tidak mudah membangun suatu sistem yang berkelanjutan; sehingga dibentuklah suatu sistem yang diharapkan akan membuat kegiatan ini dapat terus berjalan walau dana hibah sudah selesai.
Sejauh ini telah didirikan 2 (dua) Balai Pelatihan Ecopreneur Sampah PM ITB kolaborasi dengan Sekolah Tinggi Manajemen Logistik Indonesia (STIMLOG) dan PT Comestoarra.
BPPES Mataram fokus pada pembuatan pelet bakar dari sampah organik biomassa; sedangkan BPPES Bandung lebih mengarah pada pengolahan sampah terpadu dan tujuan lain adalah menumbuhkan ecopreneur sampah.
Pada BPPES Bandung 4 (empat) produk yang dihasilkan adalah pelet bakar, briket daun kering, kompos dan maggot.
Di Balai Pelatihan dan Pendampingan Ecopreneur Sampah Bandung (BPPES Bandung) yang berlokasi di Kabupaten Bandung sudah ada 3 (tiga) tenan yaitu Ervan Soleh, Rahmat dan Denis.
Ketiganya memang telah mengelola sampah sejak dahulu, tetapi selama ini lebih kearah mengumpulkan dan membuangnya ke TPS untuk kemudian TPS akan dibaung ke TPA.
Pada BPPES Bandung ini sampah diangkut dari 3 (tiga) RT; ada warga yang sudah mau memilah antar sampah organik dan sampah non organik; mayoritas masih belum mau memilah.
Dari sampah yang dikumpulkan setiap hari Senin dan Kamis, sampah organik diolah menjadi kompos dan sebagian digunakan untuk pakan peternakan maggot. Sampah kebun yang berupa tanaman diperoleh dari warga sekitar dan juga terutama dari kampus STIMLOG.
Sampah daun utamanya ini diolah menjadi pelet bakar dan briket bakar daun kering. Teknologi tepat guna untuk pembuatan pelet bakar mengadopsi teknologi yang sudah dikembangkan oleh PT Comestoarra.
Sedangkan teknologi untuk briket daun kering adalah daun dibakar melalui Teknik Pirolisis kemudian hasilnya dihaluskan dan kemudian dijadikan briket.
Pembuatan kompos mengikuti metoda Takakura yang menggunakan gerabah dan bioaktivator EM4 dalam prosesnya.
Hasil kompos dijual kepada komunitas penanam pohon Daerah Aliran Sungai Citarum (DAS Citarum) dimana STIMLOG telah aktif melakukan PM sejak 2018 di DAS Citarum, Rancamanyar.
Budidaya maggot menjadi luaran tambahan pada PM ITB 2021 kolaborasi STIMLOG PT Comestoara ini karena bisnis maggot adalah sebuah bisnis yang perputaran uangnya cukup cepat.
Tenan Ervan merencanakan dimana maggot yang dihasilkan dan jadi pakan untuk peternakan ikan yang telah direncanakannya dalam waktu dekat dan masyarakat sekitar dapat merasakan hasilnya.
Sehingga menggapai aspek sosialnya juga konsep pengembangan ecopreneur ini.

Pengembangan BPPES Bandung ini memilih untuk melatih dan mendampingi ecopreneur karena hal ini diharapkan akan lebih berkelanjutan.
Para tenan dilatih untuk dapat menghasilkan produk yang berkualitas agar dapat bersaing di pasar dan terutama para tenan didampingi agar dapat tumbuh menjadi mandiri.
Saat ini pelatihan dan pendampingan masih berfokus pada pengolahan sampah organik, untuk sampah non-organik yang terkumpul sejauh ini dijual langsung kepada pengepul.
Kedepannya akan dikembangkan ecopreneur sampah kertas atau pun plastik.
Produk utama yaitu pelet bakar akan terus ditingkatkan kualitasnya hingga dapat memenuhi kriteria untuk digunakan di PLTU sebagai bahan co-firing bersama batubara.
Mitra kedua pada PM ITB ini adalah Sekolah Tinggi Manajemen Logistik Indonesia (STIMLOG).
STIMLOG memiliki kompetensi Manajemen Logistik dan Manajemen Rantai Pasok; STIMLOG mengenalkan prinsip Waste Biomass-to-Energy Supply Chain (WBSC) atau rantai pasokan limbah biomassa.
Disini STIMLOG berperan dalam merancang rantai pasok untuk pelet bakar dan juga briket bakar daun kering.
