Bandung Side, Kabupaten Indramayu – Fokus utama kita pada era revolusi industri 4.0 ialah mengedepankan teknologi dalam kegiatan sehari-hari adalah jejak digital.
Kita pun berada pada kondisi Internet of Things (IOT), di mana kita bisa mematikan lampu via gadget, dan lain sebagainya.
Sebagai pengguna internet, banyak dari kita yang turut berkontribusi di era digital terutama dalam perihal bermain media sosial.
Akan tetapi, kita sering tanpa sadar meninggalkan jejak digital yang negatif dalam penggunaanya.
Rekam jejak digital adalah jejak yang kita tinggalkan di dunia digital, jejak digital ini terbagi atas aktif dan pasif.
Jejak aktif ini ditinggalkan secara sengaja seperti pada postingan kita.
Sementara jejak pasif merupakan jejak yang tidak sengaja ditinggalkan ketika mengakses internet, yaitu alamat IP, lokasi akses, dan riwayat pencarian.
“Dua-duanya ini menimbulkan permasalahan,” kata Benito.
Kasus-kasus belakangan ini ada perusahaan yang kebocoran data penggunanya.
“Kalau jejak aktif lagi maraknya orang ketahuai upload konten yang kurang baik di medsos mereka,” ungkap Benito sebagai key opinion leader dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (25/10/2021).
Dari sekian banyak bahayanya, ketiga hal ini yang paling sering terjadi pada kasus rekam jejak digital.
Pertama, reputasi seseorang karena orang lain bisa melihat kita hanya melalui media sosial. Ketika kita sering mengunggah hal-hal negatif maka akan mempengaruhi reputasi kita di dunia nyata.
Kedua, phishing sebagai teknik pencurian data pribadi. Terkadang, kita tidak memperhatikan data-data pribadi yang akan membahayakan keselamatan kita. Ketiga, digital exposure atau paparan digital yakni nama kita yang muncul di internet baik positif atau negatif.
“Jangan pernah mengupload konten yang bersifat bukan untuk konsumsi publik. Sebisa mungkin saring dan berpikir berulang kali sebelum mengupload konten. Dampaknya bagi orang lain dan diri sendiri,” jelas Benito.
Benito mengatakan, kita bisa melatih diri untuk fokus utama membangun jejak digital yang positif.
Edukasi dan hiburan bisa menjadi salah satu opsi konten karena bisa bermanfaat bagi orang lain.
Selain itu, lanjut Benito, kita bisa fokus untuk mengembangkan diri kita di dunia digital.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (25/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Anthony Sudarsono (CEO First Class Property), Andro Hartanto (Co-Founder IOJIN), Muhammad Miftahun Nadzir (Dosen Entrepreneurship Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), dan Yoseph Hendrik (Dosen Informasi dan Teknologi Sekolah Tinggi Tarakanita).
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***