Bandung Side, Kabupaten Cirebon – Tetap bebas berekspresi di masa pandemi Covid-19 berdampak pada perubahan kebiasaan masyarakat sehari-hari. Misalnya, masyarakat jadi lebih terbiasa untuk mencuci tangan dan memakai masker setiap sebelum dan sesudah beraktivitas.
Di dunia digital, orang-orang merasa bebas dalam mengekspresikan dirinya, seperti pandangan politik, kesukuan, identitas dan gender, seksualitas, keagamaan, dan lainnya. Di sini kita sangat bebas untuk mengungkapkan apapun, tetapi dalam mengekspresikannya harus menggunakan etika.
“Di setiap tempat atau situasi pasti ada yang namanya aturan atau etika. Karena dengan etika kita dapat dihormati oleh orang lain. Jadi, enggak sebebas kita mengekspresikan dan harus punya batasan etika,” ujar Rendi Saeful Ajid sebagai relawan TIK Jawa Barat saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (10/11/2021).
Rendi menyampaikan, apabila kita mengekspresikan diri tanpa etika, ada ancaman kebebasan berekspresi yang terjadi. Di antaranya, pidana akibat pelanggaran UU ITE, pembatasan akses, bullying, intimidasi, ujaran kebencian, kejahatan siber, pelanggaran privasi, hingga hoaks. Banyak orang melakukan perundungan tanpa etika karena anonimitas di media sosial sehingga merasa tidak dikenali dan tidak bisa dilacak. Ketimbang melakukan hal-hal negatif seperti ujaran kebencian, lebih baik melakukan hal-hal yang positif.
Selain itu, akibat kebebasan berekspresi tanpa etika di ruang digital, banyak orang yang diberhentikan dari pekerjaannya karena postingan-postingan tersebut. Setiap pesan yang kita kirim dapat dengan mudah tersebar dan menentukan hidup seseorang di luar sana. Pikirkan setiap konten-konten yang ingin kita sebarkan di ruang digital.
“Gunakan dunia digital untuk hal positif. Sharing ilmu dan informasi positif, membuat konten-konten positif seperti tutorial,” ungkap Rendi.
Dalam membangun kebiasaan positif kita juga bisa mengikuti forum atau komunitas digital dengan interaksi positif. Lebih baik lagi jika kita memanfaatkan ruang digital ini untuk mempelajari dan menambah kemampuan digital baru yang akan berguna dalam mempermudah aktivitas atau pekerjaan kita.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (10/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Michael Sjukrie (PADI Course Director), Adi Permana Sidik (Dosen Prodi Ilmu Komunikasi), Chiara Chiasman (Co-Founder of Finest Sangjit), dan Maichel Kainama sebagai Key opinion leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***