Para tenan akan dilatih agar sukses menembus rantai pasok yang ada dan terutama mandiri dan sukses sebagai ecopreneur sampah.
Implementasi WBSC untuk produksi energi secara umum terdiri dari 4 (empat) komponen sistem yakni: (i) pemanenan/ pengumpulan biomassa (dari satu atau beberapa lokasi) dan pra-pengolahan, (ii) penyimpanan (di satu atau lebih lokasi perantara), (iii) pengangkutan (menggunakan satu atau beberapa eselon) dan (iv) konversi energi.
Ketua LPPM STIMLOG, Hartati, M. Pakpahan, S.T., M.T. menyampaikan bahwa PM kolaborasi ini berpotensi tinggi untuk menjadi PM yang berkelanjutan sejalan dengan arahan Kemendikbudristek dan menjadi elemen nilai dalam rubrik untuk akreditasi perguruan tinggi.
“Setelah PM 2021 ini selesai, kita akan terus merambah RW-RW lain dengan konsep menumbuhkan ecopreneur sampah,” ucap Hartati.
Tim Peneliti Pengabdian Masyarakat ITB 2021 kolaborasi dengan STIMLOG dan PT Comestorra.
Pengabdian Masyarakat yang timnya diketuai oleh Rachmawati Wangsaputra, Ph.D (dosen TI ITB), beranggotakan Praditya Ajidarma, S.T., MSc. (dosen TI ITB); Arief Noerhidayat, S.I. Kom., MSc. (Direktur PT Comestoarra); Ir.Tulus Martua Sihombing, M.T. (peneliti TOSS); Yodi Nurdiansyah, S.T.,M.T. (peneliti TOSS); Hartati Mediyanti Pakpahan, S.T.,M.T. (Kepala LPPM STIMLOG); Ir. Ita Puspitaningrum, M.T. (dosen STIMLOG); Teguh Tuhu Prasetyo, S.T.,M.T (dosen STIMLOG); Anggi Widya Purnama, S.T., M.T. (dosen STIMLOG) dan Dr. Salman (peneliti biomassa dan dsoen Universitas Mataram).
Selain itu juga terdapat asisten peneliti pada PM ITB kolaborasi STIMLOG dan PT Comestoarra yang terdiri dari 4 (empat) mahasiswa Teknik Industri ITB yaitu M. Zuhdi Faturrahman, Muhammad Rafif Rajendra, Mochamad Rizal Prasetyo, Rifqi Qinthara dan 3 (tiga) mahasiswa STIMLOG yaitu Nurul Wahidah (mahasiswa prodi Manajemen Transportasi Angkatan 2018), Adam Faishal (mahasiswa prodi Manajemen Logistik angkatan 2018) dan Erwin (mahasiswa prodi Manajemen Logistik angkatan 2018).

Konsep dan Teknologi Tempat Olahan Sampah di Sumbernya (TOSS):
Proses TOSS dikenal dengan proses peuyeumisasi atau biodrying, dimana setelah sampah dikumpulkan dalam sebuah bak bambu kemudian diberi bioaktivator dalam waktu 3-5 hari.
Pemberian bioaktivator agar sampah mengalami proses fermentasi seperti pembuatan makanan khas Sunda “peuyeum” (tape) yang bertujuan untuk mempercepat terjadinya penguraian.
Sampah perlahan akan melapuk hingga akhirnya mengering dengan kelembaban tertentu dan volume sampah akan berkurang hingga 50%. Pada saat inilah sampah yang diproses peuyeumisasi siap menjadi bahan pembuat pelet dan siap untuk dicacah hingga halus.
Rata-rata nilai kalori pada raw material tersebut adalah 3.300 – 4.000 kcal/kg tergantung jenis sampah yang dihasilkan (telah dilakukan uji Proximte & Ultimate di Sucofindo dan Tekmira ESDM).
Nilai kalori pada raw material tergantung pada karakter sampah yang dikumpulkan, setiap lokasi akan berbeda tergantung dominan jenis sampah domestik.
Untuk proses pencacahan tim TOSS PT Comestoara telah melakukan penelitian terhadap jenis mesin cacah yang cocok dengan jenis sampah contohnya di Klungkung, Bali.
Mesin cacah tersebut yang menjadi standar bagi proses pencacahan agar memenuhi kriteria pembuatan pelet sebagai bahan bakar.
