Bandung Side, Kabupaten Bandung – Daya tarik media digital saat mendidik anak di era digital seperti saat ini memang menjadi tantangan sendiri bagi orang tua zaman sekarang.
Selain mereka harus mengawasi anak di kehidupan sehari-hari, sekarang juga harus ditambah dengan mengawasi anak-anak mereka di dunia digital.
Menghindari, anak-anak melihat konten dewasa, melakukan perilaku negatif seperti cyberbullying hingga pelecehan.
Memang tidak dapat dipungkiri jika dunia digital memiliki daya tarik yang kuat sehingga membuat anak sangat nyaman berada di dalamnya.
Leili Kurnia Gustini, sekretaris umum ASPIKOM Jawa Barat mengatakan alasannya karena dengan budaya digital mereka dapat menyatakan eksistensi diri dengan mengomentari foto diri ataupun teman-teman mereka di media sosial.
Dapat mendekatkan diri dengan follower dan friends melalui aktivitas dengan memberi komen atau chatting setiap saat tidak mengenal waktu.
“Mencari informasi terkini karena keingintahuan mereka kerap muncul pada usia anak dan remaja,” kata Leili Kurnia Gustoni.
Kini mereka dapat mudah mencari tahu hanya dengan membuka Google.
“Di internet pula mereka bisa mencari teman yang memiliki minat yang sama serta menyalurkan minat dengan mencari informasi dan terlibat dalam aktivitas online,” jelas Leili Kurnia Gustini saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (08/10/2021) pagi.
Anak juga dapat berkreasi lebih dan mengunggah hasil aktualisasi mereka dalam bentuk foto, lagu, video atau apapun berupa konten yang dapat dibanggakan.
Tentunya daya tarik media digital sebagai sarana hiburan termasuk bermain game.
Sementara itu, media sosial juga tidak kalah menariknya. Penyebab anak dan remaja menggemari media sosial.
Leili mengatakan, faktor utama terkadang mereka hanya sekedar ikut-ikutan karena teman-teman seusia mereka sudah memiliki akun media sosial.
Pada jenis media sosial seperti Instagram, YouTube, Facebook memiliki fitur yang memungkinkan anak dan remaja untuk membuat konten dengan mudah dan bisa ditanggapi secara langsung oleh teman-teman mereka.
Sebaliknya mereka juga dapat menanggapi konten yang dibuat oleh teman-teman.
“Media sosial juga dianggap sebagai pemberi wadah untuk berpartisipasi dalam komunitas yang sesuai dengan minat mereka,” kata Leili Kurnia Gustini.
Tentunya media sosial dapat memberikan hiburan bukan hanya dari segi game tapi juga konten-konten yang lucu dan menarik.
“Terkadang dijadikan inspirasi mereka untuk membuat konten serupa,” tutup Leili Kurnia Gustini.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi.
Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Jumat (08/10/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara, Tim Hendrawan (Creative Director), Ismita Saputri (Founder Kainzen Room), Rony Setiawan (Tenaga Didik), dan Aflahandita sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.
Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***