Bandung Side, Kabupaten Karawang – Memahami dampak negatif media sosial menghapus batasan-batasan manusia sebagai dasar untuk bersosialisasi, terlalu over expose yang nantinya menimbulkan perundungan.
Batasan ruang maupun waktu dengan media sosial ini manusia dimungkinkan untuk berkomunikasi satu sama lain dimanapun mereka berada juga kapanpun tidak peduli jarak sejauh apapun, siang maupun malam.
Tanzela Azizi, guru SMK Taruna Bakti, mengatakan, media sosial juga dapat berdampak besar pada kehidupan kita saat ini.
Seorang yang dulunya mungkin bisa dibilang kecil atau tidak terkenal dengan seketika dapat terkenal.
Dulunya orang terkenal di sosial media itu bisa jadi bisa jatuh juga.
“Contohnya, dulu sempat viral anak penjual Jalakote korban bully. Banyak netizen yang simpatik hingga viral. Dia dapat beasiswa dan motor dari pejabat. Dia yang dulunya bukan siapa-siapa tapi ketika viral di sosial media karena di-bully langsung naik derajatnya dari yang tadinya bukan siapa-siapa jadi seseorang,” ungkap Tanzela Azizi dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Senin (02/11/2021) siang.
Ada juga selegram, Dayana yang sempat bermasalah dengan netizen Indonesia, karena menghina Indonesia.
Seketika followersnya turun sampai dia harus minta maaf supaya followersnya kembali lagi banyak.
Itu merupakan dampak nyata bagi seseorang. Dampak lainnya bagi para pengguna internet, misalnya banyak remaja yang mencari ataupun informasi di media sosial sayang ya tidak sedikit yang salah menangkap informasi dan kurang bijak menggunakan media sosial.
Mereka seakan ketergantungan dan gelisah jika tidak membuka media sosial dari bangun tidur hingga tidur kembali.
Karena terlalu over expose di media sosial, seringkali remaja menjadi korban perundungan siber.
“Komentar netizen terkadang tidak sesuai dengan konten. Hal lain yang dibahas, itu dapat membuat seseorang dapat merasa tersinggung. Maka harusnya ketika aktif di media sosial jangan terlalu serius dan cenderung menanggapi dengan emosi,” tambah Tanzela Azizi.
Seseorang yang ketergantungan dengan dunia digital, berkomunikasi hanya jarak jauh, mereka akan kurang cakap berkomunikasi secara langsung.
Mereka saat bertemu tatap muka langsung akan canggung dan kurang nyaman. Dampak buruk media sosial lainnya yakni membuka kesempatan seseorang untuk merasa iri dengan kehidupan orang lain.
Tidak masalah jika termotivasi untuk melakukan lebih baik lagi tapi yang tidak diinginkan ialah ketika seseorang sudah iri terhadap kehidupan orang lain hingga berdampak psikis.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa (02/11/2021) siang, juga menghadirkan pembicara, Salimunajad (Guru SMKN 1 Karawang), Tuti Awaliyah (Guru Motivator Literasi Indonesia), Acep Syaripudin (Penggiat Internet Sehat), dan Inayah Chairunissa sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***