Pelet Bakar Tergantung Komposisi Sampah:
Proses peletisasi adalah tahapan akhir dari rangkaian proses TOSS, namun masih membutuhkan proses penyempurnaan, dikarenakan pelet bakar dibutuhkan standarisasi raw material secara ajeg agar dapat digunakan sebagai co-firing bersama batu bara untuk kebutuhan PLTU.
“Berdasarkan hasil penelitian, komposisi sampah sangat menentukan kualitas dari pelet untuk bahan bakar,” kata ketua Tim PM, Rachmawati Wangsaputra.
Oleh karenanya dibutuhkan observasi dan juga uji laboratorium untuk mengetahui kualitas pelet, lanjut Rachmawati.
Pemanfaatan saat ini pelet bakar telah dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kompor rumah tangga (full biomassa), untuk kebutuhan gasifier dimana pelet bakar dikonversi menjadi syntetic gas yang dapat digunakan sebagai substitusi gas LPG dan juga dapat menjadi substitusi solar pada diesel engine; serta co-firing.
Konsep pentahelix sangat mewarnai kegiatan Pengabdian Masyarakat ITB 2021 kolaborasi STIMLOG dan PT Comestoarra dimana Academic – Business – Government – Community dan Media saling berinteraksi dalam mewujudkan tujuan.
Penggunaan website sebagai pusat informasi dan komunikasi sangat memungkinkan dalam mensosialisasikan konsep PM secara online terutama dimasa pandemi COVID-19 ini yang cukup menyulitkan untuk bertemu tatap muka.
Adanya Komunitas Peduli Lingkungan yang dapat diakses baik oleh mahasiswa STIMLOG mahasiswa ITB atau pun mahasiswa atau masyarakat manapun untuk terlibat dalam Gerakan Peduli Lingkungan ini.
“Pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk memaksimalkan konsep TOSS, yaitu sampah habis diolah di sumbernya, di seluruh Indonesia, dimulai dengan kota Mataram dan di kota Bandung sebagai objek penelitian dan terutama meningkatkan jumlah ecopreneur sampah di Indonesia,” jelas Rachmawati.

Desain Sistem Distribusi Sampah dan Alat Pemrosesan Sampah:
Salah satu lokasi Balai Pelatihan Ecopreneur Sampah di RT 03 RW 23 Kelurahan Cibeunying Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung dikoordinasi oleh Ervan Soleh warga RT 02.
Sistem distribusi sampah dengan prinsip Waste Biomass-to-Energy Supply Chain (WBSC) atau rantai pasokan limbah biomassa ini mengupayakan 50 KK dikelola dengan baik yang merupakan warga RT 01, RT 02 dan RT 03 lingkungan RW 23.
Semula, sampah hanya sekedar dipungut, dikumpulkan, dibakar dan ditimbun pada tempat pengumpulan sementara tanpa dikelola.
Sebagian sampah yang teridentifikasi berasal dari sampah rumah tangga atau sampah dapur bahan makanan yang di konsumsi, seperti kulit sayur dan buah, cangkang telur, tulang ikan, tulang ayam, dan sebagainya. Sedangkan sampah anorganik adalah sampah seperti plastik, kardus, kertas, hingga barang elektronik dan pecahan kaca.
Dengan adanya pelatihan dari pengabdian masyarakat, Ervan Soleh secara tidak langsung merubah mainset bahwa sampah bisa menjadi sahabat jika dikelola dengan baik.
Dengan menggunakan gerobak, sampah dipungut oleh Ervan Soleh dengan jadwal Hari Senin dan Kamis guna menjangkau dari rumah ke rumah yang kondisi jalannya berukuran rata-rata 1 meter atau bisa dibilang sebagai jalan setapak.
Kemudian sampah yang terkumpul dipilah dan dipilih di Balai Pelatihan agar terpisah antara sampah organik dan sampah anorganik guna mempersiapkan pemgelolahan selanjutnya.

Sampah organik mengalami proses fermentasi agar menarik lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Lalat Tentara Hitam menitipkan telurnya ditempat yang sudah disediakan pada ember. Telur yang menetas menjadi larva Maggot.
Apabila dalam sampah organik telah didominasi oleh Maggot, maka lalat rumah atau lalat hijau tidak akan bertelur di tempat tersebut.
Secara alamiah, Maggot akan mengeluarkan senyawa kimia yang mencegah lalat rumah untuk bertelur di tempat sampah organik tersebut berada sehingga sampah tidak menimbulkan bau menyengat.
