Menangkal Hoaks dari Gangguan Informasi di Ruang Digital

menangkal hoaks

Bandung Side, Kabupaten Tasikmalaya – Menangkal hoaks merupakan suatu tindakan guna meluruskan yang salah atau tidak masuk akal dan dipercaya atau diterima sebagai sesuatu yang benar.

Gangguan informasi terkait dengan hoaks menimbulkan misinformasi, disinformasi, dan malinformasi.

Misinformasi ialah informasi tidak benar namun orang yang menyebarkannya percaya bahwa informasi tersebut itu benar.

Sementara, disinformasi ialah informai tidak benar namun orang yang menyebarkannya juga tahu bahwa itu merupakan informasi tidak benar.

Kemudian, malinformasi ialah sepenggal informasi yang benar namun digunakan dengan niat untuk merugikan orang atau kelompok tertentu.

“Sebagai netizen yang baik kita perlu mengetahui dan mengenali ciri hoaks,” ujar Arif Setiadi seorang relawan TIK wilayah Jambi, saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (1/9/2021) siang.

Mengenali hoaks ini mudah untuk dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut:
1. Periksa kredibilitas alamat url/situs, pastikan alamat situsnya sesuai.

2. Periksa halaman tentang situs website yang menampilkan informasi tersebut. Lihat juga secara keseluruhan berita atau informasi yang ada dalam web tersebut apakah keseluruhannya provokatif dan mengandung hoaks.

3. Periksa kalimat-kalimat dalam berita tersebut, apakah provokatif dan menyuruh orang untuk membagikannya.
4. Cross check berita serupa di mesin pencarian mulai dari foto dan topik berita.

Ciri hoaks lainnya, biasanya informasi membuat pembaca menjadi emosional, berupa pesan berantai, tidak menyertakan link sumber atau bukti informasinya, sumber yang dicantumkan merujuk pada situs abal-abal, informasi tidak logis dan banyak terdapat typo.

“Hoaks ini banyak yang tidak memiliki bukti otentik terhadap sumber informasinya. Mengenali dan mencirikan hoaks menjadi sikap bijak dalam bermedia digital,” jelas Arif Setiadi.

Dalam mencegah terpapar hoaks dan menangkal hoaks agar tidak cepat tersebar, dapat dilakukan dengan selalu cek fakta yang ada melalui situs-situs yang disediakan, seperti cekfakta.com, stophoax.id, atau turnbackhoax.id.

Selain mengecek, melalui website-website tersebut kita juga bisa melaporkan hoaks yang didapatkan.

Arif Setiadi mengatakan, selalu saring setiap informasi yang kita dapatkan sebelum membagikannya. Membaca keseluruhan informasi serta berpikir kritis, gunakan pikiran yang logis saat menerima suatu berita atau informasi.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (1/9/2021) siang, juga menghadirkan pembicara Oktavian Jasmin (COO of Prospero Food), Sisi Suhardjo (General Manager IRIS PR), Mardiana RL (Vice Principal in Kinderhouse School), dan Shinta Putri sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital.

Kegiatan literasi digital ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***

Tinggalkan Balasan