Belajar dari Pengalaman Soal Dampak Berita Bohong

belajar dari pengalaman

Bandung Side, Kabupaten Sukabumi – Belajar dari pengalaman, sebagai pemeriksa fakta di Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Bentang Febriliana, pernah terdampak hoaks.

Pada tahun 2019 terjadi perpecahan di masyarakat akibat pemilu.

Dua julukan pun hadir yakni cebong dan kampret. Para tim Mafindo pun tidak luput dari julukan tersebut.

“Di saat kami sedang memeriksa informasi hoaks terkait Jokowi, kami disebut Kampret, sebaliknya jika sedang mengecek berita terkait Prabowo kami disebut Cebong,” ujar Bentang.

“Padahal kami sedang menjalankan tugas, ketika sudah menemukan fakta dan meyakini bahwa ini hoaks kami akan sebarkan kepada masyarakat,” ujar Bentang Febriliana saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (05/11/2021).

Kehadiran dua kubu yang muncul karena Pemilu dapat semakin terpecah dan memanas jika ada kehadiran hoaks.

Karena mereka kan selalu menganggap orang yang tidak percaya berita yang berkembang itu menjadi kubu lawan mereka. Sehingga dengan semaunya memberi label pada orang lain.

Kemudian, dampak hoaks juga dapat membuat kebingungan. Kita kini memasuki era post truth dimana zaman tidak lagi berasal dari kebenaran.

Kini informasi terkadang berdasarkan dari siapa yang menyampaikan.

Akibat kita percaya dengan orang tersebut atau orang yang kita percaya sehingga kita langsung percaya. Padahal belum tentu informasi itu benar.

Sehingga kebingungan juga akan terjadi, harus mempercayai informasi sesuai fakta atau orang yang sudah menyampaikannya karena kita terlanjur percaya dengan sosoknya.

Dampak hoaks juga dapat menebar ketakutan, ini biasanya terjadi setelah adanya bencana alam.

Hoaks mengenai gempa susulan atau tsunami susulan. Ketakutan lagi misalnya soal penculikan anak.

Memang membuat orang menjadi waspada namun tidak jarang malah membuat para orangtua menjadi takut. Hoaks juga dapat merusak reputasi seseorang.

“Fitnah memang terkadang membuat citra seseorang menjadi buruk. Karena sudah banyak orang yang percaya,” ucap Bentang.

Informasi yang sudah berkembang memang lebih sulit untuk diklarifikasi. Maka dari itu, seseorang yang sudah terkena hoaks akan selalu melekat,” ujar Bentang Febriliana.

Parahnya hoaks juga bisa mengakibatkan kematian jika sudah menyangkut kesehatan juga keselamatan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (05/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Fiqri Hasan (Relawan TIK Sukabumi), Chiara Chaisman (Analyst Merchandiser), dan Azzahra Karina sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan