Bandung Side, Kab Indramayu – Mengutamakan etika sebagian besar kehidupan kita saat ini telah dipengaruhi oleh teknologi digital, kita harus menyesuaikan diri, termasuk di dalamnya dalam penggunaan etika di ranah digital.
Etika digital adalah kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital dalam kehidupan sehari-hari.
Meski etika digital bukan sesuatu yang tertulis dan mengikat, tetapi lebih kepada kebiasaan sosial kita. Hal yang masuk ke dalam etika digital adalah niat, sikap, dan perilaku diri.
Pertama, niat yakni berupa keinginan atau kehendak yang diikuti oleh tindakan atau perilaku. Artinya, sebelum kita melakukan tindakan hal tersebut sudah ada dalam pikiran kita.
Kedua, sikap yakni bagaimana pendapat atau penilaian orang terhadap hal terkait, misalnya hal yang sedang terjadi atau dibicarakan.
Sementara perilaku etis ini mencerminkan keyakinan seseorang terhadap norma sosial yang diterima secara umum.
“Gunanya etika digital untuk meningkatkan kualitas kemanusiaaan. Ini berarti ketika seseorang menerima informasi asing bisa menjadi tolok ukur untuk mengukur kualitas baik dan buruknya,” ucap Bayu Surapati, IT Support Development Program dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (03/11/2021).
Selain itu, sebagai penyelaras di kehidupan multikultural. Dengan itu akan timbul rasa saling menghormati dan menghargai.
Kemudian, sebagai refleksi kehidupan bermasyarakat di mana manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup sendirian.
Bayu menuturkan, mengutamakan etika digital dianggap penting untuk menghindari multitafsir, permusuhan, kejahatan, dan perpecahan.
Tujuan utamanya ialah untuk menjaga stabilitas kedamaian dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat.
“Hal yang harus diperhatikan, kita harus cerdas, kritis karena informasi yang masuk ke kita belum tentu benar adanya. Kita tidak boleh berpendapat atau berkomentar negatif di luar koridor atau kemampuan kita,” tutur Bayu Surapati.
Di samping itu, ada hal yang harus dipertimbangkan juga sebelum kita berpendapat di ruang digital, yaitu dampak yang akan terjadi, kehidupan bermasyarakat, hubungan di lingkungan pekerjaan, emosi, dan karakteristik lingkungan kita.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (03/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Didno (Ketua RTIK Indramayu), Sukadi (SMK NU Cantigi Indramayu), Chiara Chiasman (Co-Founder of Finest Sangjit), dan Clarissa Purba sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***