Bandung Side, Kabupaten Indramayu – Masyarakat bertransformasi yang saat ini sedang beralih menjadi masyarakat digital, tidak sepenuhnya siap menghadapi transformasi digital.
Hal ini berakibat pada munculnya hate speech yang berpotensi menimbulkan perpecahan.
Virgina Aurelia, Founder divetolive mengatakan, kita harus paham dan menjadi masyarkat digital yang berbudaya untuk menghindari perpecahan tersebut.
Sangat disayangkan apabila kehadiran teknologi yang memudahkan menjadi pemicu perpecahan.
Oleh karena itu, kita harus kembali menerapkan nilai kebudayaan Indonesia di ruang digital.
Budaya sendiri merupakan sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang dan maju. Jadi, bukan hal yang tiba-tiba muncul begitu saja.
“Budaya kita dari awal itu Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Tetapi, kepercayaan kita kepada Pancasila itu mulai menurun,” ucap Virgina Aurelia,
“Padahal, kita harus ingat di mana kita adalah negara multikultur,” ungkap Virginia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (09/10/2021).
Nilai-nilai yang perlu diingat dari dasar Pancasila adalah ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.
Suku, agama, ras, dan antargolongan jangan sampai menjadi bahan perpecahan di masyarakat bertransformasi kita menuju masyarakat digital.
Virgina Aurelia mengimbau, di ruang digital, harus diingat kita tetap berinteraksi dengan manusia meski di balik layar.
Jangan sampai karena kita berbeda pendapat jadi menimbulkan keributan.
“Cara terbaik untuk tetap hidup dalam kedamaian adalah saling memahami, menghargai, dan bukan membenci perpecahan,” ungkap Virgina Aurelia.
Budaya digital adalah masyarakat berbudaya yang mempunyai pikiran dan akal yang maju terhadap budaya Indonesia.
Saat ini, tidak dapat dipungkiri teknologi berkembang dengan pesat dan membentuk masyarakat digital.
Untuk menjadi masyarakat digital yang berbudaya, kita tetap membutuhkan upgrade skills. Kita juga perlu menguasai pilar kecakapan, etika, dan keamanan digital.
Di samping itu, kita harus menghargai budaya dan mempromosikan budaya sendiri.
“Kita perlu menghargai budaya Indonesia, jangan sampai negara kita kehilangan jati dirinya,” pungkas Virgina Aurelia.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (09/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Arya Shani Pradana (CEO & Founder Tekape Workspace), Eunike Iona Saptanti (Trainer & Educator), Didno (Ketua RTIK Indramayu), dan Martin sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***