“Selama masa hidupnya larva Lalat Tentara Hitam atau maggot ini memakan makanan yang bersifat organik, dan ini dapat dimanfaatkan untuk menekan limbah atau sampah organik yang sudah lama menjadi masalah serius di lingkungan RW 23,”ungkap Ervan Soleh.
Menurut arahan dari narasumber PM bahwa kemampuan Maggot dalam melahap makanan organik ini sangat fantastis, dari jumlah 10.000 larva dapat menghabiskan 1Kg (satu kilo gram) makanan organik dalam waktu 24 jam.
Jika satu ekor BSF betina dapat menghasilkan minimal 500 telur, maka hanya dibutuhkan 20 ekor BSF betina yang bertelur untuk menghasilkan 10.000 larva untuk mereduksi 1Kg sampah organik setiap hari.
Maggot BSF ini memiliki nutrisi yang baik, kandungan protein tinggi dan asam amino yang lengkap sehingga digunakan sebagai sumber pakan alternatif yang baik untuk sejumlah hewan ternak seperti jenis unggas ayam petelur, ayam pedaging, burung puyuh dan ikan, serta sejumlah binatang peliharaan seperti iguana, burung berkicau.
“Hasil luaran dari penelitian pengabdian masyarakat, Maggot yang sudah berbentuk tepung dapat mengurangi ketergantungan peternak pada protein dari tepung ikan dan tepung kedelai yang harganya semakin mahal dan terbatas ketersediaannya, ujar Ervan.
Selain keuntungan dapat mengurai sampah organik, menjadi pupuk dan sebagai pakan ternak dari Maggot, bila dalam lingkungan terdapat populasi lalat BSF mampu mengurangi populasi lalat rumah atau lalat hijau yang merugikan.

“Apabila dalam sampah organik telah didominasi oleh Maggot, maka lalat rumah atau lalat hijau tidak akan bertelur di tempat tersebut. Secara alamiah, Maggot akan mengeluarkan senyawa kimia yang mencegah lalat rumah untuk bertelur di tempat sampah organik tersebut berada,”ungkap kembali Ervan Soleh.
Terpilah dan terpilihnya sampah dari warga berupa dedaunan berbagai macam jenis tanaman, sekaligus membawa batang dan rantingnya diproses dengan metode peuyeumisasi memberikan cairan bioaktivator agar mengalami proses fermentasi selama 3-5 hari.
“Kami akan terus melakukan eksperimen saat membuat pelet bakar usai sampah mengalami peuyeumisasi,” kata Ervan.
Untuk sementara dalam mencetak pelet bakar masih secara manual dengan memberi cairan tepung kanji sebagai perekat yang selanjutnya dikepal dengan ukuran tertentu hingga mengalami kepadatan tertentu.
“Dari berat 1Kg sampah setelah dicacah, kami akan mengukur menjadi berapa cetakan. Karena dengan kepadatan tertentu akan mempengaruhi jumlah sampah habis hingga berapa banyak sampah yang dibutuhkan,” jelas Ervan Soleh.
Begitu juga dengan perlakuan sampah untuk dijadikan Briket Bakar, akan mengalami proses cetak yang sama saat proses membuat pelet bakar, namun yang bedakan adalah kebutuhan mesin oven yang panasnya masih belum stabil agar menghasilkan sisa pembakaran yang diinginkan.
“Kami merasa bersyukur dengan adanya pengabdian masyarakat dari kolaborasi ITB STIMLOG dan PT Comestoarra, sampah yang tadinya oleh warga dibuang sembarangan baik dipinggir jalan dan di sungai, kini sudah mulai dapat dikelola ditempat, sehingga sampah tidak keluar dari lingkungan RW 23,” ujar Ervan.
Selain itu, tambah Ervan, dari sampah juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi lain yang lebih murah untuk urusan dapur.
Bila proses pembuatan pelet bakar dan briket bakar dapat lebih sempurna dengan ditunjang mesin cetak, kami yakin akan dapat prospek ekonomi memenuhi permintaan komersial sebagai penyedia energi alternatif pembangkit listrik, tambah Ervan.
“Belum lagi prospek ekonomi bila nantinya hasil luaran dari penelitian seperti Maggot sebagai solusi dalam mengelolah sampah organik mempunyai keuntungan menjadi solusi menangani sampah organik berbasis serangga yang menguntungkan,” pungkas Ervan Soleh.***